Pulau Kematian

Pulau Kematian
Sebuah Tato


__ADS_3

Terima kasih, masih setia membaca karyaku! Tolong, tinggalkan jejak. Like, komen, bunga atau kopi juga vote yang banyak ya ...? Biar hidup terasa lebih hidup lagi!


——————————————————


Happy Reading ....


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan, mereka?" tanya Zai. Ia beringsut mendekati mumi kedua sahabatnya, "Kami menemukan mereka tertembak, dengan pria berwajah dengan Toto!" ujar Kabir.


Toto mendekat, "Apa maksudmu, denganku?" tanya Toto. Ia tidak mengerti sama sekali, Kabir dan Heru menceritakan semua kronologis saat mereka memasuki kastil.


Di mama mereka melihat banyak topeng jika dipakai ke wajah seseorang langsung menyerupai si pemilik wajah.


Mereka juga bercerita mengenai pertemuan mereka dengan para tetua di Hutan Kegelapan dan pertemuan dengan Darmanto dan Junaid.


Zai, Toto, dan Will begitu terkesima mendengarnya seakan mereka berada di negri dongeng. Selain itu mereka begitu murkanya mengetahui keburukan, dan kelicikan dari Alberto Kuro.


Mereka terus berbincang hingga kabut putih yang menutup tubuh Darmanto dan Junaid sedikit demi sedikit menghilang, Darmanto dan Junaid menggerakkan tubuh mereka.


Keduanya memandang nanar semua sahabat mereka, Nara dan Marta berhamburan ke sisi keduanya, mengulurkan tangan meraih kepala masing-mading pasangan dan meletakkan ke pangkuan mereka,


"Syukurlah, kalian sudah sadar. Semua ini berkat Ayesha dan sihirnya!" kata Marta. Di kedua kelopak matanya sudah meneteskan air mata.


Darmanto membelai lembut wajah Marta menyeka air mata yang membasahi wajah manisnya, "Apakah aku sudah di neraka atau di surga?" tanya Darmanto.


Marta dan semua orang tertawa, "Mungkin karena engkau berada di pangkuan Marta anggaplah kau di surga!" jawab Heru. Ia tersenyum melingkarkan tangannya ke bahu istrinya yang sudah berangsur pulih.


"Bagaimana dengan, Junaid? Kami menemukan Toto palsu," tukas Darmanto.


Junaid di sampingnya terkekeh geli, "Aku di sini kawan! Aku belum mau mati, aku belum membalaskan dendamku kepada Alberto. Lagian aku belum, menikah!" jawab Junaid. Ia menyentuh rambut ikal milik Nara.


Semua orang tertawa menanggapi semua celotehannya, Toto beringsut mendekati mereka. Junaid memandang lirih kepada Toto, "Aku ingin lihat apa benar di lengan kirimu ada bekas luka samurai?" tanya Junaid.

__ADS_1


Ia masih mengingat begitu cerdiknya Darmanto mengenali Toto, "Tentu saja, pertama kali aku tiba di sini. Aku diserang ninja memakai samurai, dia meninggalkan luka di sepanjang lenganku. Saat itu tidak ada Nara," ujar Toto.


Ia membuka gulungan bajunya selama ini, ia selalu memakai baju berlengan panjang sebelah dan sebelah lagi ia sobek. Mereka mengira jika Toto menyukai tren model dengan mode seperti itu.


Di sepanjang tangannya tergaris bekas luka, berwarna putih yang tidak lagi menyisakan sedikit pun warna kulit aslinya. Mereka semua bergidik membayangkan saat Toto mendapatkan luka itu, "Bagaimana kau bisa bertahan?" tanya Kabir.


Ia begitu ngeri membayangkannya, "Saat itu aku sedang melawan beberapa orang samurai, kau bayangkan aku yang baru saja tersadar harus melawan begitu banyak ninja," ucap Toto,


"aku terluka parah, tetapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa membunuh mereka. Aku hanya tahu aku terbaring dengan darah di sekujur tubuhku,


"Seekor rusa menjilati lukaku sebelum aku pingsan. Dan setelah aku sadar Darmanto menemukanku dan sudah membalut lukaku, dengan tumbuhan yang sangat bau sekali!" jawab Toto.


Ia sangat berhutang budi kepada Darmanto, sehingga ke mana pun mereka bersama hingga mereka bertemu dengan Will yang sedang melawan berapa hatter,


kemudian mereka bertemu Zai yang terluka saat ia berlari dari kejaran srigala.


