Pulau Kematian

Pulau Kematian
Memasuki Gedung


__ADS_3

Seorang wanita berlari kecil menuruni undakan tanah dan bebatuan karang ia mendekati si anak kecil, "Mana Ibumu, Fakri?" tanya Dara.


"Di balik batu, seorang kakak mengobati lukanya," ujar Fakri.


Dara menyeliSeorangnap melihat Rani mengobati si wanita, "Terima kasih, namaku Hara." Hara mengangsurkan tangannya memegang kedua tangan Rani.


"Sama-sama! Apakah kalian penduduk asli pulau ini?" tanya Rani.


Hara hanya menganggukan kepalanya, Dara muncul di depan mereka dari balik bebatuan.


"Kakak, apakah engkau baik-baik saja?" tanya Dara.


Ia berjongkok memeluk Hara, "Aku haik-baik saja, mereka telah menolong kami" ujar Hara.


Dara memandang Rani, "Terima kasih! Sudah menyelamatkan Kakakku," kata Dara dengan tulus.


"Sama-sama!" jawab Rani tersenyum.


Mereka ke luar dari balik batu besar dan mereka menyusuri pantai, di angkasa mereka melihat heli hilir mudik. Mereka mendengar di pelabuhan suara gaung kapal melemparkan jangkarnya mendarat.


Keempatnya dan10 orang Suku Hideng berlari menuju asal suara, mereka bersembunyi di balik pepohonan perdu.


Mereka mengamati para tentara Alberto yang memakai pakaian loreng hitam mengawal orang-orang mengendari alat-alat berat pertambangan.


Alat-alat berat pertambangan sejenis truk dan beko beriringan memasuki pulau tak bertuan.


Di angkasa burung elang Yahmen menguik dengan nyaringnya, Rani dan Sukuna melihat dengan jelas.


Hatter mayat mengawal dengan berkelontangan di samping alat-alat berat yang mulai berjalan masuk.


Keempatnya melihat petinggi-petinggi negara yang korup ikut masuk dengan mengendarai sebuah mobil zip.


Kesemuanya dikawal oleh tentara dan hatter robot.


Mereka terus mengawasi semuanya mengikuti dari jarak 100 meter, semuanya penasaran ke mana mereka akan membawa semua truk tersebut.


Iring-iringan berhenti di sebuah lapangan yang luas penuh dengan barak-barak dan bangunan luas mereka bisa melihat Alberto dan semua orang.


Mereka berjabat tangan dan tertawa penambangan sedang mereka lakukan, kebanyakan dilakukan oleh hatter robot. Para pion dan Suku Hideng melihat mereka dari persembunyian.


Setelah puas melihat, mereka berlari pulang dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Keempat pion mengikuti mereka dari belakang. Dara membawa mereka ke balik batu di mana para pion berkumpul


Para pion begitu senangnya berkumpul kembali tanpa ada yang tewas, kebahagiaan mereka tidak bisa dikatakan dengan apa pun.

__ADS_1


Mereka bercerita mengenai semua pengalaman mereka dan apa yang mereka lihat.


Semua orang terdiam, mereka berharap kembali ke Pulau Kematian untuk mengumpulkan sisa kekuatan untuk menyerang kembali ke pulau tak bertuan.


Rayun menatap semua orang, "Sebaiknya kalian tidak usaha pulang, Yahmen akan kemari berkunjung!" ujarnya menatap elang yang berputar di angkasa.


Semua pion menatap ke arah mereka, "Sepuh, sebenarnya sejak kapan Alberto mulai menduduki pulau ini?" tanya Kabir.


Rayun dan semua Suku Hideng melihat ke arah Kabir, "Mereka datang sekitar 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, ia mulai membangun semuanya 5 tahun lalu dan membunuh semua penduduk pulau.


"Sehingga kami berada di sini, bagi kami yang masih selamat berusaha untuk mempertahan diri dengan bersembunyi dan melakujan perlawanan.


"Alberto membunuhi kami karena ingin menguasai pulau ini, kami berusaha untuk melawannya. Namun, kami kalah dipersenjataan," ujar Sepuh Rayun.


"Sepuh, bagaimana jika kami membantu untuk mengalahkan Alberto? Kami pun ingin kembali ke dunia kami," tanya Darmanto.


Semua orang berkasak-kusuk, mereka semuanya tersenyum.


"Kita menunggu Yahmen, aku harap kita semua bersatu untuk mengalahkan Alberto dan pasukannya." Rayun memandang semua orang.


