
Heru tertegun memandang kedua orang yang paling berharga di sana, putri dan istrinya.
"Ya Allah! Putriku sudah besar, aku meninggalkannya saat ia berumur 2 tahunan. Dan sekarang ia sudah sangat besar," batinnya.
Ia tidak tahu harus bagaimana, ia sudah banyak melewatkan waktu untuk mencurahkan kasih sayang kepada anaknya.
Ia merasa berdosa dan menyesal telah melewati semuanya, tetapi semua itu juga bukanlah keinginannya.
Albertolah yang membuatnya dan semua orang mengalami sesuatu kepedihan. Di mana mereka kehilangan saat-saat bahagia bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi.
Keduanya menangis berpelukan di sana, Heru berjalan dengan berlahan dengan linangan air mata.
"Nisa, sayang! Ini Papamu, Nak!" ucap Ayesha. Nisa memandang ke arah Heru ia berhamburan lari ke pelukan Heru.
"Papa!" teriaknya menangis. Nisa bahagia, ia tidak menyangka saat seorang dari pemerintahan mencari kebenaran mengenai Heru dan Ayesha.
Nisa begitu terbengongnya, saat paman dan bibinya memeluk dan mengecupnya bertubi-tubi.
"Nisa! Papa dan Mamamu masih hidup, Nak!" teriak Mirna bibinya.
Kini, ia memeluk kedua orang tuanya dengan cinta kasih. Ia berada di tengah-tengah keluarganya.
Walaupun bibi dan pamannya mengurusnya dengan penuh kasih. Namun, jauh di relung hatinya ia sangat mengharapkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Ia merasa iri jika semua temannya diantar ke sekolah oleh ayah atau ibunya. Mereka bercerita banyak hal mengenai ayah dan ibu mereka.
Sementara Nisa hanya mampu berdiam diri, ia tidak tahu di mana ayah dan ibunya.
Walaupun bibi dan pamannya selalu mengatakan ayah dan ibunya sedang pergi jauh.
Namun, hati dan jiwa seorang anak selalu merasakan kerinduan akan kedua orang tuanya. Ia rindu berkumpul dengan kedua orang tuanya.
"Sayang, Mama rindu!" ujar Ayesha.
"Papa juga rindu, Nisa! Maaf, jika selama ini papa tidak ada di sisi Nisa," ucap Heru.
Nisa mengusap air mata di wajah papa dan mamanya.
"Jangan menangis, Ma! Pa! Kita sudah bersama lagi," balas Nisa.
Ia begitu dewasanya, membuat Heru dan Ayesha semangkin bersedih dan bangga. Ia tidak menyangka putrinya benar-benar dewasa dan memahami segala hal yang sudah terjadi.
Ketiganya berpelukan dengan bahagianya. Heru mengajak Nisa berkenalan dengan semua sahabat, anak-anak beeluf dan hatter juga semua orang.
"Ma, mana elang Mama?" tanya Nisa. Ayesha memanggil si Buluk. Buluk mendarat di lengan Ayesah dan berkenalan dengan putrinya.
Nisa begitu bahagianya. Ia bahagia bertemu banyak orang, di sana.
***
Kirana memandang Naninya dengan tersenyum dan menangis Naninya di dalam balutan baju wanita Fakistan berwarna putih dengan selendangnya.
Kirana berlari merentangkan kedua belah tangannya, "Nani?!" teriaknya.
"Kiran!" balas Naninya dengan tangisan.
__ADS_1
Kirana melihat Naninya sedikit lebih tua dan lebih kurus, Kirana mangangkat Naninya saat mereka berpelukan.
"Ya Allah, Kiran?! Kau sudah sangat kuat sekarang?" tanya Naninya.
Ia memandang cucu cantiknya, kini ia tidak memakai kaca mata lagi. rambut ikalnya sudah sepinggang, kulitnya masih saja putih walaupun tidak terawat.
Otot-otot di lengannya sudah berisi, Kirana yang dulu sangat kurus dan lemah. Kini, Kirananya sudah dewasa dan lebih kuat dan lebih segalanya
"Maafkan aku Nani. Aku pergi tanpa kabar, maaf!" kata Kirana menangis.
"Tidak apa-apa, Nak. Aku kira ntah apa yang telah terjadi kepadamu. Aku kira kau telah bosan mengurusku," jawab Naninya.
"Aku menyayangi dan mencintaimu, Nani. Aku tidak akan pernah bosan," balas Kirana.
Keduanya saling peluk dan menangis bersama. Namun kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
***
Kabir memeluk ibu dan adiknya dengan penuh kasih sayang, ibunya menangis tak henti-hentinya.
Ibunya mengira Kabir pergi entah ke mana atau telah terjadi suatu hal yang mengerikan.
"Ibu, adik! Kalian baik-baik sajakah?" tanya Kabir memeluk keduanya.
Rasanya segala kepahitan yang ia rasakan telah hilang terbawa angin. Ia tidak merasakan ketegangan dan kekacauan saat melawan para hatter, tentara Alberto.
Semua kepedihan yang ia lalui telah hilang sirna, "Kami baik-baik saja, Nak! Maaf ibu tidak tahu apa yang telah terjadi kepadamu," kata Ibu Kabir.
Ia masih saja terus memeluk anaknya penuh haru, ia tidak menyangka selama ini anaknya bertarung dengan kematian.
