
Semua pion di hutan kegelapan di suatu tempat yang tidak kasat mata, mereka mencoba berlatih dengan semua ketua dari setiap klan.
Mencoba untuk membentengi dan memperdalam semua bela diri, ketangkasan, dan kecepatan mereka di dalam menghadapi musuh.
Sementara Kabir dan semua pion pria bergerak mencoba untuk menghindari pertempuran lagi, mereka baru saja mencuri di dapur kastil. Sayangnya aksi mereka diketahui salah seorang tentara Alberto, sehingga pertempuran tidak terelakkan lagi.
Darmanto, dan Junaid berlari ke arah berlawanan dari gua air terjun, Kabir dan Heru masih di dalam kastil mereka masih di lorong panjang pentilasi udara.
Mereka melihat semua tentara di bawah mereka berbaris berlarian karena gaungan alarm bergema memecah kesunyian malam, mereka terus berjalan dan berlahan keduanya pun tidak tahu sudah berada di kastil bagian mana.
Mereka hanya mencoba mengikuti alur dari pentilasi, hingga mereka sampai di suatu pembuatan silikon berbentuk wajah-wajah. Seorang wanita berpakaian putih-putih bersarung tangan dan sebuah pisau bedah, mencoba untuk mengukir semua wajah di sebuah lembaran-lembaran karet silikon.
Ia menaruhnya di sebuah manekin, Heru dan Kabir saling berpandangan. Keduanya hanya diam dan mengangguk, mereka melihat seseorang memakainya untuk mencoba dan sangat mirip dengan seseorang yang mereka tidak kenali,
kemudian si wanita pembuat membukanya dan memilih topeng wajah silikon yang mirip dengan Hendro, Kabir, dan banyak lagi baik para pion dan para sandera seperti Nisa putri Heru dan Ibu Kabir dan adik perempuanya.
Kabir dan Heru seketika merasakan, suatu kerinduan dan kesal bercampur aduk. Kini, mereka menyadari sesuatu hal berlahan mereka beringsut ingin meninghalkan ruangan ingin menuju ke tempat gua persembunyian.
Keduanya ingin mengatakan semua kebenaran, bahwa selama ini mereka hanya dijebak dan dibodoh-bodohin atas nama sandera hingga mereka bertahan hidup dan terus berjuang untuk hal yang tidak pernah ada.
Alberto memang benar-benar pintar, untuk mengecoh dan mempermainkan sebuah perasaan manusia di Pulau Kematian.
Ia mencoba untuk menarik sebuah rasa lahiriah manusia yaitu, sebuah rasa kasih sayang dan tanggung jawab terhadap keluarga mereka yang disandera
Mereka terus menyusuri sebuah ruangan lain lagi, keduanya melihat 2 orang tentara memasukkan mayat-mayat yang sudah tidak terpakai lagi karena semua organ mereka telah diambil,
kedua tentara memasukkan semua mayat ke dalam sebuah krematorium.
Laksana seperti sampah tanpa adanya upacara keagamaan apa pun yang mereka lakukan,
__ADS_1
Keduanya terdiam membeku mereka masih saja terus merangkak.
Mereka melihat Crabs dengan tangan besinya, mengoperasi sebagian mayat dan menanam anggota tubuh yang terbuat dari besi ke tubuh-tubuh hatter.
Mereka mengamatinya cara Crabs mengaktifkan semuanya, ia menanam chip di bagian tengkuk si mayat dan memasang dua lempengan plat besi di kedua pelipis si mayat.
Kemudian si mayat seperti memiliki gelombang kejut dan tubuh mereka bergetar dan bergerak, mayat yang bangkit menatap ke arah lubang pentilasi yang tertutup.
Seketika Kabir ada Heru menyembunyikan wajah mereka dari kisi-kisi pentilasi, mereka kini mengerti bahwa para hatter yang setengah robot mengandalkan hawa panas dan suara dari sekitarnya.
Crabs memandang pentilasi dan berusaha untuk memberi perintah, "Carilah, musuhmu! Dengan indra penciuman dan suara, tunjukkan kebolehanmu!" perintah Crabs.
Si hatter setengah robot berjalan dengan berat dan klontangan di tubuhnya yang sebagian terbuat dari besi, ia mengkokang senjatanya dan menembak tepat di persembunyian Kabir dan Heru dengan membabi buta.
