Pulau Kematian

Pulau Kematian
Gua keberuntungan


__ADS_3

Kabir dan semua orang berkumpul mendekati Darmanto, "Bagaimana engkau tahu Dar?"tanya Heru.


"Aku baru saja menjelajahi sebuah lorong sebelah kiri, aku muncul tepat di belakang kastil Alberto Kuro," jawab Darmanto.


"Kamu serius Dar?"ucap Kirana,


"kalau begitu Itu sesuatu itu yang sangat luar biasa. Kita gunakan gua ini sebagai basis kita untuk mengumpulkan kekuatan," ucap Kirana memandang semua orang.


"Sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu, besok kita akan melanjutkan kan rencana kita untuk menyelusuri gua ini," saran Khabir, mereka pun mencoba mencari tempat tidur masing-masing.


Para wanita tetap tidur dengan bergerombol dan para pria tidur dengan menyendiri, malam semakin larut mereka tidak tahu sudah pukul berapa. Di dalam gua yang ada hanyalah kepekatan, deru helikopter masih menggema di angkasa.


Alberto Kuro masih saja mengerahkan anak buahnya untuk menangkap Kabir dan para pionnya, ia tidak menyangka bahwa kali ini pionnya memiliki kekuatan yang tersembunyi.


Mereka mampu masih bertahan di Pulau Kematian, bukan itu saja mereka bahkan sudah menghancurkan dua wilayahnya yaitu wilayah hatter dan wilayah hutan bambu mereka juga pernah menyerang kastilnya.


Alberto Kuro sangat murka,ia tidak menyangka bahwa pionnya sudah mampu bertahan sejauh ini mereka juga telah membentuk aliansi untuk bertahan hidup di Pulau Kematiannya.


"Kalian harus menemukan mereka, hidup atau mati! Bila tidak kalianlah yang akan menjadi gantinya!" teriak Alberto Kuro kepada semua anak buahnya.


Semua anak buahnya berlarian ke pangkalan masing-masing untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan tuan mereka. Mereka berharap akan menemukan para pion yang sedang mereka buru.


Alberto mencari di layar monitornya di setiap sudut Pulau Kematian, ia berharap menemukan pion-pionnya yang sudah membuat hidupnya kocar-kacir tidak tentu arah. Baru kali ini ia mengalami kerugian yang sangat besar, ia harus merenovasi ulang kastil dan laboratoriumnya.


Kehancuran wilayah hatter, dan hutan bambu belum lagi ia harus mengucurkan dana untuk membayar para penjudi yang menang di meja pertaruhan karena jagoan yang mereka pilih benar-benar lihai dan memiliki kemampuan untuk menang dan bertahan.


Alberto memandang lurus ke depan, ia mulai berpikir bagaimana caranya agar para pion ini benar-benar kalah dan hancur.


“Aku akan menggunakan orang yang mereka sayangi di dunia nyata mereka sebagai sandera, agar mereka menyerah. Hahaha ... kalian tidak akan mampu mengalahkanku," Umpatnha kesal membuang gelas minumnya.

__ADS_1


Tuan Crabs dengan tergopoh-gopoh memasuki ruangan dengan sedikit terkejut, mendapati ruangan Alberto seperti kapal pecah. Ia melihat Alberto dengan tampang kusutnya, ia tidak pernah melihat Alberto demikian.


Baru kali inilah Tuan Crabs melihat sahabat gilanya menjadi semangkin gila, dengan tangan palsu besinya seperti robot, ia sedikit kesulitan mengambil sebuah buku yang berserakan di lantai, belum lagi serpihan kaca yang bertaburan di sana-sini.


”Ada apa sebenarnya Kuro?" tanya Crabs, ia tahu masalahnya adalah para pion yang kali ini memiliki sesuatu. Mereka salah memasukkan para pion kali ini, mereka salah pilih orang.


“Sekali ini, sepertinya kita menghadapi pion yang benar-benar mampu bertahan, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang mudah kita manipulasi." Alberto Kuro menatap ke retina Crabs, ia menyesali caranya kali ini memilih para pion.


