Pulau Kematian

Pulau Kematian
Lolos dari maut


__ADS_3

Keempatnya berusaha untuk saling melindungi, Darmanto mengambil pedang samurainya dengan dua pedang di kedua belah tangannya.


Marta dengan dua pedang dan sangkur di mulutnya, Nara mengeluarkan golok besarnya, Mona mengeluarkan samurai Aoi ia sudah bisa menjinakkan samurai iblisnya.


Mereka berusaha untuk memukul kembali boomerang agar mengenai musuh mereka di atas tebing, para hatter berteriak senang kala keempatnya berjumpalitan di lorong sempit tebing di mana mereka berhasil menjebak keempatnya dengan kecerdikan mereka.


Namun, mereka belum juga berhasil melukai salah satunya. Dentingan pedang dan boomerang memercikkan bunga api, membuat suara ngilu di gigi bagi yang mendengarnya.


Mona melompat ke arah tebing ia berusaha untuk menggapai puncak tebing agar ia bisa leluasa bergerak di lorong sempit tebing, tetapi cadasnya tebing membuat mereka kesulitan untuk naik.


Kabir dan yang lain mendengar suara dentingan suara pedang dan boomerang berlaga, "Arah, sana!" ujarnya berlari secepat kilat. Will, Zai, dan Toto sudah mengeluarkan senjata laser mereka melindungi semua pion jika ada yang menembakkan senjata.


Sukuna, Ayesha, Kirana, Kabir, Hendro, dan Heru juga Junaid sudah menggenggam pedang mereka di belah kedua tangan berlarian di atas bebatuan.


Melompati semua batu cadas tebing terjal, mereka tidak mengerti ada orang yang mau bersusah payah tinggal di atas tebing seperi burung camar bersarang.


Mereka terus mengikuti suara angin yang mengantarkan dentingan pedang, akan tetapi mereka dihadang oleh para hoody yang lain. Berbaris di depan mereka, belum lagi dari ketinggian para hoody lain menerbangkan boomerang mereka.


Trio mekanik begitu sigapnya menembakkan laser ke atas tebing, membuat tebing menjadi runtuh dan menjatuhkan para hoody dari atas.


Sehingga boomerang mereka terbang tanpa arah menghantam semua orang, baik pion dan hoody yaitu hatter level 4 sedikit buas dan kejam yang lebih kejam lagi adalah hatter tingkat 5.


Semua orang bertempur dan sekaligus mengelakkan boomerang yang semangkin bergerak tidak tentu arah, seakan ada magnet di antaranya.


Sementara si pemilik sudah jatuh entah ke mana tertimbun runtuhan batu maupun terperosok ke dalam jurang lembah.

__ADS_1


Kabir berusaha menjatuhkan hatter wanita betubuh kecil di depannya, tetapi memiliki kelihaian yang mengerikan, si hatter di balik hoodynya begitu lincahnya dengan golok yang mirip dengan Nara.


Kabir melihat goloknya dan berpikir, "Apakah ini Nara? Tidak mungkin! Atau jangan-jangan .... " batinnya. Ia memandang semua pion, "Semua, Pion!" teriak Kabir.


Semua pion kebingungan, akan tetapi mereka melihat dari punggung mereka menyebar cahaya keperakan yang menyilaukan mata semua hatter. Laksana matahari yang langsung menyinari ke mata para hatter membuat mereka mengalihkan pandangan.


Kabir dan semua orang tidak menyia-nykakan kesempatan mereka menebas semua musuh mereka, dengan mudah dan cepatnya.


Sihir yang digunakan Ayesha sungguh luar biasa, hanya beberapa hatter yang masih tersisa di atas tebing dan mereka menghilang dengan sebuah lengkingan terompet menggema, "Ngguungg!" gema terompet membuat semua hatter yang tersisa kabur.


Mereka meninggalkan begitu saja musuh mereka, Kabir dan yang lain berlarian. Melompati semua mayat hatter, terus membelah batu-batu dan cadasnya tebing.


Di samping mereka jurang menganga, di bawah sana semak perdu dari stepa lembah yang selalu mereka lewati dan bertempur.


