Pulau Kematian

Pulau Kematian
Perpisahan Yahmen dan Mano


__ADS_3

Sekawanan srigala ke luar dari ceruk-ceruk tebing hatter merubungi Aoi, menyeret tubuh Aoi ke balik semak dan terus memasuki ceruk tebing hatter.


Sekawanan srigala menjilati tubuh Aoi yang terluka dan saling melolong panjang, di siang hari. Mereka berganti-gantian melakukan hal itu, dan terus melolong panjang.


Lolongan kesedihan srigala menembus hingga ke seluruh pulau. Terbersit nada kesedihan di setiap lolongan itu.


Kawanan srigala tidak memangsa Aoi, mereka seakan mengadakan ritual untuk mengobati Aoi dengan cara mereka sendiri.


***


Mano berhasil menembus dan menghancurkan musuh di sisi barat dan bertemu Balian


dari sisi selatan. Balian pun sudah melukai dan membubuh Letnan Balian.


Mereka hanya menemui kelengangan tanpa ada lagi musuh yang berada di sekitar mereka, Mano dan Balian berlarian di sekitar kastil.


Hingga keduanya dan para beeluf dan samurai juga hatter yang tersisa menguburkan kaum mereka yang sudah gugur di sisi kastil Alberto di sebelah barat.


Mano berkata, "Kita kubur di sebelah barat saja, karena barat adalah matahari tenggelam. Biarkan mereka yang telah gugur beristirahat dengan tenang.


"Tugas mereka di dunia ini telah usai," ucap Mano.


Semua orang menyetujuinya, mereka beramai-ramai menguburkan semua kaum mereka yang telah meninggal. Juga menguburkan tentara Alberto dan ninja di dalam satu galian tanah.


Mano dan kelompoknya kembali ke Menara Pasir, akan tetapi di tengah gurun mereka di hadang oleh beeluf berpakaian yang sama dengan Mano yaitu putih.


Di sana mereka bertempur kembali, "Kalian beeluf dari mana?" tanya Mano di sela pedang dan tombak beeluf pemasok listrik berdentingan.


"Kami adalah anak buah kelompok Mano!" teriak salah satu wanita berpakaian beeluf putih.


"Apa?! Apakah Mano yang mengajari kalian?" tanya Mano. Ia sedikit bingung, ia tidak pernah mengajari orang lain selain yang berada di Menara Pasir.


Mano dan semua beeluf yang asli kebingungan, "Ayo, menyerahlah. Ikuti perintah Mano!" teriak wanita di depan Mano.


"Apakah kau mengenal Mano?" tanya Mano.


"Tentu saja! Dia adalah ketua kami!" teriaknya juga.


Mano semangkin kesal karena ada yang berpura-pura menjadi dirinya, "Lihatlah, wajahku baik-baik! Dan kenalilah, aku adalah Mano!" balas Mano.


Beeluf berpakaian putih di depan mereka terkejut, mereka saling berbisik. Namun, seseorang di belakang mereka berteriak.

__ADS_1


"Jangan dengarkan, dia pendusta. Serang!" teriak seseorang.


Pertempuran terjadi lagi, Mano menangkis serangan demi serangan begitu juga dengan Balian. Mereka berhasil menyudutkan para beeluf pemasok listrik dan menghabisi mereka semua.


Mano dan kelompoknya kembali ke Menara pasir.


Mano dan Balian heran, semua orang memandangnya dengan tatapan kebencian.


"Apa yang terjadi?" tanya Mano.


"Kau, kau bertanya apa yang terjadi? Sementara kau membunuh Muti!" jawab Yura.


Air mata mengalir di kedua pipinya, "Apa?! Kapan aku membunuhnya? Aku belum bertemu dengan Mak Muti! Apa maksudmu?" teriak Mano.


Ia ingin mendekati Yura, semua kelompok Yahmen mengeluarkan pedang mereka ke arah Mano, begitu juga dengan kelompok Mano.


Mano mengangkat tangannya, "Turunkan senjata, kalian! Kita saudara, kita bisa berbicara dengan baik-baik." Mano menatap semua orang.


"Cuih! Kau membunuh Ketua Muti, dan sekarang kau mengatajan yang, baik-baik! Dasar, sialan kau Mano!" teriak Sara.


Ia menghunuskan pedangnya, "Aku katakan, aku tidak membunuhnya!" balas Mano ia pun berteriak.


Ia tidak menyangka segalanya menjadi berantakan, ia sendiri pun tidak tahu dan tidak bertemu dengan Muti.