”aku hanya melihat mereka, tanpa melihat latar belakang kemampuannya. Kau tahu, aku berpikir kali ini aku bisa mendapatkan duit yang paling banyak .... “ Alberto Kuro masih memandang Crabs.


”nyatanya aku sudah mengeluarkan begitu banyak uang untuk membayar semua kemenangan para penjudi, apa yang harus aku lakukan Crabs?" tanya Alberto Kuro.


“Sabarlah, aku sedang membuat sesuatu senjata yang menghancurkan mereka. Aku juga tidak menyangka mereka mengambil chip yang aku tanam," jawab Crabs,


”sepertinya ada yang membantu mereka, kalau tidak mana mungkin mereka bisa melakukan semua ini. Kita harus mencari apakah ada yang masih bebas berkeliaran di Pulau Kematian selain mereka," ucapan Crabs membuat Alberto Kuro tersadar.


Padahal mereka lebih banyak, dari pada yang kali ini. Namun kali ini mereka memiliki keahlian yang luar biasa di bidang masing-masing. Alberto menghela napasnya, ia ingin memutar otaknya. Agar secepatnya menangkap dan menghabisi para pion tersebut.


“Baiklah Crabs, gunakanlah semua kemampuanmu untuk membuat senjata yang luar biasa. Agar kita mengetahui keberadaan mereka,” perintah Alberto Kuro.


“Baiklah, Tuan!" jawab Crabs.


****


Pagi sudah datang menjelang menyongsong hari, Kabir sudah bangun ia mencoba membersihkan dirinya mencoba ke luar gua bersama Will.


Mereka mencari kayu bakar kering, mereka berusaha untuk mengendap-endap. Namun mereka urungkan untuk ke luar dari balik air terjun, karena di balik remang curahan air mereka melihat para tentara gadungan.


Mereka mengintai mereka, Kabir menarik lengan Will untuk masuk ke dalam, tanpa sengaja Will terpeleset dan menarik sebuah batu kecil, pintu gua langsung tertutup batu besar.

__ADS_1


”Wow, sempurna!“ ucap Kabir.


”Syukurlah, ini benar-benar luar biasa! Kirana benar-benar ahli,“ balas Will. Sedikit rasa cemburu merayap di hati Kabir, saat Will menyanjung Kirana. Ia cemburu, ”Mengapa dengan perasaanku?" batin Kabir bertanya.


Mereka masuk kembali ke dalam gua, mereka mencium bau ikan yang sedang dibakar, Kabir dan Will saling pandang.


Kriiiuuukk!


Suara cacing di oerut mwreka sudah mulai demo, keduanya saling pandang dan berlari menuju arah wangi tersebut.


Di bagian gua sebelah kanan keduanya melihat Heru dan semuanya sedang mbakar dan memakan ikan di atas sebuah lava gunung yang sedikit kecil.


“Lahar apa ini? Mengapa sangat kecil ya?" tanya Kabir memparhatikan bara merah yang menggelegak di bawah mereka.


”Tetapi bila masuk habis juga kita tidak tersisa, mungkin laharnya tidak begitu ganas.“ Heru memperhatikan secara seksama.


”Sudahlah yang penting kita bisa memanggang ikan tanpa harus bersusah payah ke luar dari gua,“ jawab Junaid.


”Kami tadi melihat di luar gua di luar air terjun para tentara gadungan sedang mencari kita semua sepertinga Alberto benar-benar penasaran tentang kita,“ Jawab Wil.


Ia dudukndan melahap ikan bakar yang diberikan Junaid, Kirana memberikan seekor ikan kepada Kabir mereka saling tersenyum dengan malu-malu.


”Kalian tahu, Will menemukan suatu tuas untuk menutup dan membuka pintu gua. Alhamdulillah akhirnya mereka tidak menemukan kita,“ ucap Kabir.


”Dar, bagaimana kalau setelah ini kita mengintai ke kastil lewat lorong yang kamu temukan. Agar nanti malam kita bisa mencoba untuk bergerilya,“ saran Kabir.


”Mantaf, aku sih yes!“ jawab Darmanto diikuti gelak tawa semua orang.


Setelah merek selesai makan, mereka membagi kelompok, ada yang menyusuri gua, ada yang berjaga-jaga dan ada yang tidur untuk persiapan nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2