Pulau Kematian

Pulau Kematian
Kehamilan


__ADS_3

Rusa mendarat tepat di sisi Junaid dan para pion di atas tebing di seberang, Nara turun dari punggung rusa dan memeluk kekasih hatinya Junaid dan semua pion lain.


Mereka bersyukur, "Terima kasih, tanpa kalian kami tidak selamat!" ujar Nara. Mereka menanti Darmanto, Mona, dan Marta yang masih mencoba melintasi medan longsor batu.


Rusa berusaha terus membawa mereka dengan nyaman, di punggungnya dan setelah sampai di dekat para pion rusa berhenti.


Nara, Marta, dan Darmanto turun dari punggung rusa dan bergabung dengan para pion menembakkan laser ke arah tebing. Sehingga kehancuran semangkin besar menghancurkan tebing hatter,


mereka berusaha untuk menghancurkan para hatter level 4, keheningan terjadi suara menjadi lengang, mereka tidak lagi mendengar teriakan atau pun boomerang para hatter.


Semua pion saling pandang, tiba-tiba deru heli bergema dari kejauhan. Membuat semuanya secepat kilat berlari, menuruni tebing berusaha untuk mencapai stepa agar memudahkan mereka berlari dan bersembunyi.


Semua pion berlari sekencangnya menuruni undakan tebing, secepat mereka bisa mereka tidak lagi peduli dengan lecet dan luka serta darah yang mengucur deras.


Akibat terbentur dan tersandung bebatuan tebing, mereka terus meluncur ke bawah. Heli kembali berputar mengitari tebing menembaki para pion,


Ayesha berusaha untuk membuat perisai perlindungan bersama dengan keempat rusa. Salah satu rusa menyambar tubuh Ayesha agar naik ke punggung rusa, karena ia sedikit lemah dan hampir jatuh dari larinya.


Heru masih melihat istrinya yang duduk di punggung rusa dengan tangan masih mengepal, tetapi sedikit limbung.


Ia bersyukur rusa begitu sigapnya menarik tubuh Ayesha hingga ia tidak sempat terjatuh,


Ia berusaha untuk melindungi dirinya dan semua orang,


mereka semua terus meluncur dan berlarian menghindari semua bebatuan yang longsor, juga tembakan bazoka heli yang menghancurkan tebing belum lagi peluru dari m60.


Tiba-tiba sebuah kabut hitam menyelimuti Pulau Kematian membuat semua orang kebingungan, sebuah tangan menarik mereka semua. Membawa mereka berputar melewari pusaran waktu dan menjauhkan mereka di bawah sebuah pohon rindang.

__ADS_1


Mereka bersyukur mereka selamat, para beeluf datang bergerombol mengobati luka mereka dengan semprotan botol obat dan meminumkan ramuan pahit.


Rusa berlari ke semak-semak ke kawanan mereka, Ayesha jatuh pingsan Heru memapahnya seorang tabib datang memeriksa nadi di tangannya, "Alhamdulillah, istrimu hanya kelelahan. Sepertinya Ayesha hamil," ucap si tabib.


Heru terbodoh memandang si tabib, "Benarkah?" balasnya. Ia memandang wajah istrinya yang pucat, ia meraih istrinya di dalam dekapannya. Ia menangis haru, "Terima kasih, cintaku!" ucapnya.


Semua orang merubungi Ayesha mereka takut telah terjadi sesuatu, "Ada apa? Apa yang terjadi dengan Ayesha!" semua kata tercetus dari bibir semua orang.


Semua orang begitu khawatirnya, mereka takut telah terjadi sesuatu mereka merasa sejak dari gua air terjun.


Ayesha selalu saja pucat dan kelelahan, apalagi ia selalu menggunakan kekuatannya untuk melindungi mereka.


Heru masih memeluk Ayesha yang lemah, "Tidak ada apa pun yang terjadi dengan Ayesha, semua ini karena Ayesha sedang mengandung!" ucap si Tabib Marwah.


Semua orang saling pandang, "Maksudnya, Mak? Ayesha lagi hamil, begitu?" tanya Marta.


Semua orang saling pandang, "Hamil, anak seorang bayikah?" tanya Hendro.


