
Yamada tersenyum dengan culasnya, ia memberikan beberapa instruksi dan perintah kepada semua anak buahnya, "Sesuai dengan perintah Alberto Kuro, kita sudah mengamankan semua sandera. Kini kita akan memberikan tontonan yang menarik!" ucap Yamada di dalam bahasa Jepang.
Zai dan Will di tiang pesakitan tidak memahami apa yang dikatakan oleh Yamada, "Andaikan, dulu aku serius belajar bahasa Jepang. Aku pasti dengan mudah memahaminya tidak serumit, ini?" ujar Zai. Ia mengerutkan keningnya,
"Apa yang dikatakan pria berkimono itu, Sukuna?" tanya Will. Sukuna menjelaskan apa yang dikatakan Yamada, "Jadi, kita kemari semuanya hanya kesia-siaan?" tukas Toto kesal.
"Bersabarlah, tidak ada kesia-siaan di dunia ini. Selagi kita memang serius berbuat, apalagi demi sesuatu kebaikan!" balas Zai bijak.
Di angkasa layar monitor virtual Alberto sudah mulai beroperasi, tayangan-tayangan iklan dari awal semua pion diculik dan bertempur hingga beberapa sudah menemui ajal mereka ditayangkan.
Alberto begitu bangganya, menayangkan semua itu. Ia merasa ia adalah seorang Tuhan yang mampu mengambil dengan mudahnya nyawa orang lain, ia membelai tongkat berkepala naganya.
Semua mata di Hutan Kegelapan menengadah memandang ke atas, para pion dan beeluf begitu bersedihnya. Melihat para pion lain yang sudah menemui ajal, walaupun mereka tidak mengenal mereka.
Kini, Alberto duduk didampingi beberapa kaki tangan dan Tuan Crabs di sisinya, "Ayo, mulailah eksekusinya! Bakar para beeluf pengkhianat dan pion!" perintah Alberto.
Ia menatap dengan tajam ke arah Will dan para tawanan, yang ditatap tidak sedikit pun bergeming. Apalagi merasakan sebuah ketakutan, Alberto begitu murkanya.
Akan tetapi, ia berusaha untuk menarik simpati para penonton dan penjudi di seluruh belahan dunia, agar orang-orang mengenal bahwa dirinya adalah seorang yang berbudi dan jutawan yang baiknya luar biasa.
Seorang ninja membawa jerigen minyak menuangkan ke sekeliling kayu bakar, kemudian seorang lagi membawa sebuah obor. Ia ingin memasukkan obor ke pembakaran kayu,
"Tunggu! Mari kita tanyakan sekali lagi. Aku sangat menyayangi anak-anakku, aku tidak ingin melukai mereka." Alberto menyeka matanya dengan sapu tangan,
"apakah mereka ingin menjadi pengikutku yang setia? Dan tidak melanggar peraturan lagi? Kecuali para beeluf, aku tidak memaafkan mereka!" balas Alberto dengan tegasnya.
__ADS_1
Ia memandang ke arah pion yang terikat berkeliling di tiang pesakitan, kemudian Alberto memandang ke arah Yamada.
Yamada maju, ia melangkah dengan teplokan bakiaknya yang memecah kesunyian, "Apakah kalian ingin menyerah, sekarang? Selagi Tuan berbaik hati kepada kalian!" ucap Yamada,
"dan menjadi pengikut Tuan Alberto Kuro yang sangat setia?" sambungnya. Ia memandang kesemua orang, bakiaknya berteplok-teplok di tanah yang masih berembun. Kimononya berwarna hitam melambai-lambai terterpa angin sepoi kala pagi.
Kabut sudah mulai menghilang, akan tetapi mendung mulai datang, "Cuih!" Will meludah ke arah Alberto yang jaraknya berapa meter di bawahnya.
"Lebih baik aku mati terhormat dari pada menjadi anjing suruhannya!" jawab Will murka.
Yamada tersenyum, "Dan Kau?" tanyanya. Ia mengajungkan telunjuknya ke arah Zai, pion bernama Zai sedikit berpikir kemudian tersenyum,
"Bila aku jadi pengikutnya, apakah Alberto juga akan membebaskanku? Atau dia hanya membutuhkan seekor anjing yang dikebiri, di tempat ini. Kebebasan seperti apa? Aku tidak bisa ke mana pun, selain bertarung. Lebih baik, aku mati!" jawab Zai.
