
Yahmen memandang semua klannya rasanya ia ingin menjerit tetapi janji dan tanggung jawabnya kepada Muti membuatnya untuk terus melangkah.
Selesai pemakaman Muti mereka kembali ke Menara Pasir, Sepuh Rayan memandang ke arah matahari jingga karena senja telah tiba.
Seakan alam pun bersedih akan segala kepedihan yang melanda pulau. Seharusnya kemenangan telah mereka raih tetapi karena pengkhianatan dan akal licik Albrtolah membuat segalanya gagal.
Muti berdiri di sisi Sepuh Rayan, "Sepuh ...," sapa Yahmen berusaha untuk memecah kesunyian.
Rayan memandang Yahmen, ia tahu kesedihan dan kepedihan yang sedang dijalaninya, ia kehilangan kakak, sahabat, dan kekasihnya.
"Sabarlah, percahayaha akan kebesaran Allah. Sebaiknya teruslah berjuang seperti yang Muti lakukan. Demi pulau dan semua klan, aku percaya kepadamu!" saran Rayan.
Tangisan Yahmen mulai merebak, ia benar-benar rapuh untuk kali ini. Ia merasa hancur.
"Jangan mengikuti amarah dan dendammu. Jangan mengganggu dan melukai Mano, Balian, dan Aoi. Suatu saat kau akan menyesalinya bila kau menyakiti mereka," sambung Rayan.
"Tetapi Sepuh," balas Yahmen. Rasanya ia sangat ingin membalaskan dendamnya.
"Anakku, lihat saja kedepannya. Apakah mereka benar-benar jahat dan berpihak kepada Alberto ataukah mereka masih berjuang demi pulau? Jangan sampai karena emosimu segalanya menjadi hancur," nasihat Rayan.
Yahmen diam, "Mengapa Sepuh Rayan dan Kak Muti selalu melarangku untuk menyakiti Mano? Ada apa sebenarnya?" batin Yahmen.
Rayan menyentuh kepala Yahmen, "Perjuangkanlah, beeluf. Seperti awal mula impianmu dan Muti. Sisanya serahkan kepada, Allah!" ujar Rayan.
Ia meninggalkan Yahmen, yang masih memandang matahari yang mulai merayap ke peraduannya.
***
Sementara Mano, Balian, dan kelompoknya tinggal di Tanah Tak Kasatmata. Mereka memulai bekerja membangun wilayah mereka, bercocok tanam.
Mano masih saja mencuri di kastil Albarto ia berusaha mengambil banyak benih dan banyak hal, ia telah banyak diajarkan Muti untuk bercocok tanam, menenun, dan menganyam juga membuat senjata.
Ia dibantu oleh kekasih hatinya Balian, "Bagaimana jika kita menikah Mano?" tanya Balian.
Mano memandang Balian dengan tatapan sejuta rasa yang sulit untuk diungkapkan.
__ADS_1
"Maafkan aku Balian, bukan aku tidak mau. Akan tetapi, selama Yahmen tidak memaafkan aku. Aku belum mau menikah, apa pun yang terjadi.
"Aku ingin memperjuangakn pulau, dan kebebasan semua orang. Walaupun nyawaku taruhannya. Kau tahu, aku tidak bisa bahagia. Bila sahabatku menderita," ujar Mano.
Balian menatapnya dengan sebuah rada kesedihan, "Bagaimana jika Yahmen tidak memaafkanmu? Apa selamanya kita hanya menjadi sepasang kekasih?" jawab Balian.
"Aku tahu, perasaanmu begitu pun perasaanku. Mengertilah! Bila kau tidak bisa, aku ikhlas jika kau ingin menikah wanita mana pun." balas Mano.
Ia tidak ingin bahagia sementara Yahmen dan Aoi entah di mana. Mereka sangat menderita, lagian ia ingin menghancurkan beeluf yang mengaku-ngaku menjadi bawahannya.
Sejak berpisah dengan Yahmen, Mano lebih banyak diam. Ia banyak. Menghabiskan waktunya untuk bekerja dan membangun wilayah yang diberikan Muti kepadanya.
Semua hasratnya hanyalah pulau dan kebebasan, ia ingin diakui Yahmen. Ia bukanlah pembunuh dan pengkhianat, ia adalah wanita yang menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan setia kawannya.
