Pulau Kematian

Pulau Kematian
Bersama orang beeluf


__ADS_3

Ia berlari menembus malam dan terus berlari membuang segala perihnya, dan terus menangis membelah Kota A.


Sirine mobil patroli polisi berdengung, ia semangkin benci. Ia seperti binatang buruan, semua orang mengejarnya, "Aku ingin mati, saja!" lirihnya putus asa.


Ia memandang tangannya yang masih berlumur darah, ia menangis. Ia telah melukai ayah yang ia cintai dan hormati selama ini.


Ia terus berlari membelah malam dengan memandang tangannya, kakinya sudah perih akibat luka aspal dan batu. Ia tidak peduli, ia ingin pergi jauh meninggalkan dukanya.


Ia sampai di pelabuhan mengikuti kakinya berlari, ia masuk ke dalan sebuah kapal besar dan bersembunyi di sana.


Mano tertidur berhari-hari hingga ia bangun ia berada di sebuah pulau, seseorang membawanya tanpa ia tahu siapa.


Meletakkannya di dalam sebuah karung, di balik karung ia mendengar orang-orang berteriak dipukuli dengan cambuk untuk bekerja membangun benteng dan kastil megah milik Alberto.


Mano yang masih remaja, ketakutan setengah mati. Seseorang memanggulnya mengira ia sebuah pasir ingin menuangkannya ke sebuah alat pengaduk pasir.


Saat karung dibuka Mano meninju si pria dan berlari, semua tentara mengejarnya melemparkan senjata ke arahnya.


Mano remaja yang cantik terus berlari, memasuki sebuah gurun di belakangnya benda-benda tajam berterbangan menghantam tubuhnya.


Dulu ia tidak mengetahui jika benda itu adalah suriken, ia terjatuh ke gurun dengan tubuh bagian depannya menghantam lembutnya pasir gurun, ia hanya melihat darah membasahi tubuhnya.


Orang-orang berpakaian hitam seperti ninja yang pernah ia tonton di sebuah film mengejarnya dan mendekatinya.


Mano hanya mampu memandang derap langkah kaki. Kesakitan yang dirasakannya tidak mampu ia jabarkan, air mata telah membasahi pasir di bawahnya.


Entah keberanian dari mana ia menggenggam pasir mencengkramnya dengan erat, memandang derap kaki mulai mendekat.


Seorang ninja, tersenyum. Berbicara di dalam bahasa Jepang. Mano tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, mereka ingin menyentuh tubuhnya.


Secepat kilat Mano melemparkan genggaman pasir ke matanya membuat si pria yang berjongkok di sampingnya langsung berteriak dan memegang matanya.


Seorang ninja lainnya ingin menebaskan samurainya ke tubuh Mano, "Kematian lebih indah dari penderitaan, ini!" lirih Mano di atas pasir gurun.


Tubuhnya yang telungkup dengan darah dan air mata, ia pasrah jika ajal telah menjemputnya.


Akan tetapi, sebuah tombak menghujam tepat ke dada si ninja. Membuatnya jatuh ke belakang tubuhnya, Mano hanya melihat seorang wanita bercadar dan berbaju merah membunuh 5 orang ninja dengan cekatannya.

__ADS_1


Wanita itu terus memainkan tombaknya dengan kekuatan yang luar biasa, ia mampu berdiri di atas tombaknya sendiri. Mano melihat setiap adegan perkelahian seperti sebuah film yang pernah ia tonton.


Seorang pria tua berjanggut putih, memberikan sebuah kapsul pahit yang berbentuk butiran. Ke dalam mulut Mano, dan mencabut beberapa suriken di punggungnya.


Mano hanya diam tanpa berteriak kala si ptia tua itu mencabut setiap suriken di punggung dan kakinya. Ia hanya diam dengan lelehan air mata dan tangisan.


Ia tidak lagi mampu membedakan sakit di cambuk atau dipukul ibu dan saudara tirinya ataukah lebih sakit shuriken yang menancap di punggungnya.


Semuanya sama sakitnya, dan ia telah terbiasa nendapatkan semua kesakitan dan luka di sekujur tubuhnya sejak ibunya meninggal.


Ayahnya pun sama kasarnya dengan ibu tirinya, ia seperti anak yang tidak dianggap ada.


Mano masih memandang pasir di bawahnya menjadi warna merah darahnya juga darah para ninja yang dibunuh wanita berbaju merah.


