
Junaid mengambil nasinya kembali dan duduk di pojokan memakan nasi dengan cepat, ia takut jika ada yang curiga akan kehadirannya.
Beberapa orang menggotong Si Leher Beton yang sedang pingsan di tengah ruangan, dengan mata yang sudah berdarah-darah.
Beberapa tentara memandang Junaid dengan tatapan takjub, beberapa tentara mulai mendekatinya untuk menjadikannya seorang bos mereka.
Untuk melindungi mereka dari kekejaman, di dalam lingkaran tentara yang semena-mena kepada tentara yang bukan tentara asli di kehidupan nyata.
Kebanyakkan dari mereka adalah tawanan yang memiliki hutang di negara mereka, kepada petinggi-petingi instansi yang berhubungan dengan Alberto.
Sehingga mereka harus dikorbankan untuk melunasi hutang, jika tidak keluarga merekalah yang akan menjadi korban berikutnya. Sebaliknya mereka tidak memiliki kemampuan sama sekali di medan perang,
kebanyakan merekalah yang menjadi bidak catur Alberto, untuk bertempur di zona tempur sebagai umpan di luaran sana untuk membantai para pion.
Mereka diumpankan sebagai pelengkap untuk menyemarakkan suasana tontonan yang akan menambah kepanasan para penjudi untuk terus bertaruh di meja perjudian.
Alberto menggiring para penjudinya untuk terus membuat mereka mengosongkan dompetnya, agar selalu bersiap untuk bertaruh akan tantangan berikutnya tanpa berpikir banyak.
Mereka hanya berpikir kemenangan dan membantai para pion, yang sudah menewaskan tentara dan telah menguras seluruh isi kantongnya.
Akan tetapi, mereka masih saja terus bermain tanpa mau menghentikannya. Alberto benar-benar piawai menghipnotis semua penjudinya untuk terus maju mengikuti semua maunya.
Hanya segelintir orang yang benar-benar gila duit, tahta, wanita, dan psikopat untuk membunuh manusia yang sebenarnya.
Sebagian dari mereka yang psikopat, mereka mulai berpikir untuk membantai manusia yang sebenarnya. Mereka lelah memburu hewan maupun menembak benda mati,
di lapangan tembak yang selama ini mereka lakukan, atau saling berperang dengan peluru karet, mereka ingin sesuatu tantangan yang menguras nyali dan andrenalin.
Pada akhirnya mereka terdampar di Pulau Kematian dengan mempertaruhkan nyawa, dan bermain-main dengan sebuah nyawa yang tidak bisa dibeli maupun diganti karena keculasan dan diperbudak oleh ***** angkara murka.
__ADS_1
Sisanya hanyalah manusia-manusia yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena sebagian yang berharga dari mereka terbelenggu atas nama sebuah tirani
Darmanto, Kabir, dan Heru duduk kembali di meja masing-masing berusaha tidak saling kenal, "Hei, Bro! Makasih, sudah buat gua menang!" ujar Darmanto.
Ia beranjak pergi dari kursinya kembali ke posnya, berselang beberapa menit kemudian Heru pun pergi dengan dua buah jeruk di genggaman tangannya, "Thanks, Bro!" ujarnya saat melintasi meja Junaid.
Berselang beberapa menit kemudian Kabir menyudahi makannya berpura menghitung duitnya dengan pongahnya di depan kamera.
Seakan-akan ia adalah penjudi yang sedang beruntung, ia mengipas-ngipaskan uangnya penuh kesenangan dan menghampiri Junaid.
Ia tersenyum riang, "Makasih, sering-sering Bro!" katanya berlalu.
Junaid baru saja menyelesaikan makannya, ia hanya menoleh sesaat dengan tatapan tanpa mimik di wajahnya. Di saat ketiga sahabatnya mengucapkan terima kasih,
"Mereka ini, benar-benar lihai dan beruntung. Andaikan, ada pemilihan piala oscar. Mereka pastilah menang, menjadi salah satu pemeran utama. Hadeh ...," batin Junaid.