Mereka menghindari dan menangkis serangan, "Hentikan!" teriak Yahmen.


Semua berhenti, Mano mendekati Yahmen.


"Yahmen, apa yang terjadi? Aku tidak membunuh Mak Muti? Aku menyayanginya dan menganggapnya sebagai Ibuku?" ujar Mano.


"Pergilah, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi! Aku benci kepadamu! Semua orang melihat kau membunuhnya," ucap Yahmen dengan dinginnya.


"Aku bersumpah demi apa pun, aku tidak membunuh siapa pun dari kelompok beeluf? Apalagi Muti? Yahmen, mengertilah! Aku mohon," balas Mano berlutut di depan Yahmen.


Yahmen memunggunginya dengan derai air matanya, hatinya terlalu sakit. Ia tidak menyangka sahabat, saudaranya telah membunuh saudara kandung satu-satunya yang dimilikinya dan Ketua Beeluf.


"Pergilah, aku tidak membunuhmu ... Karena aku sudah berjanji kepada Kak Muti. Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh membunuhmu, pergilah! hubungan kita putus sampai di sini!" ujar Yahmen.


Air matanya dan mano berderai, keduanya tidak menyangka akhir dari persahabatan dan persaudaraan mereka menjadi kacau balau.


"Yahmen, aku mohon! Kau bunuh saja aku, bila aku ingin aku harus pergi darimu!" balas Mano bersujud ke bumi.

__ADS_1


Ia ingin Yahmen membunuhnya daripada ia harus mengusir dan memfitnahnya yang tidak-tidak.


"Pergi!" teriak Yahmen berbarengan dengan guntur yang menyambar di angkasa raya dan hujan deras yang mengguyur Pulau Kematian.


Kemarahan Yahmen bercampur dengan kesedihannya, mengakibatkan sihirnya menjadi guntur dan hujan.


Rayan mendatangi keduanya, menyentuh tubuh Mano.


"Pergilah, Nak! Kelak kebenaran akan terungkap siapa pun yang membunuh Muti. Pergilah ke kayu gerowong, bukankah Muti sudah membagi wilayahmu?


"Hiduplah dengan damai, dan teruskanlah perjuanganmu yang tulus. Pergilah," ucap Rayan.


Ia tidak mampu mengatakan yang sesungguhnya, takdir sudah berkata lain.


"Ta-tapi Sepuh—" balas Mano.


"Pergilah!" ujar Rayan. Ia menggelengkan kepalanya, Mano megisak di bawah guyuran hujan dan petir.


Balian merengkuhnya di dalam pelukannya, "Ayolah, biarkan Yahmen tenang dulu!" bujuk Balian.


"Ta-Tapi .... " balas Mano.


Hatinya terasa perih dan hancur berkeping, ia mengira degan kemenangan mereka kali ini.


Semuanya akan bersuka cita, tetapi segalanya menjadi kehancuran.


Balian memapah Mano meninggalkan Menara Pasir, sebelum pergi Mano membalikkan badannya.


"Yahmen, seperti janjiku. Aku rela mati untukmu dan beeluf, kapan pun kau butuh aku. Aku akan membantumu, aku tidak pernah membunuh Ibuku sendiri. Selain ibu tiriku yang kejam," balas Mano sambil terisak.


Ia meninggalkan Menara Pasir berjalan menjauh dan menangis di dada bidang Balian yang memapahnya.


Senentara yahmen sendiri pun menarik belati pemberian Mano, " Aaaa!" teriaknya meluapkan kesedihan hatinya. Ia menancapkan belati Mano ke telapak tangannya.


Darah dan deraian air mata mengiringi perpisahan dua sahabat yang bersumpah menjadi saudara, hanya karena kesalahpahaman dan kelicikan seorang Alberto.


Keesokan paginya pemakanan Muti dilakukan di Hutan Kegelapan di tempat yang tersembunyi, iringan kesedihan dan tangisan dan do'a-do'a berkumandang.


Yahmen hanya tercenung memandang Kakaknya Muti memasuki liang lahat, ia tidak melihat Aoi, ia kehilangan Mano, dan Balian.


Hatinya mulai rapuh, jiwanya lelah, kedua kakinya goyah. Segelintir kekuatan yang masih tersisa di hatinya.

__ADS_1


Untuk terus berjuang membebaskan pulau dari Albertolah yang membuatnya masih mampu bertahan.


__ADS_2