Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pasukan Balian Gugur


__ADS_3

Nara berusaha untuk memukul dan menebaskan goloknya. Namun, selalu saja ia mengalami kegagalan.


Pengawal khusus yang sudah di lumpuhkan, kembali datang lagi yang lain. Nara dan Hendro sudah begitu kelelahan.


Apalagi para pasukan pengawal memiliki sesuatu yang sangat berbeda, kekuatan yang luar biasa.


Nara terengah-engah, "Sepertinya mereka menggunakan steroid di tubuhnya. Sehingga kekuatannya berbeda dengan kebanyakan orang!" ujar Nara.


Hendro di sampingnya terkesiap, ia memandang Nara. Ia kasihan melihat sahabatnya yang sudah berdarah di sudut bibirnya dan beberapa luka yang sudah merembeskan darah segar.


Hendro pun sudah tak habis pikir, ia dudah sangat lelah juga harus melewati banyak rintangan di depannya.


Keduanya saling pandang dan bergerak secepat kilat menyerang 10 orang pengawal khusus di depan mereka.


Sementara Joe sudah pergi ke balik pintu. Nara dan Hendro sekuat tenaga berusaha untuk melumpuhkan ke-10 orang di depan mereka.


Nara berulang kali terkena pukulan bertubi-tubi, tubuhnya yang mungil sudah menjadi samsak. Ia sudah lemas tak berdaya di tempat lain Hendro pun semangkin kacau.


Ia tidak mampu menangkis serangan lawannya, ia sudah menjadi bulan-bulan kelima pria yang mengeroyoknya.


Nara dan Hendro mencoba untuk bertahan. Namun, tubuh keduanya sudah jatuh ke lantai.


Darah menggenang di kedua belah tubuh mereka, mereka saling pandang dan tersenyum.


"Aku, kira. Jika kau yang selamat. Tolong katakan pada Mona, 'Aku mencintainya!' tapi, kita berdua di sini terkapar. Hehehe!" ucap Hendro.


Ia berusaha untuk bangkit sayangnya, seluruh tulangnya sudah remuk. Saat kelima pria tersebut membanting dan memukulnya bertubi-tubi.


Begitu juga halnya degan Nara. Ia terkulai lemas tidak berdaya, masing-mading dari pasukan khusus itu mengeluarkan pedangnya.


"Aku besyukur bisa membunuh, 2 orang pion! Ayo, kita cincang mereka!" teriak salah satunya.


Mara dan Hendro saling pandang berusaha untuk bergerak. Namun, luka mereka dan tulang mereka sudah banyak yang patah.


Di saat pedang para pengawal pasukan khusus hampir saja menebas dan mencincang tubuh mereka. Kabir, Marta, Heru, dan Darmanto tiba di sana.


Dari arah yang berbeda, keempatnya menembakkan laser ke arah mereka.


Para pasukan khusus itu hanya terkesiap melihat api yang menjalar di tubuh mereka.


Kesepuluhnya hanya membuka dan membuang baju mereka yang terbakar. Mereka kembali menyerang ke arah Kabir dan ketiganya dengan murka.

__ADS_1


Kedua kubu saling berteriak saling menyerang, "Serang!" teriak salah satu pria dari pasukan khusus Alberto.


Keempatnya sudah mengeluarkan kedua pedang di tangan masing-mading. Menebas dan menangkis senjata mereka, Kabir berjumpalitan memukul dan menebaskan pedangnya.


Semua pion menjadi heran, mereka heran dengan kemampuan para pasukan khusus yang tidak merasakan sakit dan luka sedikit pun.


Namun, mereka tidak pantang menyerah. Kabir memandang ketiganya. Dan berlari membentuk lingkaran di antara mereka.


Keempatnya melihat Nara dan Hendro yang terluka, Marta meraih madu hutannya dan memberikan kepada keduanya.


"Bertahanlah! Kalian hebat," ujar Marta. Ia merasa kasihan dan terenyuh melihat keduanya.


"Mar-ta, mereka menggunakan steroid untuk kekebalan. Berhati-hatilah!" pesan Nara.


"Baiklah, akan aku ingat!" balas Marta.


Ia kembali berlari ke arah pertempuran. Ia membabat semua musuhnya tanpa ampun samurai di tangan kanan, sangkur di tangan kiri dan mulutnya.


Marta berhasil melukai seseorang di mata dan dadanya hingga si pria tewas dengan mengenaskan.


Ketiga pion begitu tertegun dengan kemampuan Marta yang luar biasa menggunakan taktik dan senjatanya selihai ia memasak.


