
Malam hari semua beeluf menaiki Kano menyeberangi lautan menuju Pulau Tak Bertuan.
Mendayung kano dengan diam dan seribu bahasa, mereka tahu. Kemungkinan mereka tidak akan kembali dengan selamat.
Hanya sebuah harapan akan sebuah perjuangan dan kebebasan yang akan menghantarkan mereka ke pintu kebebasan dari sebuah tirani.
Yahmen memandang ke belakang gundukan hitam pulau yang telah membesarkannya menjulang tinggi, dengan pantulan cahaya tembok di sekelilingnya.
Sebersit rasa perih dan sedihnya, untuk pertama kalinya ia meninggalkan pulau di sepanjang hidupnya.
Ia bukan pergi untuk mengunjungi keluarganya atau hendak bertamasya.
Ia hanya ingin menuntut haknya sebagai kepala klan.
untuk kebebasan klannya dari sebuah tirani, ia tahu. Kemungkinan ia tidak kembali dengan selamat atau Allah masih berbaik hati kepadanya,
dan memberikannya waktu sedikit lagi untuk menikmati sebuah kebebasan dan melihat kemajuan pulau leluhurnya.
Namun, ia sendiri tidak lagi mampu untuk berandai-andai.
Ia masih mengepalkan tangannya, agar ombak terus menghantarkan mereka ke seberang dengan mulus.
Agar air pasang bertahan sehingga kano yang mungil, tidak lagi terombang-ambing terhempas ke karang terjal di sekitar pulau.
Ia masih saja memandang tanah leluhurnya. Di mana kakak, Sepuh Rayan, dan kedua orang tua dan seluruh klannya telah terkubur di sana di salah satu sudut pulau.
Ia hanya tahu kuburan kakak dan Sepuh Rayan tidak dengan kedua orang tua dan semua klannya yang lain, hanya dialah satu-satunya sisa klan yang masih tersisa.
Gundukan pulau terlihat tenang dan damai, tetapi sedikit angker dan menyeramkan.
Yahmen menarik napasnya, ia semangkin membayangkan semua kelebatan dari semua masa lalu yang pernah ia lalui di pulau.
Tawa, tangisan, luka, segalanya. Ia tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu, riak ombak menghantam kano degan pelan.
Kawanan lumba-lumba melintas di depan mereka, semua kano harus mengalah. Mereka berhenti sejenak membiarkan makhluk Tuhan yang lain-Nya untuk bergerak maju.
Mano menembangkan sebuah lagu daerahnya, sebuah lagu dari Ujung Pulau Sumatra.
__ADS_1
Sebuah lagu perjuangan dan lagu-lagu yang dilantunkan seorang ibu kepada anaknya di dalam buaian.
Yahmen tidak mengerti bahasa Mano yang sedih dan sarat akan semangat yang menguatkan hati.
Mereka berada di tengah lautan, Yahmen membuat perlindungan dibantu Mano, Ayesha, Yura dan beberapa wanita beeluf yang memiliki bakat sihir.
Mereka tidak ingin mengundang tentara Alberto untuk mengetahui keberadaan mereka.
Sekali lagi Yahmen memandang ke belakangnya, "Selamat tinggal pulauku yang indah. Semoga aku masih bisa pulang ke sana," lirihnya.
Yahmen herdiri di anjungan paling depan kano. Tubuhnya yang seringan kapas mampu berdiri di mana pun, ia masih mengepalkan tangannya sejajar dengan perutnya.
Rambutnya yang panjang keperakan tertiup angin laut yang bergerak seirama dengan arah angin.
Semua orang terkesima dengan segala hal di diri Yahmen yang tidak pernah surut akan usia.
Ia tetap perkasa, dan luar biasa cantik serta bersahaja.
Aoi begitu kagum dan memujanya, ia telah banyak mendapatkan luka dari sebuah perjuangan. Hanya Yahmenlah tempatnya pulang, di mana luka dan kesedihan mengguris hati dan tubuhnya akan terobati.
Hanya Yahmenlah yang membuatnya bertahan dan tetap berada di pulau. Cinta Yahmenlah yang membuatnya selalu saja berada dan terikat akan pulau.
Ia masih mengingat kala ayahnya membawa mereka menyeberangi lautan menggunakan kapal, hanya untuk bekerja di pulau.
