
Semuanya saling pandang dan diam, Heru tak henti-hentinya memandang sang istrinya. Lima tahun sudah perpisahan mereka, bukanlah waktu yang singkat.
Ia masih terus menggenggam tangan Ayesha, "Apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Ayesha mengharapkan solusi dari semua orang.
Ia inginkan keluarga kecilnya berkumpul lagi, begitu dengan semua para wanita beeluf. Mereka ingin berjuang dan membebaskan keluarga dan dirinya, apalagi selama ini semua perjuangan mereka segalanya hanyalah kesia-siaan belaka.
Di dalam perjuangan semua orang-orang beeluf yang sudah tewas dan masih bertahan, semuanya hanyalah tipu muslihat, yang tetap diuntungkan adalah Alberto Kuro.
Mereka hanya mendapatkan kematian, luka, dan penderitaan. Belum lagi siksaan bagi mereka yang melawan, tiada seorang pun yang mampu ke luar hidup-hidup dari Pulau Kematian. Apalagi keluarga mereka menjadi sandera, dari segala kelicikan malapetaka ini yang diciptakan oleh Alberto.
Kini, Ayesha menemukan suaminya. Selama ini ia beranggapan suaminya, telah menikah lagi atau meninggal dalam tugasnya. Ia tidak menyangka suaminya ada didekatnya, bahkan mereka saling memburu dan berniat membunuh satu dengan yang lain.
Alberto Kuro benar-benar tidak ingin melepaskan mereka, "Berarti Alberto memberikan cadar kepada kami, agar orang yang kami sayangi tidak mengenal kami lagi. Sehingga kami membunuh kalian," ucap Ayesha.
"Selain itu, kita sudah lama tidak memakan lagi makanan yang mereka berikan. Sehingga kesadaran kita kembali lagi," sambung Rani.
"Lalu bagaimana kalian, makan?" tanya Heru. Ia begitu prihatin terhadap nasib istrinya, "Kami berburu binatang apa pun, yang bisa kami makan di gurun. Asal kami terbebas dari Alberto Kuro," jawab Ayesha.
Mereka masih saja saling bergenggaman tangan, tidak ingin saling melepaskan lagi. Keduanya seakan ingin hidup dan mati bersama, perpisahan telah mengajarkan cinta yang kuat dan arti saling setia di antara keduanya.
"Aku mohon, tolonglah kami! Apa yang harus kita lakukan, aku sudah sangat rindu akan putri kami Nisa," tanya Ayesha, "begitu pun semua wanita beeluf ini," sambungnya lagi.
Keheningan terjadi, semua sibuk berpikir banyak hal. Kesemuanya mencoba mereka-reka apa yang akan mereka lakukan ke depannya, semua juga ingin bebas dari Pulau Kematian ciptaan Alberto Kuro.
Kirana di sisi Kabir merapatkan duduknya semangkin erat ke sisi samping Kabir, ia ingin mencari suatu kehangatan di sana. Ia ingin memberikan segala hal, yang ia miliki agar semuanya selamat dari pulau,
"Menurutku, sebaiknya kita menyamar. Aku ingin mengetahui bagaimana di sana, dan di mana Alberto Kuro menyembunyikan semua tawanan yang mereka gunakan untuk memperalat kalian," usul Kirana.
Semua orang saling berpikir, "Ide yang sangat bagus aku rasa," jawab Darmanto.
"Lalu bagaimana cara kita menyusup ke sana, Kirana?" tanya Hendro. Ia memandang ke arah Kirana, "Kita memakai baju mereka," balas Kirana.
"Lalu mereka memakai baju apa? Masa mereka tidak berpakaian?" tanya Hendro lagi. Ia memandang kesemua wanita beeluf di depan mereka, tidak munafik ia begitu penasaran karena mereka juga sangat cantiknya.
__ADS_1
"Kamu kalau lihat cewek cakep langsung, deh!" kata Mona. Ia mencubit perut Hendro, "Aduh, yank. Bukan, aku hanya penasaran saja!" bela Hendro. Ia menangkap tangan Mona yang terus mencubiti perutnya, semua orang tertawa melihat kelakuan keduanya.
Namun, Mona masih saja melakukan aksinya, "Sayang, percayalah! Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku," rayu Hendro.
"Huek, muntah!" jawab Mona kesal. Akhirnya ia duduk di pangkuan Hendro,
"Aku rasa, apa yang diutarakan Kirana adalah usul yang luar biasa. Kita akan bertukar pakaian dengan para wanita yang mau tinggal sementara di sini bersama para pion lain. Aku harap ini bukanlah jebakan kalian, untuk menangkap dan menghancurkan kami." Junaid menatap semua orang.
Ia sedikit was-was dengan semua wanita beeluf, ia takut bila mereka adakah kiriman Alberto. Apalagi Tuan Crabs sangat lihainya memanipulasi,
"Jangan khawatir, aku akan menjamin semuanya. Aku sendiri yang akan membunuh siapa pengkhianat dari wanita beeluf yang aku pimpin," balas Ayesha.
Heru begitu terpesonanya melihat kelakuan istrinya yang sudah banyak berubah, Ayesha bukanlah wanita yang sakit-sakitan lagi dan ia juga tidak secengeng masa lalu.
Keadaan benar-benar merubah Ayeshanya menjadi wanita yang kuat dan tegar, kehilangan orang yang dikasihi terkadang mampu membuat sebuah kelemahan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa.
Heru tidak lagi mampu berkata apa pun, biasanya dialah yang selalu menjadi panutan semua orang yang lebih muda di bawahnya. Kini ia hanya mendengarkan, ia masih saja memandang Ayeshanya. Ia begitu rindunya,
"Apakah kalian memiliki chip di dada?" tanya Nara. Semua wanita beeluf menggelengkan kepala, "Kami sudah memodifikasinya, hingga mereka menyangka kami masih selalu saja ada, dan tetap menjadi budak yang selalu memakai chip itu!" ucap Rani.