Wajah Yamada mengeras dan memerah menahan amarah, "Hahaha! Malangnya nasib pria pecundang sepertimu Yamada, kau tidak lebih dari seonggok, sampah!" ejek Sukuna.
Yamada kembali bertanya kepada Toto, "Hm, aku tidak mau! Di sini tidak ada daging lembu, nasi uduk, pecel lele, dan lontong. Apa artinya hidup bila tidak bisa menikmati hidup itu sendiri, aku bukan budak!" jawab Toto. Ia sangat merindukan semua makanan itu, "Bagaimna Tuan Alberto?" tanya Yamada.
Alberto masih duduk di singgasananya, "Bagimana para petaruh? Apakah keputusan kalian?" tanya Alberto.
Ia memandang melalui monitor virtual lain, di bagian beberapa monitor di sebelah monitor Alberto. Semua orang yang terlihat di kotak-kotak itu saling berkasak-kusuk menekan tombol, di layar besar di angkasa digit kematian semangkin bergerak secepat kilat berubah terus, hingga berhenti pada digit 1M menginginkan kematian para pion dan beeluf.
Yel-yel dan teriakan menggema dari beberapa kotak di angkasa, "Bunuh saja, mereka! Mereka tidak pantas hidup, mereka tidak menginginkan belas kasih dari Tuan Alberto, bodoh sekali!" ucap mereka bergema.
Alberto mengangkat tangan kanannya, semua keributan terhenti. Keheningan di semua kotak-kotak virtual, "Baiklah, aku akan memberikan apa yang kalian mau. Padahal aku sudah berbaik hati ingin mengampuni mereka, Yamada ..., bakarlah mereka! Anak-anakku yang malang!" ucap Alberto.
__ADS_1
Ia menyeka matanya dengan sebuah sapu tangan putih, "Sialan, Alberto ini benar-benar. Musang berbulu domba!" umpat Kabir di balik persembunyiannya.
Semua pion yang bersembunyi sudah menyiapkan senjata mereka untuk maju dan bergerak, seorang ninja berpakaian hitam kembali memasukkan obor ke kayu bakar.
Api menyala seketika, menari-nari ke menjilat ke angkasa, akan tetapi sebuah ledakan beruntun di semua rumah Yamada, membuat bangunan hancur dan terbakar. Para ninja berhamburan dari dalam hancur dan mati terbakar, rumah yang berkelok-kelok dan bersambungan dengan rumah induk telah hancur lebur.
Api menjilat ke angkasa Will, dan semua tawanan merunduk mengambil senjata yang diselipkan Marta di bawah kaki mereka.
Semua tawanan melompati kobaran api, turun menerjang ninja yang membakar kayu dan memasukkan mereka ke api yang membubung tinggi.
Yamada, Alherto, dan semua orang di monitor dan ninja terperanjat, mereka tidak menyangka bahwa semalaman ini mereka sudah bebas. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk bergerak, masing-masing menyerang musuh di depan mereka.
Kabir dan Kirana sudah memasuki pertempuran menyerang para ninja di depan mereka, Darmanto dan Marta pun sudah memasuki areal bertempur dengan ninja berpakaian perak, Sukuna membawa dua samurainya mengejar Yamada di tengah pertempuran.
Nara dan Junaid menyerang dengan melontarkan jarum-jarum beracun dan menebas semua musuh mereka, Ayesha dengan ilmu sihirnya membawa semua ular-ular miliknya memasuki pertempuran, Heru di sisinya menyerang ninja yang mencoba melawan.
Gerombolan hatter memasuki areal pertempuran, di angkasa siaran virtual monitor masih berlangsung semua menonton dengan harap-harap cemas.
Mengikuti semua pertempuran yang dilakukan oleh para pion dan wanita beeluf, Mona dan Hendro menghadapi para hatter.
Kekacauan terjadi di mana-mana
Sukuna menggenggam dua samurainya menghadapi yamada yang membawa samurai panjang dan samurai pendek di tangan kirinya, "Aku sudah menantikan hal ini, Yamada!" ucap Sukuna.
Ia menyerang ke arah Yamada, ting! Trang! Samurai beradu memercikkan bunga api, saling menangkis dan mencoba melukai.
__ADS_1
Sukuna wanita yakuza yang luar biasa lincah, berulang kali ia menyudutkan Yamada. Ia terdorong ke belakang dengan bakiaknya, Yamada begitu lincah bertempur walaupun memakai bakiak.