Kehidupan mereka yang sedikit sulit di Jepang dengan padatnya penduduk dan sulitnya lapangan pekerjaan.
Ayahnya tergiur untuk membangun pulau dengan iming-iming gaji yang besar oleh salah satu konglomerat dunia.
Ayahnya seorang arsitek, ia diminta oleh Alberto untuk membangun tembok di sepanjang pulau.
Ayahnya membawa ia dan ibunya untuk berkerja, dan sesampainya di pulau beeluf mereka tinggal di sebuah rumah panggung bergaya rumah Jepang di kawasan Hutan Bambu.
Banyak samurai di sana sedang berlatih pedang, Aoi kecil yang masih berumur 10 tahun pun ikut belajar samurai di sana.
Kebanyakan Klan Jepang dan orang-orang Indonesia membaur saling memakai adat masing-masing. Mereka menjadi buruh di sana untuk membangun tembok yang sangat luas.
Sehingga mereka memainkan pedang kayu untuk sekedar melepaskan lelahnya dan untuk mengingat kampung mereka nun jauh di sana.
__ADS_1
Aoi berjalan-jalan di sekitar Hutan Bambu, ia selalu ingin mendaki tebing hatter tetapi orang tuanya melarang.
Rumor selalu mengatakan jika ada hantu mengerikan pemakan manusia di gurun dan di dalam Hutan Kegelapan, membuat Aoi selalu mengurungkan niatnya untuk berjalan-jalan di sekitar pulau.
Aoi kecil hanya berani di sekitar Hutan Bambu saja, mencari jamur, dan rebung. Berlarian menangkap burung puyuh dengan anak-anak seusianya.
Aoi kecil berulang kali bertemu pria bersorban dan berbaju putih yang selalu berjalan dengan cepat. Seakan tidak menginjak tanah dan di sekitanya selaku mengulung rumput tinggi seakan melindunginya.
Ia juga pernah melihat dua orang wanita yang sedikit lebih tua darinya dan wanita seumurannya sedang berlarian di sekitar Hutan Bambu.
Aoi tidak pernah berhasil mengejarnya, mereka berlari secepat kilat dengan rerumputan yang menggulung di sekitar mereka.
Membuat Aoi pernah tergulung di dalam rerumputan karena berusaha mengejar kedua wanita tersebut.
Aoi kecil penasaran, dengan kimono dan bakiaknya terus mengejar dan menebas rerumputan dengan pedang kayunya.
Namun, rerumputan menggulungnya naik ke atas hingga ia seperti kepompong.
Ia tidak dapat bergerak, "Ibu!" teriak Aoi kecil di dalam Bahasa Jepang.
Tiada yang mendengar, tetapi berapa menit kemudian ia terhempas jatuh di rerumputan seakan ia jatuh di sebuah kasur.
Ia berlari pulang, "Ibu! Aku bertemu hantu!" teriak Aoi memasuki rumah.
Ia melemparkan pedang kayu dan bakiaknya ke sembarang tempat. Ibunya hanya tertawa dan memeluknya, "Ibu, sudah bilang, 'Jangan pernah ke luar dari Hutan Bambu!' kau tidak pernah mendengarkannya," balas Ibunya.
Aoi masuk di dalam selimut dan bergelung, ia mengingat wajah seorang wanita kurus kerempeng dengan rambut tebalnya yang hitam.
Seakan kepalanya lebih besar dari tubuhnya, ia menatap Aoi sekilas di atas punggung wanita yang sedikit lebih besar darinya.
Berlari secepat rusa menembus Hutan Bambu. Wajah anak kecil itu begitu cantik, Aoi yang masih 10 tahun merasa anak kecil itu begitu cantik.
Perempuan kecil itu memiliki kulit yang tidak terlalu putih, rambut hitamnya berayun di punggungnya.
Mereka memakai pakaian merah, dan bersih. Bayangan wajah anak perempuan itu dan tatapannya selalu terbayang di benak Aoi.
Ia selalu menantikan mereka di pinggir hutan bambu. Namun, ia tidak pernah bertemu dengan mereka lagi.
__ADS_1
Keduanya hilang bak ditelan bumi, Aoi begitu kecewanya. Ia ingin berlari mengejar wanita itu tetapi ia tidak kunjung menemukannya.