Secepat kilat keduanya merangkak menjauhi peluru, Kabir dan Heru seperti berada di sebuah film Terminator tempo dulu kala. Mereka tidak menyangka hal itu akan mereka alami sendiri,
Kabir dan Heru semangkin kencang merangkak dan menunjang pentilasi lainnya,
keduanya terus merangkak di belakang tubuh mereka, si hatter terus menembakkan senjata lasernya dari lantai di bawah mereka.
Lubang-lubang menganga akibat tembakan si hatter benar- benar membuat celah, "Berikan salah satu granatmu," bisik Heru.
Heru melemparkan sebuah granat di bawah mereka, keduanya merangkak secepat kilat, hingga terhindar dari ledakan. Mereka berharap si hatter yang terus memburu mereka dari bawah tewas,
hingga mereka sampai di sebuah pentilasi yang berputar dengan plat-plat besi yang tajam, seperti kisi pembuang udara dari ruangan kastil yang luar biasa besarnya.
Heru di belakang Kabir mengambil senjata laser, "Merunduklah!" bisik Heru. Kabir mengikutinya dan Heru menembakkan senjata laser dan membuat kisi-kisi itu meleleh dan hancur,
Kabir meluncur ke bawah jatuh ke sebuah tepian lautan ia dan Heru keluar dari pulau kematian.
__ADS_1
Sementara Darmanto dan Junaid berusaha untuk mengecoh para tentara yang mengejar mereka, dengan masuk kembali ke hutan stepa wilayah hatter.
Untuk mengindari Alberto mengetahui persembunyian mereka, Darmanto dan Junaid berusaha agar Toto, Will, dan Zai mampu untuk menyelinap masuk ke kastil dengan mencuri senapan, amunisi, dan juga granat.
Keduanya berlarian tak tentu arah untuk menghilangkan jejak mereka di gua air terjun, mereka melihat sekilas sayap tenggara dari kastil meledak, "Heru dan Kabir," ucap Darmanto.
Di sela larinya keduanya masih sempat menembakkan senjata laser ke arah tentara di belakang mereka, brondongan peluru menghujani mereka. Keduanya secepat kilat berlari zigzag di sela-sela rumput bambu yang lebih lebat,
Keduanya bersembunyi dan menanti, di layar monitor mereka melihat Ayesha dan semua pion dan beeluf di gurun sedang bertempur. Mereka begitu terperangahnya melihat keheroikan semua wanita,
walaupun sedikit senyum melihat Hendro di dalam pakaian wanita, bagian dadanya terguncang-guncang di saat ia menebaskan pedangnya ke tentara yang mencoba melukainya.
Keduanya berulang kali, melihat Hendro berusaha untuk membenarkan letak buntelan kain di dadanya agar tidak melorot dan tetap berada di posisi yang seharusnya.
Seorang tentara berhasil menusukkan bayonet di salah satu dada Hendro yang menonjol, Darmanto dan Junaid menahan napas seketika.
Namun, kekhawatiran mereka terlalu berlebihan, buntelan kain di dada Hendro menyelamatkannya dari kematian.
Darmanto dan Junaid tersenyum, "Ternyata mengerikan sekali, aku baru sekali ini melihat semua sahabat kita begitu luar biasanya. Lihatlah! Ayesha .... " ucap Junaid.
Ia melihat Ayesha membasuh wajahnya dengan darah musuhnya, mereka berdua bergidik membayangkannya. Layar monitor menghilang, keduanya terdiam.
Deritan suara bambu memekakkan telinga mereka berusaha untuk diam dan menantikan musuh mereka, derap kaki mulai memasuki daerah persembunyian mereka.
Junaid sudah bersiap dengan senjatanya, keduanya saling pandang bergerak secepat kilat dan memberondong 5 musuh di depan mereka.
Kembali mereka bergerak lari meninggalkan musuh mereka yang sudah ambruk ke tanah, malangnya salah satu tentara belum benar-benar mati. Ia menembak kaki Junaid, hingga ia tersungkur jatuh.
Darmanto kembali dan menembak mati musuhnya, ia menarik tangan kiri Junaid dan memapahnya. Mereka kembali mencari persembunyian,
__ADS_1