Pulau Kematian

Pulau Kematian
Rencana bersama


__ADS_3

Semua pion berlari ke arah tepi sungai menjauhi ledakan, mereka tidak ingin Alberto Kuro secepat kilat akan mengirimkan bala bantuan.


Mereka berlari menyusuri hutan bambu yang mulai terbakar dengan cepat, mereka tidak peduli lagi dengan semua bau amis darah yang masih basah dan merembes di tubuh dan pakaian mereka.


Hanya satu kata keselamatan itu yang mereka inginkan,


Marta di punggung Kabir mulai siuman, ia merasa bergerak-gerak ia membuka matanya melihat di kejauhan ledakan yang beruntun dan kobaran api yang mulai merayap.


Di angkasa, layar monitor monogram menyiarkan semuanya. Para penonton terlihat begitu diam dengan kakunya menahan napas dan bersorak girang, bahwa jagoan mereka tetap menang, itu artinya Alberto Kuro harus membayar semua taruhan mereka.


Di layar monitor wajah mereka terpampang dengan hasil kemenangan yang mereka peroleh.


Dan begitu banyak viewer memberikan berbagai like, komen dukungan dan cacian, juga hadiah.


Mereka tidak pernah membayangkan jika itu adalah mereka, “Kabir, turunkanlah aku. Aku sudah kuat untuk berlari," pinta Marta.


”Apakah Kakak yakin?" tanya Kabir tidak percaya.


“Aku sangat yakin, percayalah!" Marta meyakinkan Kabir.


Akhirnya Kabir menurunkan Marta, mereka kembali berlarian meninggalkan hutan bambu yang sangat luas.


Kehampaan dan rasa dendam juga hampir putus asa mulai merayap, mereka begitu lelahnya meniti hari melewati semua menit dengan rasa ketakutan dan waspada.


“Lama-lama aku bisa gila!" ucap Hendro dengan membersihkan seluruh wajahnya di tepi sungai yang penuh dengan bunga teratai yang mekar indah.


Warna merah darah memenuhi sungai, Kabir menatap langit. Bayangan sang ibu dan adiknya mengusiknya.


"Sedang apakah mereka? Aku benar-benar rindu, bagaimanapun aku harus pulang," batinnya.


Ia merasakan kesepian dan terasing, ia bertekad akan pulang.

__ADS_1


”Bagaimanapun caranya kita harus pulang dan selamat, kita harus menghancurkan Alberto Kuro," ucap Kabir memandang semua orang yang sedang membersihkan luka di sekujur tubuh mereka.


“Apakah kita akan menyerangnya secara langsung? Kita kalah kekuatan dan senjata.” Junaid berkata sambil membasuh lukanya agar ia mudah mengobatinya.


"Aku rasa kita harus mencari pion lain lagi, sekalian kita menuju kastilnya," ucap Darmanto sudah merebahkan tubuhnya di rerumputan. Memandang pohon bambu yang masih tersisa bergoyang tertiup angin.


"Kalau menurutku, kita mengumpulkan pion seiring perjalanan kita. Selain itu kita mencari celah di mana jalan yang paling mudah untuk memasuki kastil, jadi kita melakukan gerilya." Kirana memberikan usulnya.


“Apa yang dikatakan oleh Kirana masuk akal, kita akan melakukannya. Setiap malam kita harus mencoba melumpuhkan dan mencuri semua senjata dan persediaan Alberto,” Heru memandang semua orang,


“selama ini, Albertolah yang selalu memburu kita. Bagaimana bila sekali ini giliran pionlah yang memburunya. Bukankah selama ini ia yang menciptakan moster? Mari kita berikan monster yang ia inginkan," ucap Heru.


”Pak Heru benar, kita akan melakukan segalanya secepat mungkin. Hanya saja di mana pun kita berada ia selalu mengetahuinya,“ jawab Mona.


”Andaikan ada yang mampu mengacak jaringan internetnya dan kita bisa mengirimkan segala kebobrokannyan ke dunia luar. Itu sangat menguntungkan kita," jawab Marta.


“Aku bisa bila kita memiliki Laptop," balas Will. Semua orang memandangnya, "Sebelum engkau berada di sini, hal heroik apa yang pernah engkau lakukan?" tanya Kabir penasaran.