Mereka menceritakan semua kisah mereka, hingga semua orang terdiam. Junaid memandang Toto,


Darmanto hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka, ia sangat mengenal ketiga temannya. Semenjak mereka di pulau, ketiganya telah menemaninya bersama bertarung dan bertahan hidup.


Nara dan Marta menyuapi pasangan mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang, keduanya menjadi sedikit manja dengan kekasih hati mereka.


Hendro mendekati Mona, ia duduk di dekatnya. Ia memandang semua sahabatnya, "Lalu kapan kita akan bergerak pergi ke Hutan Kegelapan?" tanya Hendro.


Semua orang memandang ke arah Ayesha, "Mengapa kita harus, ke sana?" tanya Junaid. Semua pion bercerita mengenai negri tersembunyi di Pulau Kematian tepatnya di hutan kegelapan.


Mereka menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal, "Aku rasa besok malam, karena besok malam adalah gelap bulan. Aku tidak ingin Alberto dan semua kaki tangannya berkeliaran dan menangkap kita." Ayesha memandang semua orang.


Darmanto dan junaid memandang Ayesha, "Terima kasih, sudah menyelamatkan kami. Ayesha dan kalian, semua!" ucap Darmanto.


"Iya, tanpa ada kalian. Aku tidak tahu ..., mungkin aku sudah di neraka tetapi aku tidak sanggup berada di sana namun, aku tidak pantas berada di surga-Nya," timpal Junaid.

__ADS_1


Semua orang tersenyum, "Itulah arti dari persahabatan, jadi mulai sekarang bagaimana kita mengenali satu dan yang lain?" tanya Mona.


Ia begitu ngerinya mendengarkan kisah Junaid dan Darmanto yang terluka karena ulah Toto palsu, semua orang terdiam. Semuanya berpikir, "Aku ada usul bagimana bila kita membuat suatu tanda di tubuh, kita?" ucap Nara.


"Aku tidak mau ditato, apalagi sampai melukai, tubuhku!" celetuk Kirana. Ia sangat ngeri membayangkan jarum-jarum menancap di tubuhnya.


Ayesha duduk bersila di samping suaminya,


"Aku ada usul, aku akan menggunakan sihirku untuk membuat di mana kalian ingin membuat tanda itu. Saranku buatlah di tempat yang tidak mudah terlihat," ucap Ayesha.


Semua orang terdiam, "Sebaiknya kita membuat tanda P saja singkatan dari kata pion di punggung kita," usul Mona.


Semua orang setuju, akhirnya dengan kekuatan sihir Ayesha ia membuat tato sihir di punggung kanan masing-masing orang dengan singkatan P termasuk Sukuna.


Tanda itu begitu uniknya, "Bila kelak ada pun salah satu dari kalian, ada yang tertanggap dan Alberto ingin menirunya. Tanda itu tidak akan bisa diplagiat karena ia akan selalu bersinar, bila kalian saling memanggil.


"Aku sudah membuat lingkaran di antara kalian seperti sebuah labirin yang bertemu di satu putaran yang tidak terputus kecuali kematian," ucap Ayesha.


Semua orang menyentuh punggung mereka merasakan hawa dingin merasuki jiwa dan tubuh mereka, "Pion, Kirana!" ucap Kabir.


Sebuah cahaya perak muncul dari tanda P di punggung Kirana, "Akh, syukurlah! Jadi, lega!" tukas Hendro.


"Aku tidak bisa membayangkan, jika aku harus bertemu dengan Mona palsu. Apa yang harus aku, lakukan?" tandas Hendro. Ia sedikit bergidik membayangkannya jika ia dan Mona harus saling bunuh,


"Aku tidak akan bisa membunuh salah satu dari kalian, apalagi Mona. Aku bisa mati tanpamu, Mona sayang!" kata Hendro.


Ia menatap Mona penuh binar-binar cinta di matanya kala menatap Mona, "Hallah, preet! Gombal buaya darat," ketus Mona.


Walaupun sebagian hatinya begitu berbunga-bunga, "Idih, ada yang baperan. Pasti berbunga-bunga, tuh!" goda Will.


Ia menatap Mona, "Iya, bunga telek Ayam. Puas dikau!" balas Mona kesal. Semua tertawa menanggapinya,

__ADS_1


__ADS_2