Pulau Kematian

Pulau Kematian
Memilih penerus beeluf


__ADS_3

Para hatter mulai berjalan menuju suara dan penciuman, yang mereka rasakan. Junaid mengendap mendekati sungai hitam dengan pasir yang menghisap apa pun yang masuk ke dalamnya.


Klontangan suara besi dari tubuh si hatter membelah kesunyian malam, ia terus bergerak mencari asal suara dan bau. Menerka-nerka di mana para pion bersembunyi, ia terus bergerak menuju ke arah Junaid.


Si hatter menembakkan senjata yang sama persis dengan senjata laser, membuat apa pun yang tersentuh menjadi hancur, semua pion mulai kecut.


Junaid melemparkan sesuatu ke dalam pasir hisap, si hatter langsung menembak dengan kecepatan yang luar biasa menembak sepotong dahan yang sengaja dilemparkan oleh Junaid.


Mereka semangkin bingung, "Bagaimana caranya, agar si hatter bisa lengah dan membuang sen—" bisik Kabir kepada Darmanto.


Dor! Dor! Dor!


Serangan beruntun ke arah keduanya, membuat keduanya kalang kabut. Keduanya melambung ke kiri dan kanan tepat saat tembakan itu menghancurkan sebuah pohon tempat mereka berlindung.


Semua orang membentuk lima titik di antara si hatter, berusaha untuk mengacaukan pendengarannya.


"Sebelah, sini!" teriak Marta.


"Jangan, kemari saja!" teriak Nara. Mereka berusaha bergema membunyikan suara ribut dan mereka menggiring si hatter menuju ke pasir hisap.


Si hatter terus saja melangkah, dan menembak ke sekelilingnya.


Tanpa ia sadari ia memasuki sungai hitam dan terus masuk ke dalam, ia masih saja terus menembakkan senjatanya hingga seluruh tubuhnya tenggelam tak terlihat.


Keheningan terjadi sesaat, para pion kembali mencari hatter atau tentara yang memasuki Hutan Kegelapan. Keheningan terjadi lagi, semua bersembunyi di balik semak berusaha untuk tidak bersuara.


Dua hatter mayat masih berkeliaran, "Untungnya, Alberto hanya sedikit mengirimkan hatter mayat. Bila banyak, kita pasti selesai!" ujar Heru.


Mereka masih memandang ke arah hatter, "Kita harus memisahkan mereka, jika tidak. terlalu sulit untuk menaklukkannya," ucap Kirana.


Hendro menatap lekat ke arah hatter yang memakai lempengan plat di kedua pelipisnya, ia mulai berpikir bagaimana cara mengambil lempengan atau chip di tengkuk belakang si hatter.

__ADS_1


Will, Zai, dan Toto berlari dengan arah zigzag mencoba untuk memisahkan mereka. Benar saja kedua hatter kebingungan mereka saling serang sendiri, kedua hatter terjatuh.


Semua pion mulai ke luar dari persembunyiannya, tetapi kedua hatter melakukan gerakan. Mereka berusaha untuk bangkit lagi, Nara dan Mona melompat dengan kecepatan yang luar biasa langsung menebas leher kedua hatter hingga terputus.


Kilatan percikan api dari sambungan wayar di sekujur tubuh hatter memantul selerti konslet listrik. Mereka mundur menjauh, kedua mayat bergerak menggelapar-gelepar hingga percikan bunga api padam meninggalkan sebuah asap seperti terbakar.


Trio mekanik mengambil senjata si hatter berusaha untuk meneliti dan memanfaatkannya, mereka berlari secepat kilat setelah menenggelamkan semua mayat yang tersisa ke dalam sungai hitam.


Mereka kembali ke tanah tak kasatmata, karena matahari mulai meninggi. Ayesha menantikan mereka di balik gerbang pintu pohon gerowong, ia sudah berharap cemas.


Para ketua dan Sesepuh Yahmen belum juga selesai melakukan ritual sihir mereka untuk membuat perisai pelindung.


SesepuhYahmen dan para tetua sudah mengumpulkan beberapa wanita beeluf, untuk diajari membuat perisai pelindung. Semua itu untuk melindungi anak-anak yang ada di tanah tak kasatmata,


Yahmen masih pulang pergi ke menara pasirnya melatih para beeluf berpakaian merah.


Ayesha begitu senang melihat semuanya kembali pulang dengan selamat, "Syukurlah! Kalian selamat, aku melihat dari balik perisai lawan kalian mengerikan!" ujarnya.


