
Alberto masih saja memandang wajah Yahmen di layar monitor, ia tidak menyangka Yahmen masih hidup.
Begitu juga dengan ketiga ketua yang mendampingi Yahmen di setiap pertempuran, membuat semua kaki tangannya dan Alberto sendiri hampir musnah.
Untung saja, seorang wanita beeluf bernama Ambah mengkhianatinya. Ambah begitu cintanya kepada Alberto hingga ia mampu diperdaya olehnya, setelah ia mengkhianati semua sahabatnya.
Alberto pun membunuh Ambah, "Sial, kalian harus mencari keempat manusia tua ini! Aku tidak ingin, bila semua pion akan bersatu dengan mereka, segalanya akan menjadi kacau!" teriak Alberto.
Ia semangkin murka dan gelisah, bayangan dari semua masa lalunya dan sumpah yang diucapkan oleh Bahale ayah dari Yahmen mulai menjadi kenyataan.
Ia mulai lelah semua intrik yang ia lakukan selalu gagal, kali ini ia lagi-lagi menemui kebuntuan. semua pemilik saham yang menanamkan sahamnya di Pulau Kematian mulai resah, mereka belum juga menuai hasil yang memuaskan.
Malah sebaliknya mereka selalu gagal, Alberto mulai jengah dengan tuntutan mereka agar membunuh semua pion secepatnya, baru kali ini seorang bandar judi kalah telak dengan si penjudi di meja taruhannya.
Alberto mengepalkan jari-jari tangannya, ia masih melihat bayangan Yahmen yang menggulung dan menimpun semua algojonya hingga tidak terlihat lagi.
Hal yang paling mustahil, dicerna oleh logika dan nalar. "Akan tetapi mistis dan sihir seorang beeluf masih berlaku di sini, padahal zaman sudah berubah!
"Para beeluf belum berubah juga?" batin Alberto. Sedikit nyalinya menciut, ia tahu beeluf memiliki ilmu sihir yang luar biasa. Hanya tetua dan keturunan ketua adat yang memiliki kemampuan, juga orang- orang terpilih oleh Tuhan.
Akan tetapi Alberto sendiri pun benar-benar sudah menciptakan sebuah tontonan yang sangat menarik di seluruh dunia bawah tanahnya dengan sejuta kejahatan yang selama ini ia lakukan.
Alberto masih melihat bayangan wajah Yahmen yang cantik, ia sangat menyukai wajah itu. Ia tidak menyangka segalanya harus seperti sekarang,
ia menjadi tamak dan haus kekayaan yang lebih dan lebih hingga ia tidak peduli untuk menghancurkan semua orang.
Alberto menatap di layarnya kekosongan dan kehampaan, tiada apa pun yang tersisa dari sebuah pertarungan yang telah terjadi, semuanya menjadi lengang dan tidak adanya tanda-tanda kehidupan.
__ADS_1
Ia menyuruh asistennya untuk mematikan layar, ia masih berpikir banyak hal. Ia ingin membuat ulang skenarionya lagi, mencoba mengulang dan merevisi segala hal yang akan ia lakukan kepada para pion.
Ia mencoba tersenyum, ia ingin melupakan sejenak mengenai Pulau Kematian dan miniatur mainannya. Ia ingin bersenang-senang dengan wanita kalangan jet set-nya, ia ingin menyalurkan hasrat yang sudah lama membatu.
Kematian Yahmen membuat segala hasratnya menghilang, kini hasrat itu muncul lagi. Dan ia butuh pelepasan, ia mencari wanita yang mirip dengan Yahmennya, tetapi sayangnya. Tuhan hanya menciptakan 1 Yahmen yang perkasa dan baik hati.
Ia terpekur dengan segala kebodohannya hingga ia menghancurkan segalanya, tetapi di balik itu ia tersenyum girang. Ia membuat semua orang bertekuk lutut di kakinya, ia menggenggam dunia.
***
Para pion sudah berada di tanah tak kasatmata di salah satu Pulau Kematian, di wilayah Hutan Kegelapan. Semua berkumpul di sana, mereka bersyukur para tetua datang tepat waktu menyelamatkan mereka.
Selain itu, jasad Akashi terikut masuk ke dalam pusaran waktu yang membawa mereka ke tanah tak kasatmata di bawah pohon beringin yang rindang, Sukuna berlari menghampiri mayat pujaan hatinya.