Untuk tidak terlihat mencurigakan di depan kamera, Junaid menanti cukup lama hingga semua orang pergi. Junaid melihat hanya tinggal beberapa yang masih tinggal, ia pun pergi meninggalkan ruangan.
mereka berpapasan dan mereka mendekat berpura meminta sigaret atau saling berdekatan, di keramaian tentara dan menyelipkan secarik kertas di selipan tangan masing-masing.
Berlahan tapi pasti, setiap orang berhasil menyeludupkan berbagaai jenis senjata ke gua air terjun. Hendro, Marta, Mona, Nara, dan Kirana mengangkutnya dengan menaiki rusa nakal dan kawanannya.
Sehingga secepat kilat sampai lagi ke tanah tak kasatmata dan memberikannya kepada trio mekanik, untuk dimodifikasi dan mengajari kepada seluruh beeluf dan warga untuk menggunakannya secara mahir.
Darmanto mencuri berbagai obat dari laboratorium, Junaid mencuri senjata dan granat, Heru menulis semua letak denah dan Kabir menghitung setiap hari siapa saja yang mengirimkan pasukan tentara dari berbagai belahan dunia.
Ia juga melihat banyak tentara yang tidak suka dengan Alberto, hanya saja mereka tidak berani terang-terangan melawan.
Mereka berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi segala kebutuhan mereka dan segala yang mereka perlukan.
__ADS_1
Heru mencuri beberapa karung beras setiap malam, untuk dibagikan kepada beeluf yang tersimpan di pintu rahasia juga kepada semua orang di tanah tak kasatmata dan menara pasir.
Kabir mengetahui jika Alberto memiliki kaki tangan, bernama Joe yang mengelola semuanya selain Crabs. Kabir mengikuti semua gerakan dan kelemahannya,
tetapi tidak satu orang pun berhasil mengetahui di mana Alberto bersembunyi selain Crabs dan Joe. Kabir berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari Joe,
untuk diberikan kesempatan melihat Alberto tetapi Joe terlalu setia kepada Alberto, hingga ia benar-benar menutup rahasia keberadaan Alberto di dalam kastilnya.
Mereka berempat sudah menyusuri setiap sudut kastil tetapi mereka belum juga menemukan Alberto, semua tentara pun tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.
Mereka hanya mendapatkan perintah dari Joe dan dari atasan di bawah Joe, di dalam semua hal yang berkaitan dengan kehidupan juga aturan mereka di pulau.
Mereka masih saja terus berusaha menggali semua informasi tetapi tidak jua mereka dapatkan, semuanya bak ditelan bumi. Mereka tetap tidak bisa mengetahui di mana letak Alberto Kuro bersembunyi, ia begitu lihainya menyembunyikan dirinya bak bunglon.
Namun, para pion tidak menyerah mereka terus berusaha untuk mencuri dan menyeludupkan berbagai senjata ke dalam gua air terjun.
Pada suatu malam mereka disuruh untuk memburu para pion mereka bersama-sama membantai para pion dan tentara, sebaliknya keempatnya malah memboikot semua tentara dan membunuh mereka di perjalanan.
Mereka membawanya ke Hutan Kegelapan, yang paling dalam agar tidak terlihat oleh Alberto melalui layar monitornya.
Mereka berusaha menghilangkan jejak dengan membuat mereka seakan telah mati juga.
mereka kembali menyusup ke kastil dengan membunuh 4 orang lagi sesudah mencuri topeng silikon yang membuat mereka menjadi orang yang mereka bunuh.
Pada suatu malam mereka sedang menyeludupkan senjata mereka dipergoki oleh beberapa tentara, "Kami hanya ingin memindahkan senjata ini, kami diperintah oleh Joe!" ujar Heru.
Akan tetapi, salah seorang terlihat curiga. Ia langsung meraih walkie talkie untuk mencari informasi, Keempatnya langsung menyerang dan membunuh kedua orang tersebut.
Menyeretnya memasuki gua air terjun dan membuang mayatnya ke lava di lorong sebelah kanan gua, mereka kembali lagi ke dalam kastil dengan perasaan tanpa bersalah dan berdosa.
__ADS_1
Mereka terus memainkan peran mereka, sementara para pion lain semangkin bersemangatnya berlatih di menara pasir dan tanah tak kasatmata.