
“Tuan Balian?” kesemua pion begitu terkejutnya mengetahui sepak terjang Tuan Balian, “Sialan! Ternyata pria berengsek ini, ikut ambil bagian di dalam permainan Pulau kematian!” kata Mona.
“Bila aku keluar dari sini, aku akan menghajarnya berkeping-keping. Hingga ia menyesal telah dilahirkan oleh ibunya,” ucap Heru.
Ia merasa tersiksa selama 5 tahun ini di Pulau Kematian tanpa bisa memeluk istri dan anaknya, setiap detiknya ia harus berjuang untuk mempertahankan nyawanya dari buruan Alberto kuro.
“Siapa sangka, di balik semua ini ada juga pejabat-pejabat tinggi negara yang ikut ambil bagian. Bila demi uang tidak peduli, apakah dia bertampang baik atau jahat,” ucap Kabir memandang semua orang,
“dari keluarga miskin maupun kaya, dari alim ulama maupun bajingan. Mereka akan antri mereka akan mengorbankan segala hati nuraninya, hanya untuk uang.” Kabir memandang layar laptop di depannya.
Mereka mendengarkan setiap pembicaraan antara Tuan Balian dan Alberto kuro, “Apa yang sudah terjadi sebenarnya Tuan Alberto?” tanya Tuan Balian,
“mengapa di Pulau Kematian, aku lihat sebagian telah hancur? Apakah kau tidak bisa mengatasi pionmu kali ini?” tanya Balian dari kantornya di belahan pulau lain di Indonesia.
“Aku salah prediksi memasukkan kan pion kali ini,” ucap Alberto kuro.
“Apakah aku perlu mengirimkan bantuan?” tanya Tuan Balian di balik mejanya.
Di sebuah ruangan kantor dinas ketentaraannya ia menghisap cerutu dengan pongahnya, kumisnya yang melintang dan kepalanya yang sedikit botak menambah seram tampangnya yang dingin.
Selama ini ia selalu bersikap ksatria di depan publik namun, semuanya itu hanyalah kamuflase untuk menutupi semua kejahatannya.
Kabir dan seluruh pion di dalam gua di depan laptop Will memperhatikan Alberto kura dengan sikap Arogannya membelai-belai tongkat kepala naga yang yang berwarna keemasan.
“Aku akan memburu mereka sampai ke lubang semut, jangan khawatir Tuan Balian. Bukankah selama ini aku tidak pernah gagal menjalankan peraturan dan pengoperasian di Pulau kematian ini?” kata Alberto,
“katakan pada semua pemilik saham untuk jangan khawatir dan mereka tidak akan kehilangan sepeser uang pun di dalam semua ini,
”Katakan kepada mereka agar percaya kepada seorang Alberto Kuro dan Tuan Crabs.” Alberto memandang Tuan Balian dengan tatapan mata elangnya yang tajam.
“Baiklah aku akan percaya kepadamu Alberto!” ucap Balian.
Di layar monitor bertambah lagi menjadi beberapa orang yan mereka kenal dan tidak, konferensi percakapan di layar monitor virtual. Will dan yang lainnya di dalam gua terus memperhatikan siapa-siapa saja dalang di dalam semua kejahatan.
Will sudah mengunggah rekaman itu menyiarkannya ke YouTube dan semua laman-laman medsos yang banyak digandrungi oleh masyarakat di seluruh dunia.
__ADS_1
Di dalam durasi sekitar setengah jam Itu percakapan antara Tuan Balian, Alberto dan beberapa wanita juga pria petinggi-petinggi negara dan konglomerat dari berbagai mancanegara,
Sedang mengadakan rapat tentang Pulau kematian untuk menghancurkan pion-pion yang membangkang.
Will mengunggah semua kejahatan Alberto Kuro dan rekan-rekannya di medsos.
“Apa yang telah kau lakukan Will?” tanya Toto.
“Aku mengunggah semua kejahatan Alberto Kuro dan rekan-rekannya ke semua laman medsos agar seluruh dunia tahu apa yang telah mereka lakukan,
”Dan bagaimana perjuangan kita di sini, kita tidak tahu apakah besok kita masih hidup? Aku ingin seluruh dunia tahu tentang keberadaan kita di sini dengan segala bentuk kejahatan mereka!" jawab Will.
“Wah, kau benar-benar hebat!” puji Kirana menepuk punggung Will.
Will hanya tersenyum dengan lembutnya, “Itu belum seberapa?” jawab Will dengan merona merah karena sedikit malu.
