
Ketiganya berlari mencoba menembus pekatnya malam, mereka sangat takut ada yang sedang terjadi kepada salah satu sahabat mereka. Ketiganya berusaha untuk tiba di tempat kejadian secepat mungkin, akan tetapi tempat itu begitu jauh.
Mereka melihat terlalu banyak ranjau di depan mereka, hingga mereka mencoba untuk menghindarinya sebaik-baiknya atau mereka akan meledak menjadi seperti serpihan debu yang tak lagi tersisa.
Kabir hanya merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda di pulau pada malam hari yang sedikit berkabut, "Apakah kalian merasakan sesuatu yang sedikit berbeda di sini?" tanya Kabir.
ia menghentikan larinya secara tiba-tiba, membuat kedua sahabatnya pun berhenti berlari,
"Ada apa?" tanya Will. Ia mencoba menatap ke arah Kabir yang menghentikan larinya, "Aku merasa malam ini seperti ada yang aneh, atau mungkin perasaanku saja!" jawab Kabir.
Kirana dan Will mencoba untuk mencerna segala maksud yang diucapkan oleh Kabir, mereka tidak merasakan apa pun. Mereka hanya merasakan udara di sekitar mereka sedikit menghangat,
biasanya begitu dingin kini berubah sedikit hangat dan Kirana begitu senangnya dengan perubahan cuaca, "Aku malah suka, cuaca hangat begini. Kau tahu, bajuku sangat minim hanya sebuah kaus tipis begini?" balas Kirana.
Will hanya diam saja, ia mencoba untuk mencerna maksud perkataan dari Kabir. Ia pun seperti merasakan sesuatu yang berbeda, hanya saja ia tidak tahu apakah itu.
Ketiganya hanya diam, ledakan sudah tidak lagi terdengar. Kabir merasakan ada sesuatu yang aneh di depan sana, "Sebaiknya kita naik ke atas pohon saja, aku takut ada sesuatu yang berbeda" ucapnya.
Ketiganya menaiki sebuah batang pohon yang rindang, mereka mencoba menunggu apa sebenarnya yang akan terjadi di depan mereka, hingga Kabir merasakan suatu firasat selama ini ia tidak pernah berpikir demikian.
Di atas pohon, ketiganya diam dengan seribu bahasa. Mereka tidak bergeming sedikit pun, mencoba untuk memahami segala hal yang akan terjadi. Ketiganya sudah mulai bersiap-siap bila ada sesuatu yang akan terjadi, benar saja.
Sebatalyon hatter membelah kegelapan malam, anehnya mereka melihat hatter di bawah mereka seperti seorang pegulat dan sumo, mereka memiliki tubuh yang berotot dan sangat besar, mereka membawa senjata berbentuk pedang panjang, palu, dan gergaji mesin.
Mereka melihat di kening mereka seperti ada sebuah lempeng logam yang ditanam di sekitar kedua pelipis mereka. Ketiganya bergidik ngeri membayangkan lawan mereka kali ini setengah robot berbentuk hatter.
__ADS_1
Seribu pertanyaan di hati mereka, "Siapakah mereka ini?" batin ketiganya.
Para pasukan setengah robot bergerak berlahan menyusuri pekatnya malam, mereka berjalan pelan tetapi sedikit berat.
Mereka seperti terlalu berat karena bobot tubuh mereka yang bertambah, malah ada beberapa orang yang menggunakan tangan palsu yang terbuat dari besi yang di sambungkan ke otot si pemilik tubuh.
Ketiganya masih memandang ke bawah memperhatikan setiap detil dari musuh barunya, mereka tidak menyangka Crabs sudah memodifikasi semua yang diinginkannya. Ia benar-benar memproduksi tentara bayaran,
hentakan-hentakan berat kaki dan hawa yang di keluarkan dari tubuh-tubuh mereka mengandung panas. Mereka terlihat bagaikan sekelompok orang mati yang berjalan karena suatu perintah atau komando dari tempat lain, mereka hanya berjalan tanpa melihat ke sekitar mereka.
Tubuh setengah robotnya terus melangkah ke dalam Hutan Kematian, "Mereka sepertinya mencari, sesuatu!" bisik Kirana.
Seketika kawanan hatter aneh itu berhenti dan berbalik arah ke arah mereka, "Apa yang terjadi?" tanya Will.
