
Kabir, Heru, dan Darmanto menyusuri gua untuk pergi ke kastil Alberto Kuro. Mereka berharap menemukan suatu jalan untuk bergerilya nanti malam, "Kau benar Dar!Lihatlah pintu belakang ini tidak dijaga dengan ketat," ucap Heru.
Ketiganya mengamati semua kegiatan para tentara mereka hanya hilir-mudik saja membawa senjata m-60, di bagian kiri kastil mereka melihat ruangan yang digunakan untuk berlatih beladiri dan menembak,
di sebelah kanan kastil mereka melihat tumpukan-tumpukan persediaan makanan, karena beberapa tentara gadungan menurunkan karung-karung dari truk pengangkut bahan pangan dari helikopter.
Kabir dan keduanya saling pandang dan tersenyum, "Aku ingin mengambil beberapa karung beras atau rotinya aku sudah rindu nasi," ucap Heru.
Karena selama 5 tahun ini ia tidak pernah memakan nasi lagi, ia hanya memakan apa pun yang ia dapat ia harus bersyukur masih bernapas hingga sekarang hari ini.
Mereka benar benar mendapatkan sebuah keberuntungan setelah memasuki gua, mereka terus mengintai dari lorong gua yang tidak terlihat, karena ditumbuhi semak belukar juga ada sebuah tuas sebagai pembuka dan penutup pintu untuk keluar masuk gua.
Kali ini mereka benar-benar diberkati Sang Khalik, mereka terus mengintai apa pun kegiatan para tentara gadungan sepanjang waktu.
Sehingga memudahkan mereka untuk menyusup nanti malam, mereka berdoa dan berharap mereka memiliki keberuntungan untuk menjalankan ide mereka.
Hanya sebuah keyakinanlah yang mereka tanamkan di hati, seharian mereka mengintai. Kegiatan di belakang kastil Alberto Kuro tidak seramai bagian samping kanan-kiri dan bagian belakang hanya,
digunakan untuk memasak dan berlatih bela diri juga menembak. Dari dalam ruangan latihan beladiri ketiganya melihat sesosok pria 4 kali ukuranan pria dewasa ia hanya memakai celana pendek dan kaos dalam jenis singlet berwarna hitam.
Tampangnya seram hampir seluruh tubuhnya dimodifikasi, di sekelilingnya ada 10 pria dewasa mengelilinginya. Sepertinya mereka sedang melakukan sebuah latihan, kesepuluh pria tersebut menyerang pria raksasa.
__ADS_1
Mereka menggunakan senjata seperti pedang, golok dan belahan kayu. Namun semua senjata itu tidak mampu menembus ke tubuh si pria raksasa, Kabir beringsut menajamkan pandangannya, ia begitu penasarannya akan kekuatan si pria ia tidak menyangka ada manusia seperti itu di dunia ini.
Heru dan Darmanto pun tidak berkedip melihatnya, mereka terus mengamati si pria mencari titik kelemahannya. Selama setengah jam mereka bertiga mengamati si pria tersebut namun tidak satu pun mendapatkan ide untuk mengalahkannya si pria raksasa.
Pria itu telah mengalahkan 20 orang tentara gadungan, ke-20 orang itu terluka dan dibawa ke sebelah samping kiri kastil Kabir dan kedua temannya mengetahui bahwa itu adalah laboratorium si Crabs.
Si pria raksasa pergi ke dapur dengan santainya, dari dalam dapur ia ke luar membawa 1 teko besar minuman, di tangan kirinya membawa satu kantongan besar makanan seperti roti Perancis.
Ia tersenyum dengan sumringah menenteng makanan, Heru sudah mau mengeluarkan air liurnya menatap kenikmatan yang diperoleh oleh si pria raksasa. Ia sudah tidak sabar untuk menyusup nanti malam, tujuannya adalah dapur.
Sedangkan Darmanto di dalam benaknya ia sangat penasaran dengan kekuatan si pria raksasa ia ingin mencoba untuk mengalahkannya, “Bagaimana caranya mengalahkan pria itu?"batin Darmanto.
