Pulau Kematian

Pulau Kematian
ketenangan sesaat


__ADS_3

Mereka makan dengan diam, menikmati setiap gigitan remah roti yang sudah mengeras. Berpikir dan mengutuki jalan yang harus mereka tempuh, masing-masing sibuk dengan roti dan masih bersyukur bahwa nyawa belum lepas dari raga.


Tetesan darah di pedang dan bercak darah di sekujur tubuh sudah menjadi hal lumrah lagi, bau amisnya pun sudah terbiasa mereka cium. Mereka makan dengan tergesa, satu hal baru yang wajib mereka lakukan.


Mereka hanya mengganjal perut tanpa menikmati semua rasa, segalanya hambar mereka hanya memikirkan bagaimana bertahan hidup dan keluar dari pulau kematian.


Mereka masih bersyukur mereka masih berkumpul jadi satu tanpa ada yang tewas, padahal begitu mengerikan apa yang telah dilakukan oleh Alberto Kuro kepada mereka .


Setiap waktu Alberto selalu saja membuat suatu gebrakan untuk menghancurkan mereka, tetapi mereka selalu saja berhasil lolos dari maut. Itu adalah suatu kelebihan yang luar biasa bahkan, sebaliknya basis Alberto Kuro sebagian telah hancur.


Keheningan yang mencekam seiring dengan deras hujan dan petir yang membahana, "Sejak kita di sini, hujan selalu turun. Aku tidak tahu, apakah itu suatu keberuntungan atau sebaliknya?" ujar Kabir.


"Suatu keberuntungan, sebelumnya sangat sulit turun hujan, terutama daerah gurun ini. Kehadiran kalian adalah suatu keberuntungan," jawab Heru. Ia sudah menyelesaikan remahan terakhir dari roti baggel yang kerasnya minta ampun.


Akan tetapi bagi mereka itu masih suatu anugrah yang luar biasa, mereka masih dapat mencuri dari dapur Alberto Kuro tanpa diketahui oleh mereka.


Mona berjalan ke arah anak sungai, ia membersihkan bekas darah yang masih menempel di bajunya.


Nara berhasil mencuri 4 pasang baju tentara wanita, memudahkan para wanita untuk berganti pakaian. Mereka beruntung Nara memiliki pemikiran yang luar biasa, ia masih sempat memberikan kenyamanan sebagai sesama wanita.


Ia mencuri beberapa pakaian dalam yang masih baru, dan beberapa kaus yang nyaman.


Mereka bersyukur masih ada beberapa wanita hebat, dan luar biasa bersama mereka. Membuat mereka sangat memahami satu sama lainnya.


Marta dan Kirana menjerang air membuat kopi untuk semuanya, mereka mencoba menikmati semua kehidupan dengan sebaik-baiknya. Berusaha melupakan sedikit kesedihan di antara mereka, Marta duduk di sisi Darmanto.


Mereka semua memahami, ada rasa antara Darmanto dan Marta walaupun tanpa kata, seperti Kirana dan Kabir, Junaid dan Nara. Berbeda dengan Mona dan Hendro yang kerap bertengkar tak tentu arah, tetapi mereka selalu saling mengasihi di dalam keributan yang mereka ciptakan.


Kesembilan pion menatap ke arah Hendro dan Mona yang masih saling tarik menarik mengenai sebuah cangkir, mereka seperti kanak-kanak.


"Kalian ini, selalu saja bertengkar. Lama-lama jatuh cinta benaran, baru tahu!" ujar Marta.

__ADS_1


"Aku tidak akan jatuh cinta dengan si Tengik," cerocos Mona.


"Aku tidak yakin kau tidak akan jatuh cinta kepadaku, lihat saja nanti!" balas Hendro tidak kalah sengit.


"Gak bakal, ya!" balas Mona. Akhirnya mereka duduk dengan diam, saat Kirana menuang kopi ke cangkir masing-masing.


Masing-masing diam dengan menyesap kopi pahit tanpa gula, itu adalah hal yang sangat mewah yang telah mereka dapatkan.


Malam semangkin larut, semuanya mencoba untuk tidur.


Hendro pergi ke lorong gua lain, mencoba untuk tidur dengan nyamannya. Ia mencoba untuk tidur dengan tenangnya, suara guntur begitu menggelegar di angkasa.


