
Ketiga kelompok menunggu dengan waspada di rerimbunan pohon bambu yang selalu bersuara berderit bila tertiup angin, setiap deritan dan suara gemeresak daunnya membuat mereka semangkin erat memegang senjatanya.
Mereka merasa mengantuk sekali, Nara mulai menyadari ada yang tidak beres, "Tutup mulut dan hidung kalian! Mereka meniupkan obat bius dosis tinggi." teriaknya. Kirana yang memiliki asma sudah pingsan terkena asap bius yang kasat mata.
Nara sudah menutup mulut dan hidungnya dengan bajunya yang ia sobek dengan tergesa hingga sebagian lerutnya kelihatan, ia sudah tidak peduli nyawa lebih penting.
Ia mencari di ranselnya sebuah kapsul yang menurutnya sedikit aneh, ia memiliki alat pemicu seperti sebuah granat tetapi ia yakin itu bukan granat.
Karena ia sempat mencuri beberap buku panduannya di laboratorium canggih milik Alberto, sekilas ia membaca sebagai penangkal bius.
"Apakah kau ingin mebunuh kita Nara?" tanya Mona keheranan, "kau tahu hutangku masih banyakk dodoll!" umpat Mona berteriak.
"Tutup mulutmu Mona! Semangkin kau banyak bersuara semangkin cepat kau pingsan," ucap Marta dan benar saja Mona dan Marta langsung pingsan. Tinggallah Nara dan Heru.
Nara segera membuka dan melemparkan, granat obatnya. Bola granat itu berputar-outar kencang laksana gasing, dengan mengeluarkan asap berwarna hijau.
Bola granat terus saja berputar dan asap hijau semangkin tebal menyebar ke seluruh hutan di sekitar mereka hingga berubah menjadi berwarna hitam bercampur dengan obat bius yang ditiupkan para ninja.
Asap hitam kembali berubah warna menjadi biru keputihan dan terakhir berwana kuning, hingga semua orang bangun kembali.
"Apa yang sudah terjadi? Apa kita sudah di neraka lagi?" tanya Mona memijit keningnya.
__ADS_1
"iya, neraka ciptaan si Kuro!" umpat Kirana bangun dan meraih kembali senjatanya.
"Wah, hebat kamu Nara! Ga percuma gelar doktermu?" puji Marta.
"Aku rasa, kali ini Kuro salah pilih pion! Darmanto, Marta, Junaid orang yang handal di bidang senjata, Hendro dan Kabir luar biasa di bidang taktik dan kekuatan, Nara seorang dokter jenius, Mona artis yang luar biasa jago taekwondo," Heru memperhatikan semua orang yang ada,
"Kirana jago di bidang analisa, dan apa yang menyebabkan kalian berdua bisa ada di sini juga?" tanya Heru kepada Toto dan Zai.
"Maksudnya Pak?" tanya Zai tidak memahaminya.
"Apa pekerjaan kalian?" tanya Kirana di balik punggung Heru dan Hendro.
"Aku hanyalah seorang kurir titipan kilat," ucap Toto.
"Sebelum kalian berada di sini hal heroik apa yang jalian lakukan?" tanya Hendro yang baru bersuara.
"Aku memhunuh enam orang yang membegalku," jawab Toto malu-malu.
"Wah, berarti 'Oara oembegal kalah dengan seorang kurir,' itu kamu?" tanya Kirana takjub.
Toto menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu hebat sekali!" ucap Mona dan semua orang, Toto yang bertubuh gembul tersenyum malu.
"Kalau kamu Zai?" tanya Kirana.
"Aku hanya sebagai montir pesawat, aku hanya kebetulan tertidur di pesawat saat pesawat take off. Aku terbangun di pesawat dan semua orang sudah disandera, aku hanya beruntung," ia sedikit beringsut menatap ke atas pohon bambu.
"faktor keberuntunganlah aku bisa menyelamatkan mereka dan mendaratkan pesawat dengan selamat karena pilot sudah tertembak," lanjut Zai.
"Wah, bila kita selamat nanti kamu pasti bisa membawa kita pulang ya, Zai?" tanya Kirana begitu semangatnya.
"Insya Allah! Bisa," ucap Zai.
"Aku sudah tidak sabar, menantikan kejatuhan Alberto Kuro," jawab Mona dengan geramnya.
Mereka semua tertawa, berusaha menikmati kehidupan dengan indahnya walaupun mereka tahu esok atau lusa belum tentu mereka selamat lagi.
Dari kejauhan mereka melihat Kabir memanggul Will di punggungnya berlari melompati semak bagaikan seorang harimau, di belakangnya Darmanto pun tidak kalah gesit berlari.
Ketiganya sampai di depan gerombolan yang sudah menantikan mereka dengan berdiri dan senjata di tangan mereka, "Periksa keadaan Will, Nara?" perintah Kabir meletakkan tubuh Will di rerumputan yang datar.
Sebagian kembali berjaga di sekitar mereka, waspada akan segala kemungkinan.
__ADS_1
Nara mengambil pisau bedahnya, mengiris sedikit luka dan menarik anak panah yang menancap di punggung kabir yang pingsan.
Ia membersihkannya dengan alkohol dan kain kasa, kemudian menyemprotkan obat berbentuk waterspray, luka secepat kilat menutup dengan sempurna tanpa meninggalkan bekas.