Sementara di dalam benak Kabir Ia berpikir, ”Bagaimana caranya menghancurkan kastil ini rata dengan tanah?“ di benaknya
Mereka cepat-cepat kembali ke dalam inti gua di mana ke-8 teman mereka sedang membakar ikan, sebagian mengasah pedang, sangkur dan berbagai alat mereka.
Semua pion menatap ke arah Kabir, Heru dan Darmanto yang baru kembali dari mengintai. ketiganya duduk menghadap ke ikan bakar yang sudah disajikan oleh Mona, "Bagaimana keadaan di sana?" tanya Hendro penasaran.
"Di bagian belakang kastil hanya ada tempat latihan beladiri dan dapur, para penjaga sedikit lebih longgar kemungkinan nanti malam kita bisa menyusup hanya saja kita tidak boleh semuanya pergi ke sana hanya 4 orang saja,” ucap Heru,
“sisanya di sini untuk berjaga-jaga, bila ada sesuatu yang terjadi. Untuk sementara kita mencuri bahan pangan dan persenjataan juga berusaha untuk tidak menarik kecurigaan mereka," ucap Heru.
__ADS_1
"aku benar-benar penasaran dengan isi dapurnya, aku sudah rindu dengan masakan rumah" kata Heru. Ia membayangkan nikmatnya masakan istrinya.
"Aku penasaran dengan pria raksasa tadi, ia begitu kuatnya. aku begitu penasaran Bagaimana cara mengalahkannya?" ucap Darmanto.
Sedangkan Kabir hanya diam saja, di dalam benaknya ia ingin memasuki kastil mencuri bom yang banyak dan meletakkan di sekeliling kastil kemudian ia berharap untuk meledakkan kastil hingga rata dengan tanah.
Iya benar-benar sudah lelah dengan semua ini ia ingin mengakhiri semua ini dengan cepat dan kembali ke rumah, ia sudah sangat rindu Ibu dan adiknya dan pekerjaan satpamnya. Ia sudah lelah dengan segala perbuatan dan kekejaman Alberto kuro.
Ia ingin membalas dendam agar Alberto Kuro memahami rasa sakit yang mereka rasakan, Bagaimana bila ialah yang akan menjadi pion ia sangat menantikan hari itu.
Malam turun dengan cepat Kabir, Darmanto, Heru, dan Nara pergi keluar untuk mengadakan penyusupan mereka menunggu dengan sabar di depan pintu gua, mereka membukanya sedikit sedangkan Junaid dan Toto berjaga-jaga di balik pintu dengan senjata mereka untuk menanti segala kemungkinan-kemungkinan yang mereka takutkan.
Heru menyusup terlebih dahulu ke arah dapur sedangkan Darmanto pergi ke gudang senjata, Nara memasuki laboratorium bersama Kabir.
Di dalam ruangan beladiri Darmanto tidak melihat satu orang pun secepatnya ia mengambil senjata laser, secepatnya pula ia kembali ke dalam gua memberikannya kepada Junaid, ia pun mengoperkannya kepada teman-temannya.
Ia kembali menyusup ke dapur mencari Heru, ia sudah memenuhi kantong kertasnya dengan beberapa roti Prancis. Ia juga sudah mencuri periuk besar, sekarung beras. Keduanya secepat kilat memasuki gua, mereka kembali menunggu Kabir dan Nara.
Tidak Berapa lama Kabir dan Nara datang dengan senjata dan obat-obatan, Kabir juga mencuri cetak biru kastil juga laptop. Keempatnya secepat kilat memasuki gua, Junaid langsung menutup pintu gua.
Semua pion begitu senangnya Kirana langsung memasak nasi, selain itu Heru dan Darmanto mencuri beberapa bumbu dapur seperti kopi, gula, garam dan lainnya.
__ADS_1
Mereka juga mencuri 11 cangkir kecil, Mona membuat kopi. Mereka menikmati makan dan minuman kopi dengan begitu senangnya mereka tidak ingat Sudah berapa lama mereka di Pulau Kematian.
Hal ini merupakan suatu kesenangan yang luar biasa, mereka melupakan sejenak kepedihan, darah dan penderitaan mereka menjadi pion yang selalu diburu bak rusa.