
Will mengamatinya sebentar, melihat ke arah kening si hatter setengah robot, ia melihat si hatter sudah mulai membeku.
Hanya sebagian tubuh mereka yang terbuat dari besi yang membuat mereka masih kuat berjalan dengan dibantu alat pemicu gerak dari lempengan yang digenggamnya.
"Aku rasa, semua hatter robot ini adalah mayat hatter. Crabs mencoba untuk menggerakkan dan memanfaatkan mereka lagi, dengan bantuan chip yang ia tanam ini." Will memandang lempengan di tangannya,
"mereka hanyalah sebentuk boneka dari mayat yang dihidupkan dengan menggunakan chip ini," ujar Will.
Ia mundur dan menebakkan laser Kabir dengan mode api, semburat api ke luar dari moncong senjata laser hingga memanggang habis si hatter robot yang tersisa hanyalah beberapa kerangka besi yang sudah menjadi kemerahan.
Ketiganya mencoba berlari melanjutkan perjalanan mencoba untuk menghindari para hatter, " Mereka ..., para hatter kali ini, cukup merepotkan." Sambung Will.
Di sepanjang pelarian mereka masih berpikir, "Bagaimana caranya mengalahkan para hatter yang telah berubah menjadi setengah robot?" batin ketiganya.
Mereka terus berlarian Will ingin segera pulang ke gua air terjun, ia ingin melihat di laptopnya apa yang ingin ia ketahui mengenai,
hatter yang sudah berubah menjadi robot,
"Aku ingin tahu, kelemahannya. Bagaimana mungkin bila kami harus melompati lehernya dan mengambil lempengan? Hanya Kabir yang lihai melakukan itu," batin Will.
Mereka masih berlari menembus malam yang pekat, mereka hampir saja saling bertabrakan dan menghunuskan senjata ke arah Darmanto, Marta, Toto, dan Rani.
"Akh, aku kira hatter setengah robot!" ucap Will. Ia begitu senangnya melihat keempat sahabat mereka, mereka saling rangkul dan tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka saling bercerita mengenai musuh yang baru saja mereka temui, "Ada-ada saja ulah si Crabs, tahu begitu kemarin kita bunuh saja!" umpat Kirana.
__ADS_1
Marta melihat ke arahnya, "Memang kalian sudah pernah, memasuki kastil dan menyerang Alberto?" tanya Marta.
Kirana melihat ke arahnya, "Sudah, bahkan Mona sudah memotong kedua tangannya, tetapi kami tidak membunuhnya!" jawab Kirana.
"Sayang, sekali!" jawab Darmanto dan Marta serempak. Mereka masih saja terus berlarian membelah semak-semak dan kabut malam, "Tetapi kami tidak menemui si Alberto, entah di mana ia bersembunyi?" ucap Kabir.
"Pria licik itu, pasti bersembunyi di suatu tempat yang terlindungi dan aman. Andaikan aku jadi dia pun, pasti melakukan hal yang sama." Darmanto menatap pekatnya malam.
Mereka mencoba mendekati asal ledakan, mereka menghentikan larinya dan bersembunyi di balik pepohonan. Mereka melihat beberapa tentara membuka gerbang tembok pembatas yang mengarah kepantai,
mereka melihat bekas puing-puing ledakan, "Ternyata ada pintu yang tersembunyi, pantas saja mereka dengan mudahnya membawa pasokan barang-barang yang mereka inginkan" jawab Toto.
Mereka terus mengamati kelakuan semua tentara, "Kemungkinan, salah satu sahabat kita telah melakukannya. Kerja yang sangat, bagus!" ujar Darmanto.
Mereka masih saja memperhatikan, "Apa yang mereka bawa? Andaikan kita semua di sini, kita pasti bisa menyergap semua itu!" ucap Kirana.
Ia sudah menghunuskan senjata m60-nya ingin menembak Toto, Marta melemparkan sangkurnya tepat mengenai leher si tentara. Marta langsung mengambil sangkur dan beberapa granat dari saku si tentara, mereka bergerak secepat kilat meninggalkan lokasi.