“Sial!” umpat Will. Ia langsung mematikan sambungan internetnya dan mengacak-acak semua sandi dan menghancurkan semua jaringannya.
Ia mematikan laptopnya, semua pion menatap ke arah Will, “Ada apa?” tanya Zai.
Ia menyimpan laptopnya, semuanya diam bepikir. “Paling tidak, kita sudah tahu cara memasuki pos penjagaan di gurun pasir.” Kabit memandang lurus ke depan.
Pikirannya menerawang, ia mengingat segala kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.
“Sudahlah! Nanti malam, kita mulai bergerilya. Kita mulai dari gurun pasir,” Kirana mulai membentangkan petanya.
Semua pion mulai mendekat, mereka. Semua melihat ke arah peta, “Aku rasa, kita akan mulai dari sini. Dan sebagian mulai dari sebelah sini, kita akan bertemu di bagian ini!” Kirana mrnunjuk beberapa jalan yang saling menghubungkan.
“Agar mereka terpecah untuk melahawan kita, hingga dengan mudaj kita melumpuhkan mereka. Zai yang seorang montir lebih mengerti soal listrik,” ucap Kirana memandang Zai.
“Aku rasa, kita harus memulai dari sekarang untuk mengintai, aku sudah menyelusuri gua yang sebelah kanan, berbelok ke bagian gurun. Dari sana kita berpencar,“ jawab Hendro.
“Aku sudah mencuri beberapa jubah, masker dan kaca mata untuk kita bertahan di gurun,” balas Nara mengekuarkan segala hasil curiannya.
“Oh, Nara sayang! Aku akan memenjarakanmu, bila di luar. Hahahaha” tawa Junaid yang seorang intel polisi tertawa mengagumi sifat cekatan seorang dokter plus berbakat menjadi seorang pencuri.
__ADS_1
“Penjarakan aku di dalam hatimu saja, sayang!” ucap Nara dengan kedipan nakalnya kepada Junaid.
“Suit! Suit!” Darmanto membuat suara pluit di bibirnya dengan kedua belah tangannya.
“Aw! Aw! Akhirnya ada juga yang lagi jatuh cinta di Pulau Kematian ini!” balas Hendro tersenyum riang.
“Ya iyalah, cinta milik mereka yang punya hati! Bukan batu kayak kamu,” kata Mona melengos ke arah Hendro.
“Akh, hatiku sudah aku titipkan pada kamu kok? Masa kamu lupa saat kamu mendarat di batang pisangku tanpa sengaja,” ejek Hendro.
Ia mengingat saat tanpa sengaja Mona mendarat di tubuhnya saat meluncur dari tebing di hutan kegelapan.
Wajah Mona memerah bak tomat masak, ia langsung menjambak rambut Hendro.
“Iih, dasar ember!” kesal Mona, walaupun ia sebenarnya pun sangat lucu mengenang semua itu.
“Wah, ga sangka ya? Kalian sudah pakai pesawat landing juga ya! Hahaha“ tanya Marta.
Darmanto di sisinya melihat ke arah Marta, “Ternyata Marta cantik juga! Senyumnya manis,” batin Darmanto.
Sejak mereka bertemu, tidak seorang pun yang saling memperhatikan. Semua sibuk untuk mempertahankan diri dan nyawa mereka, hingga tidak ada seorang pun yang saling memperhatikan.
Marta menoleh ke sisi kanannya, ia melihat Darmanto memandangnya dengan sejuta perasaan yang Marta tahu, ia pernah menikah dan ia sekarang menjadi seorang janda. Ia memahami arti pandangan Darmanto.
Marta melambaijan tangannya tepat di wajah Darmanto, membuat ia tergagap, “Eh, a-ada apa Marta?” tanya Darmanto.
Ia merasa malu, karena Marta menergokinya. Di saat ia sedang teroesona oleh kecantikan Marta, ia baru menyadari keempat wanita yang bersama mereka adalah wanita-wanita cantik dan luar biasa hebat.
Darmanto memungut sekembar foto yang jatuh dari saku Marta, ia melihat Marta dan putrinya sedang berdiri bergandengan tangan di dalam seragam AL.
Ia memandang Marta dan putrinya yang begitu cantiknya, ia hanya tahu sekilas Marta seorang ibu tunggal karena suaminya telah meninggal.
Darmanto memperhatikan wajah Marta yangbtersenyum dengan manisnya, "Nih, apakah ini putrimu?" tanya Darmanto kepada adik leting di angkatannya.
“Eh, iya! Terima kasih, Kak.” Marta menyimpan foto berharga yang hanya itu yang ia miliki.
__ADS_1