Nara mendekati Rani, mengambil chip dan menelitinya. Zai mendekat, ia mengambil laptopnya dan mencoba memasukkan chip tersebut ke USB-nya.
Dengan kepintarannya ia bisa melacak siapa sanderanya, "Apakah wanita ini yang menjadi sandera Alberto Kuro, untuk merantaimu?" tanya Zai.
Rani mendekat, "Iya, itu Ibuku!" jawab Rani. Air mata sudah membanjiri pipi mulusnya, Zai masih mengamati layar laptopnya. Ia merasa ada sesuatu, ia seperti pernah melewati semua ini.
Bahkan, ia merasa tidak asing. Ia ingin meyakinkan pemikirannya "Aku ingin, semua wanita beeluf membawa chipnya kemari. Aku akan memeriksanya satu per satu," kata Zai.
Semua wanita beeluf berbaris satu per satu memberikan chipnya kepada Zai, ia dengan sabarnya mencari siapa saja sandera dari mereka.
Setelah selesai, Zai mengamati semua tempatnya.
Ia terus mengamatinya, "Kabir, cobalah, kemari!" panggil Zai. Kabir mendekati Zai menunjukkan layar monitor ke arah Kabir, "Apakah engkau mengingat tempat ini?" tanya Zai.
__ADS_1
Semua pion mendekat, "Hutan Kegelapan?" jawab mereka serempak.
"Berarti pandanganku tidak salah, mereka menyembunyikan semua sandera di dalam Hutan Kegelapan. Hanya saja .... " kata Zai. Ia bingung untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa?" tanya semua orang. Mereka menatap Zai dengan penasaran, "Bagimana cara kita, ke sana? Sementara bila kita kesana langsung, para beeluf akan ketahuan.
"Bahwa mereka telah menemukan tempat sandera, sehingga mereka akan membunuh semua sandera. Ink yang memusingkanku," sambung Zai.
Ia menatap semua orang, "Aku ada usul, kalau kalian setuju!" kata Kirana. Semua orang memandangnya, "Begini, gunakan kepandaianmu untuk memodifikasi semua chip dengan bantuan kepandaian Nara dan para beeluf, sehingga Alberto merasa para beeluf masih berada di gurun," ucap Kirana,
"Setalah itu, kita akan ke Hutan Kegelapan, dan Will akan menggunakan kepandaiannya sebagai montir untuk memodifikasi semua senjata. Kita akan mencuri lagi,
"Aku ingin semuanya memiliki senjata yang lumayan bagus, yang berguna di Hutan Kegelapan. Kalian tahu, bagaimana zona dan keadaannya. Aku ingin kita memiliki senjata yang luar biasa," sambung Kirana,
"bila kita berhasil di sana, kita akan menyusup menyerang dari kawasan beeluf." Kirana menatap semua orang, kesemuanya menganggukan kepala, "Baiklah, aku setuju!"jawab mereka serempak.
Akhirnya, mereka menjalankan misi mereka kembali. Mereka mencuri di kediamanan Alberto Kuro, mengambil semua yang mereka butuhkan dan juga beberapa pakaian untuk para wanita beeluf.
Sesampainya di gua, wanita beeluf mengganti baju mereka dan menyembunyikannya semua baju mereka. Mereka mengisi perut dengan memakan roti. Para pria membantu Will memodifikasi sdnjata, semalaman mereka bekerja dan mendapatkan hasil yang mereka inginkan.
Pedang, samurai, sangkur, tombak yang bisa dikecilkan dan dibesarkan sesuai keperluan. Mereka juga membawa senjata laser di setiap orang,
Mereka mencoba untuk tidur, Heru dan Ayesha mrnyelinap dari semua orang. Para pion dan wanita beeluf mengerti, karena hanya merekalah yang pasangan suami-istri di antara semuanya.
Apalagi sesudah lima tahun perpisahan di antara keduanya, suatu hal yang lumrah bila mereka ingin bermesraan. Kesemuanya sudah dewasa dan memahami arti dari sebuah hubungan pernikahan, mereka masih bersyukur Heru masih dipertemukan dengan istrinya.
Kesemuanya berpura-pura tidur, dan terlelap. Sementara Heru dan Ayesha memilih lorong gua yang sepi, keduanya melepaskan rasa rindu yang sudah teramat lama terpendam.
Meraka saling berangkulan, menautkan bibir, memberikan semua kehangatan yang mereka rasakan. Mereka hampir lupa bagaimana semua rasanya, mereka melakukan dengan berlahan seakan mengalami malam pertama pernikahan mereka kembali.
Heru, membelai seluruh wajah dan tubuh pualam sang istrinya, memberikan setiap tanda kepemilikannya di sana, merengkuh gumpalan lemak yang indah dan bermain di sana dengan indera pengecapnya, membuat sebuah suara des***n kenikmatan yang mereka rengkuh, Ayesha menyerahkan segenap kerinduan di dalam sebuah kepasrahan dan perlawanan yang luar biasa indah.
Heru menjelajahi semua hutan belantara di antara bukit-bukit kerikil milik istrinya, ia ingin memberikan semua kerinduan dan menikmati sebuah pendakian yang luar biasa, keduanya melakukan tanpa Kelelahan sedikit pun.
__ADS_1
Keduanya masih terus saja bertempur, dengan memberikan segala kekuatan di dalam pencapaian yang sempurna. Saat lenguhan manis terdengar malas dari bibir Ayesha yang membuat Heru semangkin dalam memacu larinya untuk mendaki gunung dan menyeberangi lautan yang luas.