Para tentara berbaris menembakkan peluru dari senjata mereka, menghujam ke arah persembunyian Kabir dan kelompoknya. Marta melemparkan Geranat ke arah para tentara berpakaian loreng hitam, hingga ledakan beruntun.
Darmanto menembak semua tentara yang berusaha menyelamatkan diri mereka dari ledakan, Will menembakkan senjata lasernya memporak-porandakan segala hal di depan.
"Mundur!" teriak Kabir. Mereka semua berlarian mundur dan masih menembakkan laser juga amunisi yang masih tersisa. Mereka berlarian menjauhi lokasi pelabuhan yang sudah hancur.
Sebagian tembok kembali meledak akibat tembakan laser yang dilakukan Will, kembali bunga api mengitari pulau menambah terang di bagian sekitar tembok pembatas, burung-burung berterbangan dari arah pantai.
__ADS_1
Suasana semangkin meriah seperti tahun baru kembali, Kabir dan kelompoknya melihat celah dermaga, "Andaikan masih ada kapal! Kita bisa kabur secepat kilat, akan tetapi .... " Kabir terdiam, ia merasa Alberto pun akan menghujami mereka dengan bazoka dari helinya memburu mereka.
Semangkin sulit buat mereka untuk bertahan hidup di lautan lepas, segalanya benar-benar sulit untuk ke luar hidup-hidup dari pulau. Ia mulai berpikir cara satu-satunya adalah menghancurkan Alberto dari kastilnya." Kabir semangkin berpikir keras sambil berlari.
Mereka terus berlari di tengah pelarian, mereka bertemu dengan para hatter yang lain lagi yang masih manusia. Mereka saling pandang dan bersiap ingin saling membunuh, "Menyerahlah!" ucap salah seorang hatter.
Ia memandang tajam ke arah Kabir, "Langkahi dulu, mayatku!" jawab Kabir dengan lantang dan maju menyerang si hatter dengan pedangnya. Ia menyabetkannya ke arah alat vital si hatter, ia mendapatkan balasan yang luar biasa imbangnya.
Di sisi lain semua pion kembali maju dan bertempur, "Mengapa tidak ada habisnya, sih? Aku sudah lelah!" ucap Kirana. Ia masih saja menancapkan samurainya ke perut salah satu hatter berkepala botak.
"Aku pun tidak tahu, dari mana mereka semua ini datangnya. Hei, apakah kalian tidak lelah menjadi anjing Alberto?" tanya Kirana.
Seorang pria hatter bertubuh ceking mendesis melompat ke arahnya, "Aku juga sama lelahnya seperti kalian, hanya saja—" ia seketika amruk ke tanah tewas.
Seorang hatter lain, melemparkan pisaunya ke arah si hatter bertubuh ceking yang sekarat di tanah. Kirana begitu kasihan melihatnya, ia berlari mendekati si hatter yang sekarat.
Entah dari mana keberanian Kirana menggenggam erat tangan si hatter, "Pergilah, ke arah tebing di wilayah hatter. Di sana kau bisa menghancurkan semua hatter hingga tidak tersisa," ucap si hatter menghembuskan napasnya.
Kirana hanya membeku di sisi si hatter, ia merasakan suatu rasa kasihan kepadanya, "Mereka juga, sama lelahnya dengan semua orang! Seperti semua orang-orang beeluf dan para pion, mungkin semua orang di pulau ini juga sama lelahnya," batin Kirana.
Ia menutup kedua belah mata hatter yang masih terbuka, ia merasakan suatu iba di hatinya. Namun, ia tidak menyangka sahabatnya sendiri membunuhnya, hanya karena ia ingin mengatakan bahwa ia lelah.
Kirana beranjak dari jongkoknya, kembali menghunuskan samurainya. Ia mencari orang yang telah tega menganiaya sahabatnya sendiri, hanya sebuah kata lelah.
Ia melihat seseorang di sudut pertempuran yang hanya mengawasi jalannya pertempuran.
__ADS_1
Kedua retina mereka saling pandang, ada kebencian di sana. Kirana berlari mengacungkan senjatanya, mencoba untuk menebas seorang pria yang berpenampilan sedikit bersih dari pada yang lainnya, dengan memakai baju yang terbuat dari kulit manusia.