
Aoi mulai terdesak, kawanan srigalanya datang membantu. Kawanan srigalanya berhasil melumpuhkan beberapa ninja.
Sayangnya kawanan srigalanya pun banyak yang tewas, Aoi semangkin murka melihat kawanannya menghembuskan napas terakhirnya.
Aoi semangkin membabi buta menyerang ninja, sebaliknya beberapa ninja kembali datang mengepungnya.
"Kau sudah terdesak, Aoi. Kau harus mampus! Kau telah banyak membunuh ninja, dari bangsamu sendiri!" teriak seseorang dari balik cadar ninjanya.
Terkekeh geli mendengar perkataannya, "Sekarang kau mengatakan, 'Kita satu bangsa?' Dulu, saat kalian membunuh orang tuaku.
"Kalian tidak pernah memikirkan hal itu, sialan!" balas Aoi, "Sudahlah, aku yang mati atau kalian!" serang Aoi.
Ia kembali menghunuskan pedangnya meliuk-liuk menebaskan pedangnya ke setiap kesempatan yang ia bisa.
Ia herhasil melukai ninja dan ia pun mendapatkan luka, Aoi tidak peduli darahnya dan darah musuhnya memenuhi pedangnya.
Warna perak pedangnya sudah berwarna merah darah, kekuatan pedangnya semangkin mengerikan.
Aoi tidak peduli sebagian jiwanya sudah mengikuti si pedang. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk mati.
Kekuatannya bertambah seiring darah yang terus bersatu dengan pedang. Menyedot setiap jiwanya, ia berhasil melukai beberapa ninja lagi.
Akan tetapi, Yamada datang dan dengan liciknya menusukkan pedangnya dari belakang tubuhnya.
Seekor srigala putih, melindungi Aoi. Melompat dan menerjang di antara tusukan pedang yang hampir saja menebas Aoi.
Srigala putih melindungi Aoi dengan segenap rasa cintanya. Aoi terperanjat, ia memutar tubuhnya dan langsung bersujud memeluk srigalanya.
"Putih! Jangan! Jangan tutup matamu, aku tidak punya siapa pun lagi. Tolong, jangan tinggalkan aku!" teriak Aoi menangis.
Srigala putihnya berlinangan air mata dan memamerkan giginya yang runcing tersenyum.
Mengangsurkan sebelah kaki depannya memukul-mukul wajah Aoi yang menjerit dan menangis.
Aoi terus memeluk srigalanyanya menghembuskan napas di pelukannya. Perasaan Aoi hampa, ia tidak peduli keselamatannya.
Yamada dengan kelicikannya menusukkan pedangnya ke arah punggung Aoi.
"Aaaa!" teriak Aoi. ia tidak peduli jika ia harus mati, semua kawanan srigalanya sudah terkapar di gurun dengan luka dan darah.
Yamada dengan bangganya melukai Aoi berusaha untuk menyiksanya.
"Hahaha, srigala tebing hatter begitu cengengnya. Ia menangisi seekor srigala?" ucap Yamada tertawa bersamaan dengan ninja lain.
Aoi tetap memeluk srigala putihnya, Yamada ingin menebas srigala putih di dalam pelukannya yang sudah mati.
Aoi melihat dengan matanya pedang Yamada bukan ke arahnya. Sebaliknya mengarah ke srigalanya, saat Yamada semangkin dekat.
Kras!
__ADS_1
Tebasan pedang samurai Aoi melukai mata sebagian wajah Yamada. Membuat Yamada tersungkur ke gurun.
Ia tidak menyangka jika Aoi di balik luka dan darah memeluk srigala putihnya yang sudah berubah menjadi merah akibat darah Aoi.
Masih memiliki kekuatan yang luar biasanya, "Sialan, ini kuat sekali! Untung saja, kelemahannya adalah srigalanya. Jika tidak .... " batin Yamada ketar-ketir.
Aoi meletakkan srigalanya, menyelimuti dengan bajunya. Ia merasa Si Putih adalah orang tua, saudara, guru, dan segalanya.
Bayangannya berlarian bersama Si Putih mengitari tebing dan seluruh pulau saat ia kecil terbayang lagi.
Keduanya berebutan binatang buruan, berenang, saling berpelukan kala dingin dan banyak hal.
Si Putih adalah ketua kawanan srigalanya, mereka bersama melintasi alam dan membunuh musuh mereka.