Ketiganya langsung merunduk dan mengelak karena sabitan boomerang yang terus terbang berputar-putar di angkasa, Kabir melemparkan senjata lasernya ke arah Will.
Ia menembakkan senjata ke belakang tubuh mereka, membuat para hatter yang aneh itu hancur tak tersisa. Akan tetapi, di bagian belakang dari mereka telah mengaktifkan sesuatu dari tubuh mereka sehingga mereka baik-baik saja.
Mereka terus berlari melintasi waktu, "Aku tidak menyangka Alberto memiliki tentara yang sedikit aneh," ucap Kabir.
Will melihat ke sampingnya, "Itu tidak aneh, ia memiliki banyak koneksi di luaran. Sehingga ia begitu mudahnya hanya membeli tentara bayaran, bila tidak! Ia cukup menculiknya saja," Will menatap sekilas dan masih menembakkan senjata laser milik Kabir.
Mereka mencoba menghindari semua tentara baru yang mirip setengah hatter dan setengah robot, "Untung saja, gerakan mereka sangat lambat berjalan, hingga mereka belum mengejar kita." Kirana masih terus menatap ke belakang sambil berlari.
Bruk!
__ADS_1
Sesuatu jatuh tepat di depan mereka, ketiganya terjengkang ke belakang dan jatuh bergulingan. Mereka berusaha untuk menguasai diri mereka dan segera bangkit, mereka melihat di depan mereka seorang tentara hatter setengah robot yang menggenggam pedang selebar papan yang sering dipakai oleh Nara.
Hatter itu membabi buta mengayunkan senjatanya, tubuhnya yang 3 kali berat bobotnya dari Toto membuat ketiga pion bergidik. Ketiganya mengelak dan melompat-lompat dari serangan pedang papannya, mereka kembali berpikir tetapi, kebuntuan yang ada.
Karena sabetan pedang hatter terus menyerang tanpa jeda, ketiganya melihat pandangan si hatter kosong bagaikan mayat hidup. Si hatter juga tidak merasakan suatu kelelahan sedikit pun, ia masih terus memutar-mutar pedangnya ingin mencincang ketiganya seperti seekor daging di talenan.
Jauh di belakang mereka, ketiganya mendengar derap langkah hatter yang mengejar mereka. Ketiganya semangkin kebingungan, mereka tidak menyangka lawan mereka kali ini setengah mesin.
Kirana berusaha mencabut samurainya akan tetapi si hatter masih saja mengayunkan pedangnya ke sana kemari, mereka bak Kurcaci yang melawan raksasa.
Kabir berusaha untuk melompat ke leher hatter, Will berusaha untuk memukul pinggangnya, Kirana berusaha untuk melukai kakinya.
Namun, segalanya seperti kesia-siaan mereka tidak mempan akan senjata. Ketiganya sudah mulai putus harapan, kelelahan, dan kebingungan.
Kabir melihat hatter sudah mendekati Kirana, ia sudah mengayunkan pedangnya ingin memenggal Kirana. Will berusaha untuk menyelamatkan Kirana dengan menembak kakinya dengan senjata laser akan tetapi hatter setengah robot itu tidak bergeming sedikit pun,
Kabir naik ke atas pohon dan melompat ke arah pria hatter dengan bertumpukan pada bahu si hatter yang sedikit terhuyung menahan bobot Kabir di tengkuknya, kedua kaki Kabir mengunci leher si hatter.
Kabir berusaha untuk mematahkan lehernya, akan tetapi lehernya pun teramat keras dan kuat seakan semuanya adalah besi. Tangan di hatter mulai menggapai-gapai Kabir dengan mengayunkan senjatanya ke arah kepalanya sendiri,
"Dasar, Bodoh! Kau ingin membunuh dirimu sendiri," ejek Kabir. Ia memegang kedua kening si hatter yang memiliki lempengan besi, tanpa sengaja Kabir memutarnya si hatter langsung terdiam di tempatnya.
Ketiganya memandang heran, "Cabut saja, lempengan itu!" teriak Will. Kabir langsung mencabut kedua lempengan dengan segera tubuh itu ambruk ke bumi, mereka melihat seperti wayar-wayar yang ditanam di suatu lempengan dengan suatu chip.
Kabir bangkit dari jatuhnya dengan ditolong kedua sahabatnya, ia memberikan lempengan dengan sulur wayar yang tertanam di lempengan.
__ADS_1