Pulau Kematian

Pulau Kematian
Menempa sendiri goloknya


__ADS_3

Terima kasih, buat reader yang masih setia. jangan lupa like, rate, fav, komen, hadiah, dan votenya. Agar aku semangat up-nya.


--------------------------------------------------------


Happy Reading!


Sejak saat itu Aoi dan Yahmen selalu pergi ke mana pun bersama, membantai tentara dan ninja juga hatter baru.


Aoi meninggalkan Tebing Hatternya walaupun setiap purnama ia dan Yahmen masih datang ke Tebing Hatter.


Aoi selalu merasakan kesedihan setiap ia melewati dan tinggal di tebing. Ia selalu terbayang kawanan srigalanya, ia tak kuasa untuk mengingat semua kenangan mereka.


Membuat Aoi semangkin dendam dan marah, pedangnya selalu memanggil jiwanya untuk membunuh.


Pedangnya selalu menguasi dendam dan jiwanya, pedang miliknya selalu haus akan darah. Sehingga Sepuh Rayan, melafazkan suatu ayat Berbahasa Arab.


Mengajari Aoi untuk merapalkannya, hingga Aoi memasuki ajaran agama yang dianut Klan Beeluf.


Aoi mampu menguasai pedangnya, dan pedang miliknya tak seganas dulu lagi.


"Bila darahmu tertumpah ke pedang. Kau harus merapal do'a itu, Aoi!" pesan Sepuh Rayan.


Aoi selalu mengingatnya, dan jiwanya tidak lagi tersedot ke dalam kekuatan pedang iblisnya.


Sehingga pada akhirnya Aoi meminta izin kepada Ketua Muti dan Sepuh Rayan untuk tinggal di Menara Pasir.


Aoi menjadi salah satu beeluf dengan membawa nama Klan Samurainya. Sedangkan Tebing Hatter sendiri, dikuasai oleh hatter baru ciptaan Alberto yang mengerikan.


Mereka sedikit brutal, tubuh dengan penuh tato, tindikan, dan gaya rambut yang beraneka ragam.


Mereka seperti orang luar pulau yang penuh dengan kebudayaan baru yang modern. Berbeda dengan Aoi dan para beeluf yang tidak pernah ke luar dari pulau.


Mereka terkucilkan bak katak di dalam tempurungnya, tiada seorang pun yang menyadari keberadaan mereka di sana.


Segelintir oranglah yang mengetahui keberadaan mereka, itu pun yang mengambil keuntungan di balik sepengetahuan mereka.


Aoi bertemu dengan Si Mano gila dan Balian si Golok Hitam. Ia tidak menyangka bisa bersahabat dengan mereka.


Berburu dan membunuh musuh, hanya Aoilah yang memiliki keberanian melompat dari pembatas tembok ke lautan dalam.


Sebelum Alberto mengalirinya dengan arus listrik.


Alberto melihat Aoi berjumpalitan melompati tembok dan kembali memanjat terbing terjal dari monitornya.


Ia mengajak Balian melakukannya, sehingga Alberto ketakutan jika mereka kabur dan membongkar semua kedoknya.


Akhirnya Alberto mengaliri tembok pembatas dengan arus listrik, keempatnya selalu melintasi semua pulau.

__ADS_1


Kini, ia menyadari jika selama ini ia hanyalah mengejar badai sihir sehingga bayangan yang ia kejar tidak akan pernah tertangkap olehnya.


Yahmen tertawa melihat ketololan Aoi selama ini, ia merasa kesal dan geram kepada Yahmen. Ia kembali mengejar Yahmen di gurun.


Namun, kali ini Yahmen tertangkap dengan badainya. Mereka berdua berkecupan di sela badai yang menggulung mereka tinggi dan membawa mereka melintasi gurun.


Aoi begitu bahagianya, ia mencintai Yahmen dengan segenap jiwanya. Memetik sepelukan bunga lila di musim kemarau selama 6 bulan lamanya, hanya untuk memberikannya kepada Yahmen.


Ia beruntung srigala membesarkannya, sehingga ia dengan mudahnya menaiki semua terjal bukit tebing Hatter.


Ia dengan beraninya mengungkapkan cinta dan melamar Yahmen. Aoi juga melamar Yahmen di depan Muti dan seluruh beeluf dengan gagah perkasanya.


Sebelum semuanya menjadi kacau akibat ulah Alberto.


***


Bayangan berganti ke masa kini ....


Aoi masih memandang Yahmennya yang sudah mulai menua dengan rambut hitam yang sudah berganti dengan uban.


Kecantikannya masih tetap utuh walaupun keriput sudah mulai ada di wajah dan tubuhnya, 25 tahun penantian akan cintanya kepada Si Elang Beeluf akhirnya usai.


Kini, Srigala Hatter dan Elang Beeluf telah menjadi pasangan suami-istri. Aoi bersyukur cinta dan pengorbanannya pada akhirnya berlabuh juga.