Akan terapi, ia tidak menemukannya. Ia bertanya kepada tetangga, sahabat Kabir. Namun, tiada yang mengetahuinya.
Ia sudah melaporkan kepada polisi, dan hasilnya pun nihil. kesedihan membuncah kala ia melihar di TV ditemukan mayat Mr.X membuat Ibu Kabir semangkin kacau.
Ia menghabiskan waktunya untuk pulang-pergi ke RS hanya untuk mengecek apakah itu anaknya atau bukan.
Ia selalu menangis sejak kehilangan Kabir. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan putranya.
Siang-malam, Mala sang ibu Kabir berdo'a berharap keselamatan dan Perlindungan Allah kepada putranya.
Hingga tiga hari lalu, orang datang beramai-ramai ke rumah Mala. Untuk mengabarkan putranya sesang bertarung di antara hidup dan mati, di sebuah pulau yang bernama Pulau Kematian.
Mereka beramai-ramai seakan menonton sebuah film. Mala melihat dan berdoa serta menangis untuk keselamatan putranya.
Mala melihat anaknya begitu gagahnya di medan pertemouran. Ia membunuh Alberto dengan tangannya. Ia bersujud syukur atas keselamatan putranya.
Mala melihat semua sahabat anaknya luar biasa hebat, "Kabir kenalkan ibu kepada sahabat-sahabatmu," ujar Mala.
Kabir terperangah, "Mengapa ibu bisa mengenal mereka?" tanya Kabir dengan polosnya.
"Kami menonton keheroikan kalian Kak. Ada Nara, Hendro, Junaid, Mona si artis hebat, Ayesha, Heru, trio mekanik, Kirana, Darmanto, dan Marta.
"Aku sangat mengidolakan kalian, Kak!" ucap Karisma adik Kabir,
"aku juga ingin bertemu dengan Balian dan Mano sayang sekali, Yahmen dan Aoi meninggal," sambung Karisma sedih.
__ADS_1
Kabir merangkul ibu dan adiknya mengenalkan ke semua orang. Jauh di relung hatinya ia juga sedih akan kematian sepasang pejuang legenda itu.
Namun, dari selentingan yang di dengar Kabir. Yahmen seperti memiliki firasat jika ia akan meninggal.
Sehingha ia menitipkan banyak pesan kepada Balian, Mano, Ayesha, dan Heru.
Kabir melihat Heru menggendong putri mereka yang cantik, ia melihat Kirana dan Naninya. Semua orang begitu bahagianya.
***
Darmanto memeluk ibu dan ayahnya, mengenalkan kepada Marina dan Marta. Mereka tersenyum bahagia.
Marina tak henti-hentinya mencium ibunya. Saat ia keluar dari heli, ia diam bingung melihat semua orang berlarian menyongsong keluarga mereka.
Sementara Marina hanya diam berdiri memegang boneka Teddy Bear-nya. Ia tidak tahu harus lari ke mana.
Marta berlari menyongsongnya, ia melihat ibunya dengan celana Navy-nya berlari ke arahnya.
Marina mengenali sosok ibunya yang gagah dan cantik menyongsongnya, Marina langsung berlari melompat ke dalam pelukan ibunya.
Keduannya saling berangkulan dan berpelukan dengan bahagianya.
Mimpi Marta bertemu dengan Marina menjadi nyata, ia tidak lagi bermimpi dan menangis sedih membayangkan wajah putrinya.
Kini, putrinya sudah berada di dalam dekapannya. Dengan segala rasa yang ia ingin curahkan di sana.
"Mama, maaf! Aku kira Mama membuangku," ujar Marina.
Air mata membanjiri wajahnya, ia tidak menyangka jika kini ia telah bertemu dengan ibunya.
Dan ibunya tidak membuangnya, semuanya karena ibunya diculik oleh orang jahat sehingga ibunya pergi bertahun-tahun lamanya.
Marina bahagia berkenalan dengan Nisa, dan semua sahabat ibunya yang hebat-hebat.
"Sahabat ibu, sangat luar biasa! Kelak aku ingin menjadi seperti kalian." Marina mengecup kening ibunya.
"Halo, Marina!" sapa Darmanto lembut.
Marina bersembunyi di balik tubuh ibunya mengintip sedikit dan tersenyum, memperlihatkan gigi ompongnya.
"Halo, Om! Om Darmanto, teman Mama ya?" tanya Marina.
Darmanto memandang ke arah Marina, "Iya, sayang! Maukah Marina memeluk, om?" tanya Darmanto.
Marina berlahan dan pasti berlari ke arah Darmanto. Darmanto langsung menggendong Marina dan menggandeng lengan Marta.
Ketiganya Menuju ke arah kedua orang tua Darmanto.
"Ma, Pa! Kenalkan ini Marta dan Marina! Calon istriku dan cucumu!" ujar Darmanto dengan gagahnya.
Kedua orang tua Darmanto memeluk Marina dan Marta, "Selamat datang putri dan, cucuku!" balas Ibu Darmanto dengan senyuman hangat di wajahnya.
Darmanto bahagia dengan sambutan kedua orang tuanya, "Setelah kita pulang. Aku ingin kalian segera, menikah!" ucap Ayah Darmanto.
Marta tersipu malu di sisi Darmanto. Marina hanya memandang semua orang dewasa di depannya.
__ADS_1
Ia tidak memahami apapun. Ia hanya tahu jika ia akan memiliki ayah baru.