
Masa kini ....
Di bawah sinar bulan sabit, semua beeluf merah dan putih, para hatter lama dan seorang sisa samurai menyeberangi lautan.
Mencoba untuk menembus terjalnya batu karang dan sebuah harapan untuk kebebasan mereka. Mereka terus mendayung kano,berlahan dan pasti.
Sesampainya di seberang di pinggir pantai berpasir putih dan bebatuan mereka menyembunyikan kano di ceruk-ceruk batu.
Elang Yahmen menuntun mereka ke gua di mana Suku Hideng berada, Sepuh Rayun menantikan mereka.
"Salam, Sepuh!" ujar Yahmen menyalim Sepuh Rayun.
"Baru kali ini aku melihat langsung Yahmen Si Elang Beeluf! Mari, Nak!" ujar Rayun.
Yahmen memperkenalkan, "Sepuh, ini suamiku Aoi. Ini sahabatku Mano dan suaminya Balian, Yura, Ayesha. Dan para hatter lama. Rasna, Sanna, Palki, Ujang dan ada 8 orang lagi."
Yahmen memperkenalkan satu per satu semua orang, kesemuanya menyalim Sepuh Rayun.
"Selamat datang anak-anakku, mari!" ajak Sepuh Rayun.
Mereka memasuki gua beriringan di dalam gua yang sangat luas, mereka menghidangkan teh dan makanan juga buah-buahan.
Semuanya makan dan bertukar cerita. Mereka tidak menyangka jika Alberto pun menghancurkan Pulau Tak Bertuan.
"Apakah para pion sudah pergi ke gedung pertambangan milik Alberto?" tanya Mano.
Ia sudah sangat penasaran, "Iya! Mereka orang-orang yang baik dan sangat luar biasa," ucap Sepuh Rayun.
"Apakah semuanya.baik-baik, saja, Sepuh?" tanya Ayesha.
Ia sangat rindu kepada Heru suaminya. Sepuh Rayun memandnagnya tersenyum, "Kesemuanya baik-baik saja. mereka adalah orang-orang hebat," balas Rayun.
Ayesha tersenyum lega, ia senang mendengar semuanya baik-baik saja. Mereka beristirahat, keesokan siang mereka mulai bergerak berlahan
Menuju gedung pertambangan Alberto, semua berusaha untuk diam dan tidak bersuara. Sepuh Rayun mengatakan.
"Hatter robot mampu mendengar suara dari jarak 3 km, mereka juga memiliki indra mengendus yang sangat jauh.
"Usahakan jangan menyentuh pepohonan, karena ada alarm di setiap pohon." Rayun memberikan semua penjelasan sekecil apa pun.
Semua orang mendengarkan dengan seksama. Pada malam harinya mereka mulai bergerak menyusuri hutan Pulau Tak Bertuan.
Mereka bergerak dengan berlahan berusaha untuk menyusup dengan berhati-hati tanpa menimbulkan kecurigaan dari Alberto sendiri.
__ADS_1
Mereka melihat para pion sudah memasuki gedung. Akan tetapi, Alberto menutup pintu utama membuat para pion terkurung di dalam.
Para tentara dan hatter ingin mengepung pion yang terkurung di dalam gedung. Alberto dan kaki tangannya sudah berhasil menjebak mereka.
Yahmen dan semua orang menyerang hatter robot dan tentara yang berjaga di luar.
Alberto membuat mereka berjaga agar pion yang berhasil lolos mereka bantai di luar sana.
Alberto ingin menghabisi semua pion dan para hater lama juga beeluf, beserta Suku Hideng. Yahmen dan semua orang menyerang dengan kekuatan mereka.
Namun, Alberto benar-benar membuat basecamp semua kekuatannya berada di Pulau Tak Bertuan.
Balian di sisi Mano menggunakan golok yang berkilau yang ia tempa sendiri. Golok hitamnya sudah ia berikan kepada Nara.
Nara yang mendapatkannya dari hatter yang ia bunuh di sungai di lembah hatter untuk pertama kalinya Nara membunuh orang.
Pertempuran begitu sengitnya, Ayesha berusaha untuk memberikan kekuatannya melindungi semua orang yang dekat dengannya begitu juga dengan Yura, Mano, dan Yahmen
Yahmen melarang Ayesha untuk mendekati gerbang dan pertempuran. Yahmen tidak ingin Ayesha terluka.
Aoi dengan samurainya menebas semua musuhnya, mereka sedikit kewalahan dengan hater robot yang sedikit sulit dilumpuhkan.
