
Kirana sudah berhadapan dengan pria di depannya ia memutar samurai di tangannya, "Mengapa kau bunuh sahabatmu, sendiri?" tanya Kirana.
Si pria hatter hanya mendengus, "Aku benci orang yang lemah dan, cengeng!" jawabnya lugas.
Kirana menerjang si pria menebaskan ke arah lengannya si pria menangkis pedang Kirana dengan goloknya cring! Suara mata pedang dan golok bertemu memercikkan semburat bunga api.
Si pria begitu kuat dan lihainya, ia dengan berbagai cara dan gaya memukul Kirana mundur. Namun, Kirana berusaha untuk terus maju dan bertahan. Si pria hatter menyerang kembali Kirana dengan goloknya,
Kirana mencoba sekuat tenaga dengan dua belah tangannya memegang senjata menangkis setiap serangan. Si pria dengan liciknya melontarkan pisau ke arah Kirana, hampir saja mengenai leher Kirana bila ia tidak mengelak.
Kirana mendengus kesal, "Kau curang, sialan!" ucap Kirana. Ia ingat ia masih memiliki shuriken dari ninja yang telah tewas, saat si pria hatter ingin kembali menyerangnya dengan menebaskan golok ke bagian pinggang,
Kirana membuat gerakan kayang hingga tebasan meleset, secepat kilat Kirana melontarkan shurikennya ke arah si pria hingga menembus ke urat nadi di lehernya. Ia ambruk merosot ke tanah, "Kau yang mengajariku, curang! Rasakanlah!" ucap Kirana.
Ia pun berlalu, meninggalkan si ketua hatter. Para hatter yang melihat ketuanya tewas langsung mundur dan kabur, Kabir dan yang lainnya membiarkannya saja.
Mereka kembali berjalan menyusuri gelapnya malam mencoba untuk kembali ke gua air terjun, "Apakah tidak ada jalan pintas yang cepat ke arah gua kita?" tanya Will. Ia sudah tidak sabar, "Ada, tetapi sangat berbahaya. Kita harus melewati tebing di wilayah stepa bagian hatter," jawab Rani.
Ia sepertinya enggan melewari kumpukan hatter, "Bagaimana kalau kita lewat dari sana, saja?" tanya Kirana.
"Aku kurang setuju, di sana terlalu bahaya!" balas Rani. Ia masih diam dan menggigit bibir bawahnya,
"Memang mengapa begitu berbahaya, Rani?" tanya Kabir. Rani menatap ke arah Kabir, hatinya masih saja berdetak tak menentu.
__ADS_1
Ia menarik napasnya, "Karena di sanalah sarang, para hatter! Mereka mendiami ceruk-ceruk tebing!" balas Rani.
Marta memandang Rani, "Apakah ada sesuatu yang membuatmu enggan ke sana, Rani?" tanya Marta curiga.
Rani memandang ke arah Marta,
"Kami para beeluf dan hatter saling bermusuhan, dan berusaha untuk tidak terlibat kontak maupun konflik. Karena itu seperti perjanjian antara tetua dahulu dan tetua hatter, aku pun kurang tahu dengan hal itu. Hanya saja .... " Rani tidak tahu harus jujur atau hanya diam saja, "Ceritakan saja, Rani!" ucap Kirana.
Rani memandang ke arah Kirana dan semua orang, "Aku dan Ayesha pernah menyerang mereka, karena salah saru hatter ingin memperkosa seorang beeluf. Sesa, nama beeluf itu sudah tewas. Ayesha marah. Kami menyerangnya, kami banyak yang tewas begitu juga dengan kelompok hatter." Rani mencoba untuk menepis bayangan kelamnya,
"namun, Ayesha dan semua yang ikut harus diisolasi selama 30 hari. Selain itu kami juga mendapatkan pelecehan seksual, hingga pada akhirnya Ayesha mendapatkan ide dengan Sukuna. Untuk memodifikasi chip hingga ke mana pun kami pergi dan menjalankan perintah, Alberto tidak tahu.
"Kami tidak menjalankan perintahnya, semua itu bentuk dari perlawanan kami. Tetapi sejak itu, kami enggan melewati bagian hatter!" jawab Rani.
