Pulau Kematian

Pulau Kematian
Keempat Pejuang Legendaris Pulau Beeluf


__ADS_3

"Maju dan matilah secara terhormat!" teriak Kabir. Ia mulai memakai dua pedang di kanan-kiri lengannya.


Nara menyeret golok hitamnya begitupun dengan Mona, Kirana. Keempatnya berlari dengan gilanya, maju menyerang hatter.


Gesekan pedang dan golok juga samurai membahana di lantai. Sehingga menimbulkan percikan bunga api terpantul dari lantai akibat gesekan senjata keempatnya.


Membuat para hatter robot semangkin kebingungan, mereka mendengarkan gesekan golok keempat pion yang gila yang memantul di ruangan.


Semua pion terkesiap dengan pantulan suara, sehingga mereka pun melakukan hal yang sama.


Hatter dengan sendirinya melepaskan senjata dan bergulingan di lantai. Pion, beeluf, dan Suku Hideng dengan mudah menghajar dan mengabisi mereka semua.


Alberto terperangah beserta dengan Jendral Balian dan beberapa kaki tangannya yang lain.


"Mereka benar-benar, gila!" ujar Jendral Balian.


Ia tidak menyangka pion yang mereka hadapi kali ini benar-benar luar biasa.


Layar monitor mereka menampilkan di luar gedung Yahmen dan pasukannya sudah menembus dinding utama dan menghancurkan sebagian pertambangan.


"Bajingan, aku tidak bisa menunggu lama! Aku akan ke luar!" teriak Balian.


Jendral Balian semangkin murka melihat musuh lamanya masih tegar dan semangkin kuat. Dulu ia berhasil mengelabui Balian.


Balian hanya melukainya, ia hanya membunuh kembaran palsunya saja.


Alberto memandang Jendral Balian yang ke luar ingin mengejar Balian Si Golok Hitam yang masih hidup.


Alberto juga terkejut melihat Aoi Si Srigala Tebing Hatter, ia masih berdiri di sisi Yahmen. Ia melihat kilatan emas di jari lentik Yahmen.


"Apakah mereka telah menikah? Sialan!" geram Alberto.


Ia merasakan kecemburuan yang luar biasa. Sampai detik ini, ia masih mendambakan Yahmen. Ia mengira Yahmennya telah tewas saat pertempuran di Hutan Bambu.


Setelah pertempuran itu keempat pejuang legenda itu tidak pernah terdengar lagi, serulingnya pun sudah tidak pernah terdengar setiap purnama.


Semua itu membuat Alberto semangkin gila, ia telah kehilangan kekasih hatinya. Namun, ia sadar. Ia telah membawa banyak dendam membara di hati Yahmen.


Sehingga ia pun sadar tiada maaf lagi untuknya. Kini, ia melihat dengan kepalanya sendiri.

__ADS_1


Keempat pejuang legenda itu masih berdiri, di sisi pasangan mereka masing-masing dengan kebanggaan dan kehormatan.


Alberto untuk pertama kalinya merasa kecil dan tidak memiliki apa pun, "Untuk apa semua, ini?" batinnya.


Alberto merasakan penyesalan yang dalam. Ia masih memperhatikan Aoi dengan kasih sayangnya berdiri di sisi Yahmen.


Ia merasa membenci Aoi dan dirinya sendiri, "Mengapa Yahmen memilih Aoi?" teriaknya.


Rambut Yahmen sudah berubah memutih berwarna keperakan yang indah. Ia juga melihat Mano Si Beeluf Gila Gurun rambutnya yang telah berubah pendek dan putih.


Di sisinya Balian dengan gagahnya dengan golok papannya berkilauan. Alberto melihat layar sebelahnya di mana Nara masih berusaha untuk membunuh hatter, dengan golok hitam papan yang pernah melegenda.


"Apakah golok hitam Balian yang selama ini menemani wanita pion yang bernama Nara?" ujarnya.


Ia juga melihat samurai Aoi yang berbeda dengan samurainya dulu, ia melihat samurai iblis Aoi berada di tangan Mona.


"Sial, selama ini. Aku melawan kekuatan pulau ini, aku tidak pernah menyadarinya. Kedua senjata legenda itu ada pada kedua wanita ini.


"Selain itu, Kabir memiliki kekuatan Yahmen. Begitu juga yang lainnya memiliki kekuatan mereka semua, sial!" teriaknya marah.


Alberto hanya berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya di meja. Ia benar-benar tidak menyangka, untuk kedua kalinya Yahmen berhasil menembus pertahanannya.


