Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pertemuan dengan keluarga


__ADS_3

Pemerintahan memberi solusi untuk kesejahteraan semua orang di Pulau Kematian dan Pulau Tak Bertuan


Semua orang di Pulau Kematian tertegun, dari dalam heli satu demi satu semua keluarga mereka ke luar.


Para pion dan semua orang yang menantikan keluarga mereka langsung terperangah dan berhamburan memeluk semua keluarga mereka.


Semua kejutan yang diberikan pemerintah kepada mereka benar-benar luar biasa. Hal yang sangat mereka dambakan, para beeluf yang masih memiliki keluarga di dunia peradapan pun menemui keluarga mereka.


Zai memeluk orang tuanya dengan bajagia, "Ayah, Ibu! maafkan Zai selama, ini!" lirihnya memeluk kedua orang tuanya.


Zai memeluk kedua orang tuanya. Ia menangis tersedu, "Ibu, Ayah! Maaf, aku selalu membangkang!" isaknya.


Kedua orang tuanya menangis di dalam memeluk anaknya, "Sudahlah, Nak! Jadikan semuanya pelajaran. Kamu hebat, anakku! Ayah Bangga," ujar Khairul memeluk putranya yang terkenal badung.


Zai memperkenalkan Sukuna kepada ibunya. Ia memeluk Sukuna dengan perasaan haru.


"Apakah ini calonmu, Nak? Cantik dan sangat hebat!" ucap Maryam melihat Sukuna.


Zai tercekat, ia mengingat tunangannya.


"Ibu, aku mencintainya. Tapi, bagaimna dengan Aini Bu?" tanya Zai mengingat tunangannya.


"Jangan khawatir, Nak! Ia sudah menikah dengan anak Juragan Tanah, di serawak. Kamu, tidak usah merasa bersalah. Namanya tidak jodoh!" ujar Ayah Zai.


"Benarkah?!" balas Zai dengan girangnya.


***


Sementara Will memeluk kedua orang tuanya dengan segala rasa yang tidak mampu ia ungkapkan.


Will yang terkenal nakal dan selalu bermain-main. Kini, ia merasakan suatu rasa kebahagiaan dan tangisan.


Ia bahagia menemui ayah ibunya. Namun, ia bersedih. Jika ia mati di Pulau Kematian. Ia tidak sempat membahagiakan kedua orang tuanya.


Kini, ia merasakan suatu anugrah dan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepada-Nya. Ia tidak ingin menyia-nyiakannya.


ia berjanji akan selalu mendengarkan nasihat kedua itang tuanya, dan bekerja dengan tekun.


Ia akan mencari pekerjaan yang baik di dunia peradapan nanti. Ia akan membahagiakan kedua orang tuanya bagaimanapun caranya.


Will hanya bermain komputer dan game saja, kedua orang tuanya tidak menyangka anaknya sangat pintar dan jenius di dalam mengoperasikan perangkat lunak itu.


Will memboyong kedua orang tuanya bertemu dengan orang-orang beeluf, Balian, Mano, dan Suku Hideng.


***

__ADS_1


Sementara para pion masih sibuk dengan keluarga mereka.


Toto menangis tersedu melihat Ibu dan pacarnya yang berlari menyongsongnya dengan sejuta kasih.


"Ibu, Aisyah! Aku rindu kalian. Ibu, aku rindu masakanmu!" isak tangis mereka bertiga.


Ibunya memeluknya dengan kehangatan yang luar biasa. Melihat dan memeriksa tubuh putranya yang gempal,


berubah menjadi atletis dan semangkin tampan. Walaupun penuh dengan semak belukar di wajahnya.


"Mak, maafkan aku!" ucap Toto.


"Syukurlah, Nak! Kamu baik-baik saja. Emak senang. Emak kira kau marah dengan emak. Maafkan ibu juga, Nak!" balas Rosmi memeluk putranya berulang-ulang.


Kekasihnya Aisyah tersenyun malu-malu di sisi ibunya, "Maukah kau menikah denganku, Ai?" tanya Toto dengan sumringahnya.


"Tentu saja! Aku sudah menunggumu begitu lama," ujarnya berhamburan lari ke pelukan Toto. Keduanya begitu bahagianya dengan senyuman dan tangisan.


Toto memeluk ibu dan kekasihnya, ia merasakan sesutu yang luar biasa. Selama ini ia tidak menyangka jika ia akan bertemu lagi dengan ibu dan kekasihnya.


***


Sukuna bahagia berkumpul kembali dengan Kasumi sang adik, "Kakak!" teriak Kasumi di dalam Bahasa Jepang. Ia dan Sukuna berlarian saling memeluk dan menangis.


"Apakah kau baik-baik, saja?" tanya Sukuna. Ia merasakan kesedihan teramat dalam, "Aku baik-baik saja, Kak! Akashi, menyelamatkanku dan mengurusku selama ini menjadi adiknya.