Ia selalu menepati janjinya, ia yakin Tuhan tidak pernah tidur dan akan tahu segala-Nya. Ia yakin, suatu saat nanti mereka kembali akan bersatu membunuh Alberto walaupun waktu itu entah kapan.
"Aku yakin, kebenaran selalu menang Lian! Percayalah padaku. Ada masanya kelak, kita menikah dan bahagia." Mano meraih tangan Balian, mengecupnya dan menangkupkannya di wajahnya.
"Baiklah, kita akan menanti waktu itu tiba!" jawab Balian.
"Aku umumkan, kita akan berjuang untuk membantu Yahmen. Aku yakin ada kesalahpahaman akan semua ini.
"Aku hanya minta bantulah beeluf merah yang merupakan saudara kita, walaupun tidak terang-terangan membantunya.
"Dan bagi kalian yang memiliki mimpi untuk menikah dan memiliki anak, menikahlah. Aku akan mencari Sepuh Rayan untuk menikahkan kalian.
"Aku ingin beeluf berkembang biak," ujar Mano.
Balian terdiam di bawah pohon beringin, "Kau memberikan pernikahan untuk kaummu, tetapi tidak untukmu!" batin Balian sendu.
Namun, cintanya lebih kuat dari apa pun. Sehingga ia pun rela hanya menjadi sepasang kekasih. Mano yang bersipat ksatria tidak akan pernah mau disentuh sampai kapan pun.
Ia selalu memegang janjinya, "Mungkin sudah nasib kami harus, begini!" batinnya.
Ia tersenyum memandang kekasihnya yang kini sudah berambut pendek, tetapi kecantikannya selalu saja membuat keabadian cinta yang tanpa sarat untuk terus berada di sisinya.
__ADS_1
Setiap malam Mano duduk di dahan beringin meniup seruling pemberian Yahmen, ia memotong rambut panjangnya dan menguburkannya di tebing hatter.
Ia ingin di mana pun Yahmen berada ia ingin selalu menemaninya. Mano hanya mampu melihat Yahmen dari kejauhan ia tidak ingin mendekatinya.
Ia tahu Yahmen orang yang sangat keras kepala.
Mano tidak melihat Aoi, ia merasa Aoi telah tewas di pertempuran.
Mereka benar-benar terpisah jalan, untuk sementara waktu pulau sedikit damai. Walaupun heli Alberto masih hilir-mudik di angkasa mengangkut kargo
Mereka tidak peduli apa yang dilakukannya, mereka membangun semua kekuatan mereka.
Yahmen meniup seruling hanya di bulan purnama untuk alam, selebihnya ia hanya duduk dan berdiam diri di tebing hatter.
Memburu dan membantai tentara Albarto, ia tidak mengharapkan Aoi kembali. Anak buahnya melihat Aoi dan Mano bercinta di gurun.
Membuat jiwa dan hatinya semangkin sakit dan benci akan mereka. Namun, ia berusaha untuk bersabar dan memenuhi janjinya kepada Muti.
Tahun demi tahun mereka lewati tanpa pernah saling sapa, mereka terus berjuang walaupun berseberangan jalan.
Yahmen tidak ingin berbicara dengan Aoi, ia benar-benar membuang Aoi dari kehidupannya.
Aoi telah sembuh bersama dengan srigala-srigalanya, tetapi Yahmen telah membenci Aoi tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
Akhirnya Aoi, Balian, dan Mano tinggal bersama di Tanah Tak Kasatmata.
Aoi tidak ingin tinggal di tebing hatter karena semua itu akan membuatnya semangkin sedih. Ia melihat kekasihnya, tetapi ia tidak mampu merengkuhnya.
Alberto semangkin gencar membangun segal hal di kastilnya, laboratorium dan ia juga membuat gebrakan baru membuat suatu perburuan kepada pion-pion yang entah dari mana ia datangkan.
Setiap waktu layar monitor di angkasa selalu terlihat, uban pun telah tumbuh di rambutnya. Begitu juga dengan Yahmen dan ketiga sahabat mereka.
Akan tetapi, perjuangan mereka untuk membebaskan pulau belum juga mampu mereka lakukan. Mereka selalu saja kalah, oleh Alberto. Ia di dukung oleh banyak orang yang mereka sendiri pun tidak tahu siapa.
Pulau kematian semangkin kacau, Alberto membuat hatter bonekanya, juga samurai yang ia ganti menjadi ninja, dan beeluf penjaga pasokan listriknya yang bepakaian sedikit vulgar.
__ADS_1