Mereka melihat dari balik tebing lain di depan mereka, keempat sahabat mereka terjebak dikepung di sebuah gang tebing yang sempit dengan kanan kirinya sebuah dinding batu cadas tebing, mereka bagaikan tikus yang tidak bisa ke mana pun lagi.


Mereka begitu senangnya melihat keempatnya kesulitan melawan boomerang meraka di tempat yang sulit, mereka terus saja menambah boomerang kepada tawanan mereka di bawah sana.


Seakan para hatter hoody ingin mencincang tubuh keempat pion, yang masih berusaha melawan boomerang dengan kecepatan yang luar biasa.


Nara Selalu memantulkan boomerang dengan goloknya dan tring! Suara boomerang menghantam dinding tebing, tetapi boomerang memantul kembali menyerang mereka.


Mereka kesulitan bergerak, karena zona yang sempit dan banyaknya boomerang berterbangan di atas kepala mereka dan menukik menyerang asal ke tubuh mereka, berputar kembali terus begitu.


Kabir dan semua pion begitu murkanya, mereka tidak bisa menyeberang maupun melompat, karena jurang yang lebar menganga di antara tebing yang mereka pijak dan tebing di mana para hatter menjebak keempat teman mereka.

__ADS_1


Trio mekanik menembakkan lasernya secara bersamaan membuat tebing di mana para hatter berdiri longsor menjadi kepingan batu koral dan kerikil dan mereka berjatuhan ke bawah, "Rusa, nakal!" teriak Hendro.


Si rusa datang dengan beberapa temannya, "Selamatkan keempat sahabatku di bawah, sana!" perintah Hendro. Keempat rusa itu berlari menembus tebing begitu mudahnya, "Dasar, hantu!" ucap Hendro.


Ia bergidik membayangkannya, tetapi ia pun bersyukur dengan semua itu. Tuhan masih menolong mereka dengan memberikan satu pertolongan lewat ciptaan-Nya yang tidak kasatmata.


Semua pion menyarungkan senjata tajam mereka dan mengambil senjata laser mereka, hanya Ayesha dan Sukuna yang tidak memiliki laser.


Ayesha di samping suaminya Heru dan Sukuna di samping Zai, keduanya masih menggenggam tombak beeluf dan samurai.


Tebing yang longsor membuat batu berjatuhan tak tentu arah menghantam apa saja, belum lagi boomerang yang masih ke sana kemari tidak tentu arah.


Nara dan yang lainnya harus dua kali lipat berusaha untuk menghindari bebatuan dan boomerang, sebuah batu besar meluncur cepat ke arah Nara dan boomerang menukik ke pinggangnya.


Ia begitu terkesima, terdiam, dan tersenyum menanti ajalnya. Ia merasa tidak lagi mampu bergerak, "Ya Tuhanku! Ampunilah dosa dan kesalahanku," ucapnya tersenyum.


Ia memejamkan matanya, akan tetapi sebuah angin menyambar tubuhnya membawanya melayang, Nara masih memejamkan matanya dengan menggenggam goloknya.


Ia merasakan setiap detiknya, "Ternyata kematian tidak begitu, sakit!" batinnya. Ia membuka matanya ia melihat gang sempit di mana mereka terperangkap sudah tertimbun batu, "Selamat tinggal, sahabat!" ucapnya.


Air matanya bergulir, Nara menyangka ia dan ketiganya sudah menemui ajal mereka. Sebaliknya, ia melihat 3 ekor rusa dan ketiga sahabatnya terguncang-guncang di punggung rusa.


Melompati setiap batu yang berjatuhan ke bawah seakan-akan menaiki tangga dengan gesitnya. Tebing terus hancur dengan serangan dari balik punggung tebing lainnya,


Nara memeperjelas pandangannya melihat sekitarnya, ia berada di atas punggung si rusa nakal teman Hendro.

__ADS_1


Rasa bahagia menyelimutinya, "Horeee, aku selamatt!" teriaknya bahagia. Ia secepat kilat menyilangkan sebelah kaki kanannya untuk mengendarai si rusa laksana menaiki seekor kuda poni yang gempal.


Ia menoleh ke bawahnya, tiga rusa lain masih naik dengan melompati setiap batu yang berjatuhan ke atas tubuh mereka dengan menginjak satu per satu batu sebagai pijakan.


__ADS_2