”tetapi aku mengancamnya akan menyebarkan semua perilaku kejahatannya," jawab Will dengan santainya sambil menyemprotkan botol obat di lukanya.


”Wah, kamu benar-benar si Jenius yang gila!" ucap Nara salut.


"Lalu kau gunakan buat apa uangnya?" tanya Mona penasaran.


"Hahaha aku gunakan untuk membantu panti asuhan yang dikelola temanku, kasihan dia butuh dana untuk anak-anak itu," jawab Will mengenang masa lalunya.


"Aku bahkan tidak menikmati sepeser pun duit itu, semuanya aku berikan ke panti asuhan milik temanku untuk membeli sebidang tanah dan membangun panti asuhan dengan segala perlengkapannya." Will menyimpan botol obatnya di sakunya.


"Kamu luar biasa! Berarti Alberto Kuro salah memasukkanmu di dalam semua ini?" jawab Marta.


“Aku rasa kelompok kita luar biasa Kabir, Hendro, Mona dan Toto luar biasa di bidang bela diri. Marta, aku, Darmanto dan Junaid di bidang senjata dan pertempuran karena latar belakang kami sebagai alat negara," Heru memandang semua orang satu per satu,

__ADS_1


"Nara seorang dokter, Will di bidang komputer, Zai mampu mengemudikan pesawat, Kirana di bidang analisa sungguh luar biasa." Tatapan Heru mengandung sesuatu.


"Kita akan memberikan apa yang diinginkan Alberto bukan?" jawab Kabir cepat.


"Iya, kita berikan monster yang dia inginkan selama ini," jawab Heru.


Ia sudah ingin mengakhiri semua pertempuran ini secelatnya ia sudah lelah terkurung menjadi seekor katak di dalam tempurung dan menjadi rusa buruan.


"Mari kita lihat peta lagi," usul Kirana.


Mereka membentangkan sebuah peta lusuh, "Kita berada di sini," Kirana menunjuk hutan bambu,


"Bila kita terus mengikuti hutan bambu kita akan sampai ke daerah gurun pasir yang lebih dekat dengan kastil hanya saja, ia pasti sudah menunggu kita di sana." Kirana memandang semua orang.


Mereka menantikan apa yang akan Kirana katakan. "Kita akan memutari gurun ini, hanya saja kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana," Kirana masih memperhatikan peta,


"Setelah dari sini, kita akan lurus ke mari, lihatlah! Sepertinya ini ada trafo listrik. Sedangkan di wilayah lain ia tidak membuat persediaan listriknya," Kirana terus memoerhatikan peta,


”kalau kita menyabotase listriknya. Ia tidak akan mampu menggunakan jaringan telekomunikasi, juga Crabs tidak akan mampu menggunakan kepandaiannya untuk mengotak-atik hal baru lagi." Kirana terus mengamati peta.


”namun aku rasa, gurun tidak semudah kita mengalahkan komplotan Alberto Kuro. Seperti kita menangani wilayah hatter dan hutan bambu,“ jari telunjuk Kirana masih terus berada di atas peta,


“dari sini kita akan cepat masuk ke daerah kastil dari pada kita memutar ke arah hutan kegelapan," terang Kirana menunjuk beberapa arah jalan dan jauh perjalanan yang akan mereka tempuh bila mereka memutar arah.


”Aku setuju dengan usul Kirana, selain itu, kita bisa menyabotase listrik dan mengacaunya. Beberpa dari kita mencoba menyusup kembali kekediaman Alberto Kuro untuk mencuri kembali laptop dan obat-obatan yang diperlukan Nara untuk kita," taktik Hendro.


"Baiklah, kita sudah setuju untuj memasuki gurun bukan?" tanya Kabir. Semua pion menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Sambil jalan kita harus mencari makan juga, aku sudah lapar, pwrtwmpuran dan halusinasi tadi menguras energiku," jawab Toto.


Semua orang tertawa melihat cengiran lucu wajah Toto, tubuhnya yang gempal pada awal mereka bertemu, namun kini sudah menyusut.

__ADS_1


__ADS_2