Ia tidak menyangka jika Suku Hideng masih ada di Pulau Tak Bertuan. Ia mengira saat pembunuhan massal 5 tahun yang lalu ia berhasil menghancurkan Suku Hitam itu.


"Bedebah! Crabs!" teriak Alberto.


Tuan Crabs tergopoh-gopoh masuk, "Kau ke luarkan semua hasil penelitian terjeniusmu. Masukkan ke perangkap pion, cepat!" perintah Alberto.


Crabs berlari tergopoh-gopoh ia mengeluarkan kumpulan binatang yang sudah ia suntik dengan serum untuk kumpulan hewan semangkim buas dan bermutasi.


Ia menggunakan ilmu teknologi yang sangat canggih. Sayangnya semua kepintaran dan kejeniusannya ia gunakan untuk mrmbantu Alberto yang licik, kejam, dan sangat angkuh.


Crabs menekan tombol on untuk mengeluarkan semua binatang dari kurungan. Kumpulan binatang yang terdiri dari beruang, harimau, srigala, aligator berlarian mengikuti lorong.


Dari dinding di bagian atas sekitar dua meter dari lantai, sebuah lingkaran terbuka. Kumpulan binatang tersebut melompat dengan ganasnya ke tengah ruangan.


Pion dan semua orang begitu terkejutnya, mereka tidak menyangka akan mendapatkan lawan yang sedikit berbeda.


Selain itu mata yang mereka pancarkan sudah berubah menjadi semerah darah.

__ADS_1


Kabir dan semua orang mundur, kawanan binatang mencium darah dan bau busuk dari tubuh hatter dan darah yang ke luar dari tubuh pion.


Semua binatang dengan eramannya menyerang semua pion, "Berhati-hatilah, kelihatannya binatang-binatang ini. Hasil dari eksperimen dari, Crabs!" teriak Kabir.


Mona yang mengucurkan darah yang banyak dari tubuhnya menjadi sasaran empuk. Ia mendapatkan 5 ekor binatang yang menyerangnya.


Iya sedikit kewalahan, semua binatang menerjangnya. Ia mundur dengan menebaskan samurainya, tetapi binatang itu memiliki kelihaian di dalam bertempur.


Seakan mereka memiliki sesuatu yang menuntun naluri binatang mereka untuk melawan.


Mona melihat semua orang sibuk dengan binatang yang memburu mereka, "Sialan, kau Alberto! Aku akan mencincangmu!" geram Mona.


Ia sudah sangat kelelahan melawan hatter dan tentara harus bertempur dengan binatang yang memiliki cakar dan taring juga kegesitannya.


Beruang madu yang begitu besarnya mencakar-cakar ke arah Mona, ia harus meluncur ke bawah sehingga cakaran beruang menggaris dinding stainlis campuran titanium.


"Gila, bagaimana jika aku tercabik dengan cakaran itu? Memang ini wolverin apa?" umpat Mona.


Ia sangat senang menonton film tempo dulu yang sangat booming saat ibunya masih di dalam kandungan sang nenek.


Darah di tangannya semangkin mengucur deras, ia sudah muak. Di lantai kucuran darahnya sudah menjadi coretan cat berwarna merah akibat luncurannya.


Ia menebas kaki beruang dan melukainya, si beruang berteriak marah ia mengejar Mona. Berusaha menggapai-gapai tubuh Mona dengan cakarnya.


Belum lagi singa dan harimau yang menyerangnya. Ia sudah kehilangan banyak darah, Hendro melompat dengan pedang laser hatter yang ia ambil.


Ia menebas binatang yang sudah ingin menyobek tubuh Mona yang sudah terdesak di dinding ruangan.


Mona sudah pasrah dengan takdirnya. Namun, Hendro dengan tangguhnya menebaskan pedang hatter robot.


Tebasan pedang laser hatter langsung menghancurkan binatang.


"Gunakan pedang laser hatter, robot!" teriak Hendro.


Semua orang langsung bergulingan meraih pedang yang dekat dengan mereka.


Mereka tidak peduli bau busuk yang menyengat dari hatter robot, mereka menebaskan pedang ke tubuh binatang.


Mereka sedikit lega, pedang laser itu mampu menghancurkan apa pun. Alberto terkesiap dan terduduk di kursinya.

__ADS_1


Ia tidak menyangka segala senjata yang diciptakan olehnya dan Crabslah yang digunakan oleh para pion menghancurkan dirinya.


__ADS_2