Seluruh pohon, gurun, bunga, dan segala hal di Pulau Kematian menjadi saksi bisu akan cintanya dan Yahmen. Begitu juga dengan cinta Mano dan Balian.


Aoi berdiri di kano kecil, memeluk pinggang istrinya. Menggengam lengan kanan Yahmen yang mengepal merapalkan mantra sihirnya.


Aoi ingin memberikan cinta, kekuatan, dan dukungan kepada satu-satunya ratu dan wanita pemilik hatinya.


Ia tidak pernah mencintai wanita mana pun di sepanjang hidupnya, ia hanya mencintai Yahmen.


Yahmen tersenyum memandang wajah tua suaminya yang masih tampan dan penuh dengan kelembutan.


Mano di kano lain bersama dengan Balian tersenyum keduanya melihat pasangan gila itu masih saja bertengkar dan saling memeluk.


Mano dan Balian memiliki kisah cinta yang unik, keduanya terkenal sama gilanya.


Namun, memiliki rasa persaudaan dan kesetiakawanan yang tinggi. Balian terkenal dengan menempa goloknya di letupan magma merapi.


Di dalam gua air terjun semasa ia berumur 15 tahun, saat seluruh keluarganya di bantai.


Pada saat itu ....


Ia masih pergi mengangkat pasir membantu ayahnya Pardhan si ketua hatter di Lembah Hatter.


Di stepa yang penuh bunga dan rerumputan perdu. Ia selamat karena sepulang dari bekerja dengan diam-diam tanpa diketahui kedua orang tua dan klannya.

__ADS_1


Balian dan 12 orang temannya pergi ke gua air terjun. Mereka mencuri 13 plat besi panjang berwarna hitam.


Ia dan temannya mencelupkannya ke dalam letupan magma dengan cara menggantung platnya dengan seutas kawat ia mencelupkannya.


Ia dan temannya harus merasakan tangannya melepuh akibat kawat yang ikut terbakar.


Ia menggerus goloknya hanya dengan mengasahnya dengan sebuah batu gua.


Anak remaja yang hanya mengikuti instingnya berusaha membuat goloknya sendiri.


Ia merasakan adanya ketidakberesan atas majikan mereka Alberto. Apalagi, ayahnya dan Koichi pernah berkasak-kusuk di perbatasan Hutan Bambu dan Tebing Hatter.


"Aku tidak yakin, Alberto akan membebaskan kelompok kita! Aku takut mereka akan membunuh kita, Pardhan!" ucap Koichi berapi-api.


Pardhan dengan tubuh jangkung dan gelapnya terdiam. Pardhan salah satu pria keturunan dari india yang berkulit gelap menikahi wanita salah satu suku di Indonesia.


Dari Pulau Bangka mereka diiming-imingi suatu pekerjaan yang menghasilkan banyak uang.


Pardhan memiliki 1 orang putra dan 2 orang putri yang masih kecil. Mereka berusaha untuk mengubah kehidupan mereka di Pulau Beeluf.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Koichi? Kau tahu, semua orang hanyalah buruh kasar. Mereka tidak tahu bertempur.


"Jika kita melatih mereka, itu sama halnya kita menggali kuburan kita sendiri!" balas Pardhan.


Kedua pria berumur 40 tahun itu terdiam, mereka tidak tahu harus bagaimana nenyelamatkan keluarganya.


Balian mendengarkannya dan berusaha mencari jalan, ia berenang di air terjun dan berpikir. Ia selalu mencari ikan di sana, ia tidak menyangka menemukan gua di balik air terjun.


Ia ingin mengatakan kepada ayahnya. Akan tetapi, ayahnya selalu melarangnya berkeliaran di pulau.


Ia mengurungkan niatnya, hanya mengajak segelintir anak-anak seusianya dan mengajak mereka berjanji untuk menutup mulut.


Mereka berlatih pedang dengan sebilah bambu dan kayu di dalam gua yang memiliki banyak cabang.


Balian dan 10 sahabat prianya dan 2 sahabat wanitanya selalu saja pergi ke gua sekedar berlatih atau memanggang ikan di letupan gunung merapi.


Mereka begitu pintarnya sehingga tiada seorang pun yang mati masuk ke dalam magma yang meletup-letup.


Masing-masing membuat golok yang mereka inginkan dan menyimpannya di sana.


Setiap mereka selesai membantu orang tuanya bekerja mereka selalu menyempatkan diri ke dalam gua untuk membuat pedang dan golok kesayangan mereka.


Walaupun hanya berbekalkan batu untuk menggerusnya. Mereka tidak memukulnya karena takut diketahui orang lain.


Balian selalu hertanya kepada Koici cara membuat samurai. Koichi dengan baiknya mengajarinya banyak hal dan trik-trik membuat pedang bahkan bertarung.


Balian tidak berani meminta semua itu kepada ayahnya, karena ia tahu ibunya Rahma akan memarahinya.

__ADS_1


__ADS_2