"Akashi sudah tiada, Kasumi!" balas Sukuna. Ia menceritakan segala kesedihan dan kematian Akashi.


Kasumi berlinangan air mata, ia tidak menyangka jika Akashi telah tiada. Baginya Akashi adalah kakak yang baik, yang selalu menyayanginya dan melindunginya setelah kepergian Sukuna.


Kasumi menyangka jika Sukuna meninggalkannya atau telah meninggal saat kerusuhan yang dilakukan oleh Yamada dan ayahnya.


"Aku akan membawamu berziarah ke makamnya nanti," balas Sukuna. Ia memahami kesedihan yang dirasakan oleh adiknya.


Bagaimanapun Akashilah yang selama ini selalu ada di sisinya. Sukuna bahagia satu-satunya keluarga yang masih yersisa miliknya kini berada di sisinya.


Sukuna mengenalkan Kasumi kepada Zai dan kedua orang tua Zai. Kasumi begitu bahagianya, ia sudah lengket dengan keluarga Zai.


***


Keluarga Nara datang dari Papua dengan 2 orang adiknha memeluknya dengan bahagia.


"Mama bangga kepadamu, Nara!" ucap ibunya memeluk putrinya.


Ia menangis dengan penuh haru, ia sudah berulang kali membuat iklan orang hilang dan bolak-balik melaporkan kepada polisi.

__ADS_1


Ia tidak menyangka jika anak yang dinyatakan hilang sedang bertarung mempertahankan jiwa raganya di antah baranta yang tiada seorang pun tahu ada di mana.


Nara memperkenalkan kedua orang tuanya kepada Hendro. Hanya Hendrolah yang tidak memiliki siapa pun lagi.


Orang tuanya telah meninggal, ia dibesarkan kakek-neneknya yang sudah meninggal sekitar 5 tahun lalu.


Mereka begitu bahagianya, Hendro menyalim kedua orang tua Nara.


"Terimakasih, telah menjaga putriku!" ujar Ayah Nara.


"Sama-sama, Pak! Terimakasih juga, sudah melahirkan Nara yang cantik dan hebat!" puji Hendro.


Nara teresenyum simpul menatap Hendro. Kedua orang tua Nara begitu bahagianya, melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah anak-anak mereka.


***


Ayesha dan Heru saling bergandengaan tangan mencari dan menantikan putrinya, tetapi dari begitu banyaknya orang.


Keduanya tidak melihat putri mereka di mana pun. Keduanya saling pandang, "Mas bagaimana dengan, Nisa?" tanya Ayesha sedikit takut.


Ia takut pemerintah tidak menemukan putri mereka, "Sabarlah, kita cari lagi!" balas Heru.


Ia membimbing istrinya melewati kerumunan dan memeriksa setiap heli. Ayesha dengan perut bundarnya kebingungan harus bagaimana.


Mereka menoleh dan mencari, meraih bahu setiap anak seusia Nisa, tetapi keduanya tidak menemukannya.


Ayesha sudah menangis pilu, ia menahan kerinduan yang terlalu dalam kepada anaknya. Mereka terus berlarian ke sana kemari.


Ayesha sudah terjatuh terduduk di rerumputan jauh dari kerumunan, suaminya Heru masih berlarian ke sana kemari mencari dan meneriakkan nama Nisa putri mereka.


"Ma-ma!" suara lembut seorang anak berumur 10 tahun berjarak 2 meter di depannya.


Ia memegang sebuah foto kedua orang tuanya di dalam balutan pakaian pengantin saat acara pedang pora.


Ayesha memandang ke arah suara. Ia melihat wajahnya dan wajah heru di sebuah raut wajah cantik. Giginya yang ompong dengan lesung pipi dan rambut pendeknya.


Ayesha melihat putrinya sedikit takut-takut di sana, Ayesha melihat Nisa berulang kali membolak-balik foto kedua orang tua dan melihat ke arah Ayesha.


"Nisa?! Nisa, anakku!" teriak Ayesha berlari ke arah putrinya.


Nisa berlari menyongsong sang ibu dengan tangis yang membuncah. Ia merasa segalanya bagai mimpi.


Nisa tidak pernah berfikir ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Tubuh Nisa yang tinggi seakan ia telah berumur 10 tahun memeluk erat ibunya.


Ia tidak mengingat wajah ayahnya, ia hanya mengingat wajah samar sang ibu sebelum ibunya pergi.

__ADS_1


Nisa harus di asuh paman dan bibinya, setiap waktu mereka selalu diteror oleh kaki tangan Alberto.


Untuk tidak melapor akan kehilangan keluarganya. Heru termangu menatap anak dan istrinya di sana saling berpelukan erat.


__ADS_2