Pulau Kematian

Pulau Kematian
Hubungan darah lebih pekat dari air


__ADS_3

Muti duduk di salah satu batu di tebing, melihat adiknya sudah berubah menjadi wanita yang tangguh dan tegar.


Dulu, ia mengingat Yahmen selalu menangis dan terluka setiap kali ia harus belarian mengejar si rusa nakal.


Belum lagi ia harus berulang kali jatuh dan terluka dari tebing kala memanjat.


Ia sering menangis kala lututnya berdarah terjatuh dari dahan ke dahan bila ia terpeleset jatuh, kala melompati dahan demi dahan.


Setiap malam Muti selalu memeluk adiknya yang kurus ceking dengan rambut hitamnya yang lebat memenuhi kepalanya.


Sinar matanya begitu menyedihkan akan tetapi memiliki tekad sekuat baja, setiap purnama ia selalu memandang bulan.


Semenjak kecil, satu hal yang tidak pernah Yahmen lewatkan.


Ia selalu berharap ayah dan ibu mereka pulang dari bulan dan kembali ke Pulau Beeluf.


Rayan memberikannya seruling perak, mengajarinya meniup seruling. Sehingga setiap malam ia selalu melantunkan kesedihan dan kerinduannya kepada Ayah dan Ibunya.


Yahmen di usianya yang sepuluh tahun tidak pernah mengeluh dan bertanya soal kedua orang tua mereka.


Ia hanya membenci Alberto, sehingga saat ia menginjak remaja.


Kecantikannya sangat luar biasa terpancar, ia benci para tentara yang ingin memperkosanya.


Sehingga ia membunuh mereka semua di gurun, sejak saat itu Yahmen memakai cadarnya.


Ia tidak ingin orang-orang melihat wajahnya dan kecantikannya. Yahmen kecil sampai ia dewasa lebih senang menyendiri.


Di Hutan Kegelapan dan menyendiri di Tebing Hatter kala purnama, serta di Gurun Pasir dengan badainya.


Keduanya menyadari mereka merindukan ayah dan ibu mereka, untuk berziarah pun mereka tidak bisa.


Semua itu karena sumpah dan air bah yang dilakukan Bahale sang ayah sehingga air bah menenggelamkan mereka entah ke mana.


Ayahnya tidak ingin tubuhnya dan seluruh klannya yang mati terbunuh di malam mengerikan itu akan disentuh oleh Alberto.


Sehingga dengan kekuatan sihirnya yang terakhir ia membuat air bah menelan tubuhnya dan semua klannya yang meninggal.


Ayahnya tidak tahu jika kedua putrinya dan Sepuh Rayan masih hidup, hanya ibunya yang tahu jika kedua putrinya masih hidup.


Yahmen bersumpah, "Aku akan membunuh semua pengikut Alberto dan Alberto sendiri. Walaupun nyawaku taruhannya!" sumpah Yahmen di saat hujan deras dan guntur menyambar.


Di saat mereka berlari ke dalam Hutan Kegelapan kala malam naas itu terjadi.


Dengan deraian air mata keduanya berlarian, dan terjatuh. Keduanya tidak peduli akan kaki mungil mereka berdarah terluka karena onak dan duri tumbuhan.

__ADS_1


Mereka terus berlari hingga keduanya terperosok ke dalam jurang dan tersangkut di antara akar beringin dan belanti.


Untung saja elang Sesepuh Rayan mencari keduanya, dan Rayanlah yang mengambil mereka dari jurang terjal.


Rayanlah yang membesarkan dan mendidik keduanya, karena keduanya adakah cucunya. Ayah Balian adalah anak dari sepupunya yang sudah wafat.


Ia sendiri memiliki saudara kembar yang mengasingkan diri di Pulau Tak Bertuan ia lebih memilih menjadi Suku Hideng di sana dengan kaumnya.


Suku yang berpakaian gelap dan melapuh warna hitam dari tumbuhan di wajah mereka


Sedangkan Rayan lebih suka memakai sorban dan baju putih seperti orang Arab, sejak ia pulang dari Tanah Suci Mekkah.


Sedangkan Rayan ia menikah dan istrinya meninggal di saat melahirkan, begitu juga dengan putranya.


Rasa cintanya kepada Kamini seorang wanita Pakistan yang terdampar di Pulau Beeluf, membuatnya tidak pernah menikah lagi di sepanjang hidupnya.


Ia hanya mengajari anak-anak mengaji, orang-orang bilang ia memiliki ilmu sihir padahal semua itu ia dapatkan dari kitab suci Al-Qur'an.


Rayan hanya tersenyum, ia pun tidak mengetahui bagaimana ia bisa berbicara dengan elang dan mengetahui banyak hal baik yang belum terjadi dan akan terjadi.


Muti memandang adiknya yang masih berlatih bertarung dengan si rusa nakal, adiknya begitu cantik.