Ia sudah menyongsong semua orang, ia sudah menyediakan minuman jahe hangat dan beberapa makanan. Mereka makan dengan diam, deru heli berputar di atas hutan kegelapan.


Semenjak dahulu hanya sesepuh Rayan yang berhasil keluar masuk Hutan Kegelapan,


Setelahnya hanya Muti dan Yahmen, karena hanya merekalah yang masih tersisa dari kepala suku beeluf penghuni asli pulau. Mano, Balian, dan Aoi sendiri pun tidak pernah berani memasuki Hutan Kegelapan lebih dalam.


Mereka takut tersesat, selain itu terlalu banyak rumor yang membuat semua orang enggan memasuki Hutan Kegelapan.


Sesepuh Yahmenlah yang masih tersisa dan mengetahui segala hal mengenai apa yang tersembunyi di Hutan Kegelapan.


Namun, ia pun tidak pernah mau mengatakannya. Apa yang tersembunyi di dalam sana,


pada saat-saat tertentu ia pergi ke dalam Hutan Kegelapan seorang diri.

__ADS_1


Sementara para pengawalnya ia biarkan tinggal di pinggir hutan, tiada seorang pun yang tahu apa yang ia lakukan di sana.


Yahmen terpekur di bawah pohon mahoni, dengan rambut putihnya yang panjang melambai-lambai tertiup angin.


Wajah tuanya, masih menyisakan garis kecantikan yang membuat Alberto mabuk kepayang. Ia memandang ke langit biru, seekor burung elang hinggap di lengannya. Ia seakan berbicara kepada si elang dengan suatu bahasa yang sulit dipahami,


si elang terbang kembali ke angkasa. Yahmen berdiri menatap langit, ia berjalan ke arah kerumunan semua irang semua warga langsung berdiri.


Yahmen duduk di tengah bale meja panjang, semua orang duduk kembali. Yahmen memandang semua orang, "Alberto membuka gerbang pelabuhan, beberapa kapal mendarat.


"Sepertinya bantuan senjata dan tentaranya bertambah, kemungkinan kita sedikit terancam. Aku ingin mengungsikan anak-anak dan wanita hamil ke hutan yang paling dalam," kata Yahmen.


Ia terdiam sejenak menatap lekat semua orang, semua orang menjadi ngeri dan ketakutan, "Tidak usah takut, aku hanya ingin kalian selamat. Bila kami mati pun aku ingin, Klan Beeluf tetap hidup.


"Ayesha dan Heru, maukah kelak kau dan anak keturunanmu memajukan wilayah beeluf ini?" tanya Yahmen.


Ia memandang pasangan suami istri di seberang mejanya, ia sangar berharap asa yang memimpin sukunya.


Ayesha dan Heru saling pandang, keduanya terdiam. Ayesha hanya memandang suaminya, "Maaf sesepuh, semua keputusan ada di tangan suami saya!" ujar Ayesha.


Heru menatap Ayesha, Sesepuh Yahmen dan semua orang, ia merasakan suaru keibaan melihat anak-anak dan para orang tua juga anak belia yang sudah mulai mengenal senjata.


Sementara di belahan bumi lain mereka sudah belajar dan mengenal berbagai ilmu, sebaliknya para Klan Beeluf sangat jauh tertinggal dan di bawah bayang-bayang tirani Alberto Kuro.


Ia menatap semua pion, sahabatnya yang selama ini bersama dengannya. Ia mendekati Ayesha merengkuhnya, "Beeluflah yang telah menyelamatkan istriku, hingga kami akan memiliki anak lagi.


"Aku akan memenuhi permintaanmu Seseouh Yahmen, aku Heru Prayoga dan keluargaku disaksikan seluruh sahabat pionku dan seluruh warga beeluf. Aku dan anak keturunanku akan menjaga beeluf sampai tetes darah kami!" sumpah Heru.


Semua orang terharu dan meneteskan air matanya, Yahmen tersenyum ia menyeka air mata yang sudah mulai tertumpah. Hatinya sedikit lega, ia sudah rela dan ikhlas bila ia harus meregang nyawa kali ini.


Ia sudah mulai kelah menapaki waktu, terus bertempur semenjak ia mengingatnya. Ia tidak merasakan sebuah kedamaian semenjak hampir 50 tahun berlalu, "Aku dan Musuhku pun sudah sama, tuanya!" batinnya.

__ADS_1


Aoi menghampirinya menggenggam erat tangan kekasihnya, "Yahmen, sebelum kematian menjemput kita, maukah kau menikah denganku?" ucap Aoi.


Semua orang terperanjat, mereka tidak menyangka Aoi akan melamar Yahmen di depan semua orang.


__ADS_2