Ia memeluk dan membelai wajah tampan Akashi, ia berharap semua ini hanyalah mimpi. Ia terus menangis, "Bangunlah, Akashi Kun! Aku mencintaimu. Ayo, pulanglah bersamaku!" ucapnya.
Ia terlihat pucat dan sedikit sensitif, ia pun tidak mengetahui apa yang terjadi dengannya. Mona menggenggam jemari Hendro, di samping mereka si rusa berdiri memandang kedukaan.
Angin bertiup sangat berlahan penuh dengan kesedihan, suara dedaunan bagaikan senar dawai yang mengisaratkan duka yang dalam.
Kabir, Kirana, Marta, Darmanto, Junaid, Nara, dan semua orang saling menggenggam jemari pasangan mereka. Semuanya menyadari segalanya telah diatur oleh Sang Pencipta, tetapi kematian selalu saja menyisakan duka.
Sesepuh Yahmen memegang kening Akashi, "Sudah waktunya ia pulang, sudah selesai perjalanan hidupnya. Relakanlah!" ucap Sesepuh Yahmen.
Semua irang terdiam, "Sepuh, mengapa mayat pemuda itu bisa ikut kemari?" tanya Rani.
Semua orang menoleh ke wajah Sesepuh Yahmen, ia tersenyum dengan lembutnya. Ia kembali memandang ke sisi mayat Akashi yang masih dipeluk oleh Sukuna,
__ADS_1
"Anak itu, adalah anak yang baik. Ia ingin mengikuti pertempuran ini karena, ia hanya ingin mati secara terhormat, dan ingin mati karena ia merasa Sukuna telah mati, cintanya yang menyeretnya mengikuti pusaran badai.
"Hanya saja, takdir memang sudah menggariskannya, ia begitu bahagianya bertemu dengan kekasihnya, hanya saja ... Segalanya sudah ditakdirkan Allah, kita hanya bisa menerima-Nya."
Yahmen meremas bahu Sukuna,
"Kuburkanlah pemuda ini sesuai dengan agamamu," ujar Yahmen.
Akhirnya mereka mengadakan upacara penguburan, bersama para tetua dan seluruh orang yang ada di tanah tak kasatmata.
Mereka berusaha untuk menguburkan secara hidmat Ketua Aoi, Sukuna, dan para ninja dan samurai yang masih tersisa menguburkan secara agama mereka.
Semua orang melihat dan mengikuti prosesi itu dengan doa dan kesedihan, Zai merasa Sukuna sangat bersedih dan linangan air mata terus membanjiri pipinya. Ingin rasanya ia menghapusnya tetapi ia urungkan, ia tidak ingin membuat kehebohan lain lagi.
Ia yakin Sukuna begitu mencintai pemuda Jepang yang bernama Akashi, "Betapa bahagianya, pemuda itu. Siapa pun akan rela mati demi cinta yang begitu besar dan tulusnya? Bila dicintai dengan begitu sepenuh hatinya. Andaikan aku ...," batin Zai.
Sukuna memberikan bunga terakhir sebuah karangan bunga indah yang dipetik sembarang diseluruh jalanan dan tiap rumah beeluf di tanah tak kasatmata.
Acaea penguburan pun selesai semua orang meninggalkan pemakaman, Zai masih setia menemani Sukuna. Ia berdiri di antara deretan pohon-pohon besar yang rindang, ia menantikan Sukana beranjak dari sisi pusara kekasihnya.
Awan mulai gelap menandakan hujan akan segera turun, Zai menghampiri Sukuna. Menyentuh lembut bahu Sukuna, hujan telah membasahi keduanya.
Sukuna menengadahkan wajahnya yang kuning langsat terterpa deraian hujan semangkin membuat wajahnya semangkin cantik, "Ayolah, Una! Akashi pun tidak ingin kau bersedih," ajak Zai.
Ingin rasanya ia merengkuh Sukuna, "Zai .... " lirihnya. Zai mengulurkan tangannya, Sukuna menerima uluran tangan Zai tetapi kakinya lemas untuk berdiri.
Ia begitu terpukulnya akan kematian Akashi, Zai membopong tubuhnya menyusuri hujan lebat.
__ADS_1