"Aku hanya bahagia, aku tidak menyangka Ayeshaku akan mengandung lagi. Akan tetapi, pada saat sekarang, mengerikan sekali. Sementara aku pun tidak tahu keberadaan Nisa putri kami," balas Heru.


Semua orang terdiam, mereka mengerti semua hal yang begitu menyedihkan bagi mereka, "Heru, semua orang dan semua jiwa memiliki perjalanan hidup masing-masing. Tidak perlu cemas, Allah akan menjaga semua-Nya," ucap Yahmen.


Semua orang terdiam dan seketika suara riuh bergema. Para pion melihat dengan kebingungan, semua wanita dan orang-orang beeluf dan yang tinggal di tanah tak kasatmata membawa buah-buahan dan ikan, ayam yang sudah di masak dengan berbagai bumbu.


Seakan ada pesta, "Apakah ada pesta?" tanya Kabir kepada Sukuna. Sukuna melihat ke sekitarnya, "Semua itu, sebagai perayaan kehamilan ayesha. Di sini suatu kehamilan adalah berkah, mereka merayakannya!" jawab Sukuna.


Para warga berduyun-duyun meletakkan semua makanan ke atas bale meja kayu dan bambu, musik-musik tradisional bergema anak-anak menari-nari bahagia.

__ADS_1


Ayesha digendong oleh Heru mengikuti acara, semua orang sudah membersihkan diri dan berpakaian baru. Para pion mendapatkan pakaian baru walaupun, demikian semua senjata masih terselip di punggung dan pinggang masing-masing


Mereka menikmati makanan dan tarian dengan bahagianya, melupakan sejenak pertempuran dan segala hal yang berkaitan dengan Alberto.


Ayesha begitu bahagianya tersenyum di dekapan sang suaminya, semua orang menyulangkan sesuap makanan demi makanan ke mulut Ayesha dan Heru.


Melantuankan puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, rembulan bersinar terang menerangi pulai kematian.


Tentara Alberto dan para hatter mayat bergerombol menyusuri gurun dan Hutan Kegelapan, berputar-putar di sekitar pohon gerowong mereka mendengar lantunan ayat-ayat suci dan puji-pujian juga semarak kegembiraan.


Akan tetapi, mereka tidak dapat melihat seorang pun berada di situ. Yahmen, Balian, Aoi, dan Mano berpegangan tangan membentuk sebuah lingkaran, cahaya berpendar di sekitar mereka melingkupi keberadaan tanah tak kasatmata.


Para tentara dan hatter terus berjalan dan menebas semua semak, mereka melihat sekawanan rusa yang berlarian menjauhi pohon gerowong.


Para hatter mayat berlarian dengan kelontangan besi di bagian tubuh mereka, mengejar rusa yang membawa mereka semangkin dalam ke hutan kegelapan.


Para rusa begitu cerdiknya, menuntun mereka ke suatu tempat yang berbeda dari yang tidak pernah mereka lewati di bagian hutan.


Para pion menyudahi pesta bersembunyi di balik lingkaran perisai mengamati setiap gerakan para tentara dan hatter mayat.


Mereka mengendap-endap terus berjalan, mengikuti semua musuh mereka yang hanya berjarak beberapa meter setelah mereka menjauhi hutan gerowong mereka berusaha bergerilya.


Masing-masing membunuh secara berlahan para tentara dan hatter yang paling belakang, menarik dan memasukkan satu demi satu mayat ke dalam sebuah sungai berwarna hitam.


Sungai yang menghisap seperti kata Yahmen, ”Bunuh semua musuh, dan masukkan ke dalam sungai hitam penghisap. Agar Alberto semangkin bingung," ucap Yahmen.


Benar saja satu per satu para tentara mereka lucuti, dan para beeluf mengumpulkan semua senjata dan granat dari semua mayat sebelum mereka memasukkan ke sungai hitam penghisap.

__ADS_1


Semua mayat yang dibuang terhisap ke dalam sungai tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, tentara Alberto tidak menyadari jika satu demi satu teman mereka sudah lenyap.


Akan tetapi, hatter mayat yang mengandalkan indra penciuman dan pendengaran merasakan ada sesuatu di sekitarnya, ia langsung menembakkan senjatanya memberondong ke segala arah


__ADS_2