Rambut panjang terurainya tidak pernah ia ikat, berbeda dengan Muti yang selalu menggelungnya dan menutupnya dengan selendang berwarna merah dan pakaian merah.


Yahmen sendiri membiarkan rambutnya terurai panjang, dan indah. Menutup mulut dan hidungnya, dan menutup kepalanya dengan seutas selendang.


Ia hanya memperlihatkan kedua belah matanya yang sangat indah dan kecoklatan.


Ia masih mengingat adiknya menjadi pendiam di sepanjang hidupnya, ia tidak banyak bicara. Yahmen hanya memperhatikan dan belajar.


Namun, kasih sayangnya dan kepeduliannya selalu besar. Ia akan menangkap ikan dengan banyaknya dari lautan menggunakan sihirnya.


Membawanya pulang, dan mengajari para beeluf menganyam dan menenun.


Ia selalu mengajari anak-anak berperang dan mengaji. Membaca dengan huruf Arab maupun Bahasa Indonesia.


Ia selalu menyendiri di tebing dan membawa orang yang terluka dari gurun, atau di mana pun yang bisa ia selamatkan


Yahmen tidak pernah mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang ia tolong, ia hanya diam saja dan berlalu.


Kini, Muti bersyukur dan sedikit tenang. Bila kelak ia sudah tidak ada ia yakin Klan Beeluf mereka semangkin maju di bawah bimbingan adiknya dan Mano juga pasangan mereka.


Akan tetapi, satu yang masih mengganjal di benaknya. Ia takut dendam dan kemarahan Yahmen akan menggila.


Bila kelak ia mendapati dirinya sebagai kakak yang masih tersisa harus mati.

__ADS_1


Muti tercenung, ia masih ingin lama di sisi adiknya. Akan tetapi takdir sudah berkata lain, ia hanya mampu berdo'a agar takdir sedikit ramah kepadanya.


Yahmen memandang kakaknya, ia menyudahi latihannya dan menyambut kakaknya dengan senyuman.


Muti bahagia kini sejak kehadiran Aoi, Balian, dan Mano. Ia sudah banyak tersenyum dan mampu meluahkan perasaannya.


Ia tidak sedingin kutub utara dan tidak setenang lautan dalam ia mulai tertawa dan membaur, berbicara dan banyak hal lainnya.


"Kakak!" ucap Yahmen. Keduanya duduk di tebing dengan kaki menjuntai di jurang terjal bebatuan hatter.


Bunga-bunga lila masih bermekaran walaupun purnama sudah mulai berakhir.


"Yahmen, kau ingat masa kecil kita dulu di sini?" tanya Muti.


Yahmen memandamg kakaknya dan tersenyum, "Tentu, aku selalu kelelahan. Dan kau selalu menggendongku di punggungmu mendaki tebing ini.


"Kau tahu, Kak? Terkadang, aku tidak menyangka kau sekuat itu. Padahal umurku dan umurmu hanya selisih beberapa tahun saja, tapi kau sangat kuat.


"Aku berterima kasih kepadamu, Kak!" balas Muti.


Muti tersenyum membelai lembut rambut Yahmen,


"Sesama keluarga, tidak ada ucapan terima kasih maupun utang balas budi. Semua itu adalah kewajiban, sebagai saudara adikku!" balas Muti,


"hubungan darah lebih kental dari air. Hubungan darah selalu memanggil untuk kembali, sejauh apa pun itu!" sambung Muti tersenyum.


Keduanya memandang ke langit kelam penuh bintang, "Andaikan Ayah da Ibu madih ada, ia pasti bangga kepadamu Yahmen!" ujar Muti.


Yahmen memandang kakaknya, "Semua ini karena dirimu dan Sepuh Rayan, Kak! Jika bukan karena kalian, aku tidak ada apa-apanya."


Yahmen merangkul bahu kakaknya, ia selalu damai di dalam bahu dan pelukan Muti. Ia merasa Muti adalah ayah, Ibu, kakak, teman, dan semua hal.


Sehingga ia tidak kekurangan kasih sayang dari semuanya.


Yahmen tahu, kakaknya banyak menghabiskan waktu untuknya dan Klan Beeluf mereka.


Ia tidak pernah berpikir untuk menikah. Yahmen tahu kakaknya pun sangat cantik sifatnya yang lembut dan keibuan,


ia memiliki kasih seluas samudra. Ia tidak pernah menghukum musuhnya bila ingin bertaubat.


Muti adalah ketua yang luar biasa di klan mereka. Ia tidak pernah memihak siapa pun, baginya semua sama.


Termasuk Yahmen, bila Yahmen melakukan kesalahan ia pun menghukumnya.


Namun, Yahmen tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Muti dan Rayan begitu bangganya kepada Yahmen.

__ADS_1


__ADS_2