Sedikit kedamaian yang mereka rasakan, baru saja Hendro memasuki dunia mimpi. Di mana ia sedang berciuman mesra dengan Mona begitu panasnya,


kala lingkaran tangan Mona menarik tengkuknya membawanya menikmati sensasi rasa yang tidak mampu ia lukiskan.


Kecu*an Mona begitu membawanya, menikmati rasa yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.


Indra pengecapnya pun menyusuri rongga dalam mulut Mona.


Hendro melompat terbangun, memegang senjatanya. Membuyarkan semua mimpi indah dan panasnya, "Sialan, siapa sih?" batinnya kesal.


Hendro benar-benar marah, ia terganggu dari mimpi manisnya. Ia sudah sangat mendamba rasa itu, hampir saja ia mimpi basah seperti kala masa pubertasnya dulu.


Cahaya temaram dari sinar senjata laser sedikit memberikan samar cahaya, Hendro menajamkan pandangan retinanya. Ia mencoba mengenali siluet tubuh seseorang, yang sedang terbaring di atas tubuhnya kesakitan.


Bayangan mimpi liarnya sedikit mengusiknya, tanpa sadar ia merengkuh wajah di depannya. Melakukan apa yang telah ia rasakan di dalam mimpinya, awalnya si bayangan menolaknya dengan keras.


Namun, detik berikutnya ia yang semangkin bergairah. Indra pengecap mereka saling beradu menimati semua rasa yang sudah hampir terlupakan.


Napas keduanya tersengal, keduanya melepaskan pelukan dan kecupan yang panas yang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


"Mona?!" teriak Hendro.


"Hendro?!" pekik Mona.


Keduanya saling teriak bersamaan, secepat kilat Mona bangkit dari jatuhnya. Ia merasa malu juga heran, "Mengapa aku bisa berjalan sampai ke lorong gua ini?" batin Mona.


Ia mengingat ia tidur di samping Marta, Nara, dan Kirana tidur.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Mona. Ia menutupi rasa malunya walaupun sebenarnya ialah yang salah,


"Aku menc**mmu, dan aku bermimpi menc**mmu. Lalu aku tidak tahu, dari mana kamu datang. Aku kira aku masih bermimpi, kecupanmu sungguh sangat luar biasa Mona, sayangg!" balas Hendro.


Hendro rela Mona membunuhnya asalkan ia mendapatkan kecupan panas itu lagi, "Dasar gila!" tukas Mona. Ia sudah merona merah, karena malu dan bahagia.


Dua hal yang sangat berbeda tetapi sejalan, ia meninggalkan Hendro. Namun, langkahnya terhenti. Keduanga saling mendekat, mendengarkan derap kaki yang mulai bergerak di sekitar air terjun.


Keduanya saling pandang dan berlari ke arah teman mereka, mematikan lampu senjata laser. Keduanya berlahan membanguni kesembilan pion lainnya.


Mereka bersiap siaga untuk menghadapi semua cobaan yang mungkin, akan segera datang menghadang mereka.


Mereka bersiap-siap untuk menyerang balik, para pion bergerak mengendap-endap di dalam gelapnya gua. Memasuki gua yang penuh dengan lava panas, mereka bersembunyi di antara letupan lahar di dasar jurang di bawah mereka.


Mereka menunggu, apa yang akan datang mengusik mereka. Benar saja pasukan tentara beeluf muncul dengan pakaian merah dengan tombak, pedang, dan cameti.


Mereja berhasil memasuki gua persembunyian para pion, "Seharusnya mereka sudah mati, mengapa masih ada lagi?" celetuk Hendro.


"Mereka akan berkembang biak, hukum alam." Mona memandang ke arah para beeluf yang menatap dengan tajam ke arah mereka.


"Apakah kalian tidak lelah, aku baru saja ingin istirahat. Kalian sudah datang lagi," kata Toto dengan malasnya.


Ia mengeluarkan pedang samurainya, kilauannya memberikan pantulan cahaya di antara letupan magma yang terus meletup-letup di bawah sana.

__ADS_1


Seorang pria beeluf menyerang tanpa bicara, ia mengayunkan cemetinya membelah kesunyian. Suara pecutan membahana, Toto melompat-lompat ia tidak memiliki kesempatan untuk membalas serangan.


Darmanto turun tangan membantu, akhirnya masing-masing berhamburan ke medan perang. Masing-masing berusaha untuk menjatuhkan lawan mereka secepat mereka bisa.


__ADS_2