Ketiga pion mengikuti cara Marta dan ketiganya berhasil. Kabir secepat kilat menumbangkan dua orang sekaligus,


Hendro memanggil rusa nakalnya, dan membawa Nara dan dirinya menjauh. Ia ingin mengobati luka di tubuh mereka.


Marta dan tiganya berhasil membunuh 10 orang. Pengawal di saat pengawal lainnya datang keemoatnya melemparkan granat ke arah mereka.


Keempatnya berlari menunju ke arah lantai atas. Akan tetapi, mereka tidak melihat Alberto maupun Joe.


Mereka mencoba untuk turun kembali, tetapi mereka dihadang oleh pasukan khusus lagi. Membuat mereka semangkin kewalahan untuk bertempur.


Sementara di luar, Yahmen dan semua orang sudah berusaha untuk masuk menuju gedung.


Namun, mereka tidak menyangka jika Akberto menyiapkan pasukan khusus lain yang berlari dengan pedang masing-masing dari 4 penjuru mengepung mereka.


Sementara jumlah mereka dua kali lipat dari pasukan Yahmen, pion, dan Suku Hideng.


Balian, Mona, Rasna, Sanna, dan pasukan hattee sudah berdiri menghadang di bagian selatan pasukan khusus Alberto.


Mereka bertarung dengan gesitnya, sayangnya mereka tidak mengetahui kalau pasukan khusus menggunakan steroid.

__ADS_1


Mereka bertarung dengan luar biasanya melawan semua pasukan khusus.


Mereka menghancurkan tentara, akan tetapi di kelompok hatter lama, dari 13 orang telah gugur 10 orang.


Balian begitu bersedihnya melihat saudara, teman dan keluarganya yang selama ini berjuang bersamanya.


Kelompok hatter yang dipimpin Balian hanya tinggal dirinya dan kedua adik perempuannya.


Suami kedua adiknya Palki dan Ujang pun telah tewas, "Berjuanglah! Bebaskan pulau!" ujar ke-10 hatter yang tersisadengan gagah beraninya.


Balian tertegun di pertempuran jauh dari mereka, Rasna dan Sanna semangkin berteriak histeris melihat suami dan saudara mereka sepermainan meninggal dengan gagahnya di medan pertempuran.


Bahkan Palki dan Ujang membawa granat dan mati bersama pasukan khusus lain yang ingin membunuh Balian, yang sedang bertempur melawan 10 pasukan khusus.


"Aaakhhhg!" teriak Balian semangkin murka, ia membantai semua orang dengan kekuatannya.


Balian menengadah ke angkasa, merapalkan sebuah mantra. Golok hitam yang bersama Nara meluncur terbang ke arahnya.


Ia memangkapnya dengan kekuatannya, golok hitamnya berpendar di tangan Balian. Ia marah dan penuh dendam kembali.


Membuat golok itu memancarkan pendar hitam. Nara dan semua orang teekejut melihatnya, mereka tidak menyangka golok itu begitu mengerikan.


Tubuh tua Balian tidak mengahalanginya untuk bergerak, ia melompat ke arah musuhnya bersama dengan Mona dan Rasna dan Sanna.


Mereka mengamuk menerjang semua musuhnya. Namun, Balian dan ketiga orang yang berarti di dalam hidup mereka terus memukul mundur pasukan khusus Joe dan membinasakan di bagian selatan.


Rasna melihat seseorang pria dengan berlari melindungi seseorang dengan gerombolannya. Menembakkan sesuatu ke arah Balian dan Mano.


Rasna melompat menerjang ke arah punggung abangnya melindunginya.


Dor! Dor!


Sebuah tembakan melesat menembus dada Rasna. Balian terkejut. Ia menoleh ke belakang pungkungnya.


"Rasna!" teriak Balian dengan suara menggelegar. Ia tidak menyangka adiknya rela mati melindunginya.


"Ka-kak! Titip, anak-anakku!" ucap Rasna.


"Rasna! Rasna! Bangun!" teriak Balian mengguncang tubuh adiknya. Mano terkesiap melihat adegan di sampingnya.


Ia dan Sanna melesat mendekat mereka, melindungi keduanya.

__ADS_1


Balian memeluk dan mengecup berulang-ulang kepala dan kening adiknya.


Bayangan Rasna yang cantik dari kecil, remaja, dewasa, dan menikah berlarian di benaknya. Ia tidak menyangka semua teman pria dan Rasna harus gugur.


__ADS_2