Si pria tua memberikan sesuatu di punggungnya, ia merasakan sebuah rasa panas yang membakar tubuhnya dan membuat ia berteriak.


"Aaaa!" teriaknya hingga ia pingsan. Yahmen berhasil membunuh 10 orang ninja yang mengejar Mano, Sepuh Rayan meletakkan tubuh Mano di punggung si rusa nakal.


Membuat badai pasir bergulung-gulung di sekitar mereka, membawanya ke sebuah menara pasir. Membaringkannya di atas rerumputan liar di atas gurun.


Semua orang merawat Mano, Muti menyanyikan sebuah kidung ke telinga Mano. Membuat ia bermimpi, ia bertemu dengan Almarhum Ibunya.


"Pulanglah, Nak! Belum waktunya kau bersamaku," ujar ibunya.


Si ibu membelai lembut kepala Mano, rambutnya yang panjang sedikit kemerahan menempel di jemari ibunya.


"Aku lelah, aku ingin bersama dengan Ibu!" tangis Mano.


Ibunya mengecup dahinya, "Pulanglah!" ujar ibunya lagi.


Bayangan ibunya menghilang berganti dengan wajah wanita cantik, wanita bercadar merah serta seorang pria tua berjanggut putih.


Ia bepusar menembus pusaran waktu dan kembali ke jasadnya, "Hah! Hah!" lirihnya dengan napas tersengal.


Degub hantungnya melonjak-lonjak cepat, seakan ia baru saja menaiki rolkingcoster di sebuah wahana.


Ia pernah diam-diam menaikinya saat pulang dari membeli sayuran, setelah itu ia harus mendekap di ruang gelap dan tidak makan selama 2 hari.

__ADS_1


Mano memandang semua orang, tubuhnya terbebat kain putih seperti kepompong.


Mano menyadari tubuhnya terbaring dengan posisi kepala di pangkuan seorang wanita cantik, yang berada di dalam mimpinya dengan rambut hitam panjang.


Di kakinya seorang wanita bercadar sedang berdiri melipat kedua tangannya di dadanya, memperhatikannya.


Di sampingnya pria tua sedang menggerus suatu tumbuhan di batu pipih, ia melihat banyak orang disekitarnya memakai baju merah, hanya pria tua itu saja yang memakai baju putih.


Ia berada di bawah sebuah menara pasir, yang menjulang tinggi dengan mentari berwarna jingga menembus di sela-sela dedaunan.


"Apakah aku sudah mati?" bisik Mano.


Semua orang tertawa, "Kematian tidak semudah itu, bila Tuhan masih melindungimu maka di mana pun engkau pasti selamat."


Suara pria tua menggema di sampingnya, ia tidak bergeming masih menggerus tumbuhannya.


Mano terdiam, "Di manakah aku?" tanya Mano.


Ia ingin duduk, ia malu berada di pangkuan wanita yang tidak jauh selisih umur dengannya.


Akan tetapi, bebatan kepompongnya sangat sulit digerakkan. Wanita yang memangkunya melantunkan kidung indah yang tidak dimengerti oleh Mano.


Berlahan bebatan kepompong memudar dan menghilang meninggalkan asap tipis, ia merasa begitu segar dan ringan semua lukanya tidak tersa sakit.


"Siapakah namamu?" tanya wanita cantik yang memangkunya.


"A-aku Mano!" ujar Mano. Seorang wanita cantik mengangsurkan secangkir minuman.


"Minumlah, memang sedikit pahit. Agar engkau cepat sembuh! Aku Yura, dan ini Ketua Muti, ini Sepuh Rayan, dan wanita kuat ini Yahmen!" ujar Yura.


Mano duduk dan meminum cairan sedikit kental berwarna hijau dan berbau yang menyengat hidung, ia diam meminum habis semuanya.


Ia tidak merasakan apa pun lagi, kehidupannya lebih pahit dari secangkir obat yang ditelannya.


Ia memandang semua orang yang begitu baiknya, Yahmen hanya diam saja masih berdiri di posisinya.


Suara deru heli menggema, Seekor elang hinggap di bahu Yahmen. Ia berbicara dengan elangnya, "Sial! Alberto membantai para hatter!" teriak Yahmen.

__ADS_1


Mano melihat wanita itu melesat seringan bulu angsa berlari ke luar dari menara pasir diikuti beberapa wanita.


__ADS_2