Suku Hideng membantu dengan sekuat tenaga untuk menghancurkan pintu yang luar biasa kuatnya.
***
Berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan hater robot dan tentara. Hatter mengayunkan pedangnya yang sangat tajam mampu menebas tembok hingga hancur.
Kabir melompat dan memukul dengan samurainya menembus tengkuk musuh. Hatter jatuh tersungkur tewas seketika.
Beberapa hatter maju bergerak, menghadang dan menghujamkan pedang mereka ke arah Kabir dengan segala kekuatan robot mereka.
Kabir melompat ke atas saat semua pedang menuju ke arahnya secara bersamaan. Ia langsung menebaskan pedangnya ke arah leher kelima hatter hingga kepala mereka menggelinding di lantai.
Kabi mendarat dengan berdiri melihat tubuh hatter berjatuhan bak tiang-tiang rubuh.
Kabir melihat Nara kesulitan menghadapi hatter sepuluh orang menyerangnya.
"Sial, Alberto benar-benar membuat kami lelah. Para hatter tidak habis-habisnya," teriak Kabir.
Ia menerjang hatter yang hampir saja menghunuskan pedang laser ke arah pinggang Nara.
Nara terkesiap ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan dari hatter di belakangnya saat ia sangat fokus akan hatter di depannya.
__ADS_1
Mereka membabi buta menghajar hatter robot, "Terima kasih, Kabir!" ucap Nara.
Ia mengayunkan goloknya dengan sekuat tenaganya menebas semua musuhnya. Mereka tidak memberi kesempatan kepada musuhnya agar menyerang mereka.
Mona dan Kirana di samping mereka menebas musuhnya, Mona mengayunkan samurai iblisnya menusuk pelipisnya.
Semua pion dan Suku Hideng berusaha untuk menebas kepala mereka agar tidak berlarut-larut di dalam pertempuran.
Hatter robot tidak mempan ditebas kecuali di tusuk lempengan yang berada di pelipis atau menebas tengkuknya.
Marta dan Darmanto melagakan pedang dan samurai mereka membunyikan suara dengungan, membuat hatter yang berada di sekeitar mereka pusing dan menutup telinga mereka.
Membuat Hendro, Junaid, Meang, Will, dan yang lain mudah menebas kepala mereka.
Mayat hatter telah bergelimangan, sayangnya mereka terlalu sulit untuk menembus masuk ke pintu yang terbuka dan tertutup secara otomatis.
Bila para pion berhasil menghabisi musuh Alberto selalu saja membuka pintunya untuk memasukkan hatter lainnya.
Begitu seterusnya, hingga kelelahan pun mulai merayapi para pion. Semua sudah lelah, hatter kembali menyerang.
Mereka hanya mampu bertumpu kepada pedang di tangan mereka, semuanya sudah mulai terbungkuk mengambil nafas mereka yang telah lelah.
"Sampai kapan semua ini berakhir!" ucap Heru.
Tangannya sudah kebas dan sudah tak berdaya untuk mengangkat pedangnya. Ia mengambil sebuah selendang yang diberikan istrinya Ayesha.
Mengikatkannya ke pedang yang tangannya. Harus merasakan tangannya sudah kebas dan tidak bisa bertarung lagi.
Ia melihat semua sahabatnya kelelahan. Zai, Sukuna, Kevin, dan Rani membentuk lingkaran saling memunggungi.
Di tempat lain, Kabir, Mona, Kirana, Nara dan Junaid berdiri berbaris. Kebencian dan kesangaran semangkin terlihat.
Golok hitam Nara berkilau dengan kehitaman karen dendamnya semangkin menjadi.
Mona sendiri pedangnya sudah berlumur dengan darahnya, ia semangkin berpendar merah akibat darah Mona.
Mona tidak lagi meramalkan doa-doa, ia sudah pasrah bila ia harus tersedot dan kehilangan hati nuraninya.
Ia hanya ingin membebaskan dirinya, sahabat, dan semua orang dari pulau. Ia ingin membunuh Alberto.
Di luar terdengar dentuman meriam dan teriakan beeluf, dan Suku Hideng yang berusaha membobol pintu.
Di sudut lain Darmanto, Marta, Will, Toto, Zai, dan Meang. Mereka berusaha untuk membuat lingkaran sedikit lebar.
__ADS_1
Sedangkan dirinya dan Hendro dan beberapa wanita hideng sudah merasakan kebas yang luar biasa di tangan mereka.
Mereka saling pandang, dan menarik napas. Saling menganggukkan kepala mengerti akan suatu hal.