Rani memandang Kirana dan mencoba tersenyum, "Kalau kalian ingin mrnyerang, sebaiknya kita berkumpul semua. Kita hancurkan sarang mereka, tetapi lebih baik siang hari saja. Jika siang mereka tertidur," balas Rani.
Semua orang memandang ke arah Rani, "Maksudmu?" tanya Marta. Malam semangkin pekat dan larut mereka berjalan sedikit melambat, "Hatter, memiliki 5 tingkatan. Mereka yang terbanyak di antara ninja dan beeluf, biasanya yang bergerak siang hari mereka adalah para hatter pencari mangsa atau disebuat pesuruh tingkatan yang paling bawah," kata Rani,
"sedangkan yang menengah mereka hanya bergerak, bila kelompok pesuruh sudah tidak mampu menyelesaikannya. Itu tingkatan kedua, tingkatan ketiga lebih hebat lagi dari pertama dan kedua. Kita belum menghadapi tingkatan keempat dan kelima, mereka sangat buas," sambung Rani.
"Hatter yang mengalahkan kami tingkatan ketiga, yang biasa kita hadapi juga tingkatan 1, 2, dan 3. Mereka bilang, yang tingkatan keempat dan lima jarang turun.
Mereka kebanyakan di ceruk-ceruk tebing," ucap Rani.
__ADS_1
Ia memandang ke semua orang, "Bila ingin lebih lengkapnya, tanyalah kepada Ayesha dan Sukuna. Mereka yang banyak bertarung dengan hatter, hingga Alberto menekan ketua kami untuk mengucilkan mereka berdua." Rani menarik napasnya.
"Rani, lalu mengapa ketua beeluf tidak melakukan kudeta kepada Alberto Kuro?" tanya Darmanto. Ia merasa beeluf tidak suka berperang dan memburu kaum pion.
Rani memandang ke arah Darmanto, "Aku, kurang tahu soal itu. Kami hanya disuruh menjaga pasokan listrik di Pulau Kematian, aku pernah mendengar desas-desus. Dulunya para tetua juga melakukan, perlawanan!" tukas Rani,
"tetapi sejak keluarga mereka, diculik dan dibantai di depan mereka. Akhirnya mereka mundur dan tetua yang lama melawan hingga kematian, aku juga masih baru. Jadi, kurang begitu memahaminya." Rani memandang ke pekatnya malam, ia menyudahi cerita perihnya.
Semua terdiam dengan perasaan masing-masing, "Bila kita ingin menyerang hatter, coba tanyalah kepada Ayesha dan Sukuna. Aku yakin mereka pun pasti dengan senang hati ikut, tetapi menurutku ..., alangkah baiknya bila kita menyusup ke kelompok beeluf pakaian merah. Biasanya mereka berkeinginan untuk ke luar dari sini,
"Berbeda dengan kelompok beeluf berpakaian putih. Mereka sudah hidup berpasangan dan menikah di sini, jadi mereka sedikit enggan untuk pergi dari pulau ini. Mereka juga mendapatkan hak yang berbeda dari Alberto karena kesetiaan mereka. Kalau kalian butuh, bantuan!" sambung Rani.
Semua orang mencerna dengan baik-baik semua ucapan Rani, mereka memulai menyusun sebuah rencana di hati masing-masing.
Mereka berlari kembali menembus malam yang sudah semangkin menjelang pagi, kabut tebal semangkin banyak, "Kabut ini sangat, tebal?" ujar Marta.
Rani mengambil sebilah seruling bambu dan meniumnya, kabut sedikit berkurang dan menipis. Semua orang begitu kagumnya, "Wah, kamu hebat sekali Rani!" celetuk Kirana.
Rani tersenyum, "Aku juga tidak tahu apa fungsinya seruling ini, tetapi ketua Ayesha mengatakan, 'Ada waktunya turun kabut di sini, jadi kita harus membunyikan seruling untuk mengusirnya,' dan benar adanya," balas Rani.
"Beruntungnya kami, memilikimu!" jawab Kabir. Pujian Kabir membuat jiwa raga Rani melayang terbang ke awan, akan tetapi ia berusaha untuk tidak mengindahkan perasaannya.
Ia tidak ingin membuat hatinya semangkin sakit karena patah hati, karena ia tahu. Kabir sangat mencingai Kirana, semua itu terlihat dari tatapan matanya.
__ADS_1