"Aku sangat bahagia jika kita semua berhasil menumpas mereka, aku sudah muak melihat tirani seorang Alberto yang serakah!" jawab Junaid.


"Bagiamana jika nanti malam kita kembali mencuri persenjataan Alberto? Kita harus mengajari Suku Hideng, untuk mengajari semua orang Hideng untuk menggunakan senjata. Jika kita ingin menang," ucap Kabir.


Ia memandang semua orang, "Aku setuju!" jawab semua pion serentak.


Semua warga Hideng saling pandang dan berbisik-bisik, "Kami setuju!" jawab mereka serentak.


Akhirnya, mereka setuju untuk mencuri di pangkalan Alberto.


Pada malam hari, semua pion dan beberapa orang hideng yang lumayan kuat di antara mereka bergerak.


Mereka mengendap-endap menyeberangi malam yang pekat, berusaha untuk mendekati pangkalan Alberto.


Mereka berusaha tidak menyentuh pepohonan, menyelinap masuk ke dalam gedung Alberto.


Mereka berusaha secepatnya menyelinap tanpa bersuara, memasuki gedung bernuansa steinles dan krom. Berjalan cepat menyusuri semua koridor panjang.


Mereka masuk berlahan dan menyelinap dari tiang-tiang penyanggah gedung yang besar sebesar pohon kelapa.


Akan tetapi, belum lagi mereka berhasil mencuri persenjataan.


Gedebam!

__ADS_1


Pintu masuk tertutup memerangkap mereka semua di dalam gedung, semua pion dan para Hideng terkejut.


Mereka saling pandang dan mencengkram erat senjata mereka, pintu lain terbuka. Layar monitor virtual kembali lagi.


Alberto tertawa beserta demua petinggi negara dari Indonesia dan negara-negara asing yang terlibat.


"Apa kubilang, mereka pasti akan kembali. Sekarang saatnya bagi para pion untuk mati begitu juga dengan suku Hideng yang goblok itu!" ujar Alberto.


Tawa menggema di antara mereka semua, mengejek semua kebodoh dan ketololan dari semua pion, Kabir dan yang lainnya merasa terpojok.


"Sila, siapa sangka kita akan terpojok!" umpat Kabir.


Akan tetapi, semua pion terlihat santai tanpa ketakutan atau bergeming. Melihat dengan angkuhnya ke arah Alberto Kuro.


"Hahaha, kau pikir kau bisa membunuh kami? Memang kau Tuhan?" ujar Nara.


Ia sangat muak dengan Alberto Kuro, "Bedebah! Di Pulau Kematian mungkin kalian berhasil mengalahkanku, tidak dengan sekarang!" ujar Alberto.


"Memang kau yakin? Telah berhasil menangkap kami!" ejek Mona.


Trio mekanik mengeluarkan remote tombolnya, "Pertunjukan dimulai!" ucap ketiganya.


Ketiganya menekan tombol remote bersamaan.


Duar! Duar! Duar! Ledakan beruntjn di luar. Alberto dan semua antek-anteknya terkejut, mereka melihat di kayar monitor lain.


Ledakan di sekitar pertambangan yang menghancurkan semua alat beratnya dan di di luar gedungnya ledakan menghancurkan laboratorium dan juga semua heli.


Alberto melihat semua tentaranya tewas dan terluka, ia tidak menyangka jika para pion dan Suku Hideng berhasil menyudutkannya.


Selain itu Alberto tidak menyangka jika Suku Beeluf sudah berada di luar gedungnya bertempur dengan tentaranya.


"Bagaimana kejutan dari kami? Kau kira kami bodoh? Bukankah disket dan seluruh rencana isi kopermu telah kami retas dan curi di gua persembunyianmu di Pulau Kematian?" ucap Kabir.


Alberto dan semua orang berdiri, mereka sangat marah.


"Ayo, tunjukan kekuatan kita kepada mereka!" perintah Alberto.


Tiba-tiba semua dinding stainles dan kron terbuka, memperlihatkan beberapa pintu.


Dari dalam pintu ke luar tentara hatter bersenjata lengkap baik pedang, samurai, dan senjata laser. Untuk membantai mereka.


Mereka berkelontangan menyerbu ke arah para pion dan Suku Hideng, mencoba untuk mengalahkan mereka semua.

__ADS_1


Kabir dan semua pion mengeluarkan senjata mereka berusaha untuk melawan.


Mereka saling pandang dan menggenggam erat senjata, menatap dengan buas ke arah para hatter.


__ADS_2