Aoi dengan tangisan yang seumur hidup hanya pernah ia berikan kepada kematian orang tua dan seluruh klan Hutan Bambunya.
Kini, ia harus kehilangan satu-satunya sahabat berharga yang ia miliki. Aoi membungkus tubuh Si Putih dengan bajunya.
Ia meraih pedangnya, dan berusaha untuk bangkit. Akan tetapi, lukanya sudah terlalu banyak di sekujur tubuhnya.
Ia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Sebaliknya, ia ingin mati secara terhormat. Ia tidak ingin dibunuh dengan kesedihan dan keterpurukannya.
Si Putih akan murka, dan bersedih. Jika ia mati dengan memalukan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan kawanannya.
"Aku tidak akan mempermalukanmu, Putih! Hanya tinggal aku yang tersisa dari kawanan kita. Aku akan menemani kalian. Tunggulah, aku!" ucap Aoi mengecup kepala Si Putih.
Saat Aoi mengangkat senjatanya, Yamada melihat Aoi sudah menggenggam erat pedangnya di kedua belah tangannya.
Walau sekali tebas saja, maupun tanpa ditebas ia akan ambruk. Melihat luka yang sudah menganga di sekujur tubuhnya.
Yamada tersenyum, "Hahaha aku akan membunuhmu secara, cepat!" teriak Yamada.
Kelompok ninjanya hanya berjaga-jaga jika ada bantuan srigala lain, tetapi seluruh kawanan Aoi sudah meninggal.
Hanya bayi-bayi srigala yang madih ada di Tebing Hatter. Yamada melesat secepat kilat dengan teriakannya menerjang Aoi yang sudah bersiaga menghunuskan pedangnya.
Trang!
Sebuah tombak menerjang pedang Yamada. Wanita berpakaian beeluf merah muncul dengan tombaknya menghajar Yamada dan ninja.
Aoi melihat sekilas wajah si wanita yang selama ini ia cari dan selalu ia kejar bayangannya.
"Hehehe, cantik! Sayangnya, di saat maut menjemputku. Aku baru melihatnya," lirih Aoi pingsan.
***
Bayangan berganti Aoi hanya mendengar air mengalir dan rasa dingin di sekujur tubuhnya. Ia membuka mata saat melihat seorang wanita tertidur bertumpukan dengan kedua belah tangannya.
Ia begitu terpesona dan jatuh cinta dari saat ia kecil. Selama ini, Aoi hanya mengejar bayangannya.
__ADS_1
Namun, kini. Bayangan itu nyata di depannya. Aoi merasakan kebahagiaan walaupun ia harus bersedih dengan kehilangan seluruh kawanannya.
"Tuhan Maha Baik! Ia mengganti kehilanganku dengan yang lebih baik lagi," batinnya.
Air mata bergulir dari kedua belah matanya.
***
Yahmen membawa Aoi menziarahi makam kawanan srigalanya di Tebing Hatter.
Aoi membawa seikat bunga hutan berwarna kuning, ia tahu Si Putih selalu menyukai bunga liar di stepa lembah hatter.
Ia selalu berlarian mengejar kupu-kupu, dan berbaring bergulingan dengan pasangannya Si Abu di tumpukan semak bunga kuning.
"Terima kasih, Putih dan semua! Kalian telah merawat dan membesarkanku. Mengajariku banyak hal, terima kasih!" ucap Aoi.
Ia menatap gundukan tanah dan batu besar sebagai tanda dari kuburan srigalanya.
"Terima kasih, Yahmen. Telah menguburkan mereka!" ucap Aoi,
"Bagiku, mereka adalah keluarga keduaku. Mereka sangat berarti untukku," sambung Aoi.
Yahmen di sisinya hanya tersenyum di balik cadarnya. Keduanya berlarian ke Tebing Hatter, Aoi ingin melihat bayi srigalanya.
Namun, satu pun tidak ada tersisa lagi. Mereka semua telah mati, dibunuh.
Rasa benci dan marah kembali menyerbu hatinya, "Aaa! Mereka kejam sekali! Aku akan membunuh kau Yamada," teriak Aoi.
Yahmen memegang bahu Aoi, berusaha untuk menenangkannya.
"Aoi, yang kejam bukan para ninja itu. Mereka kaki tangan dari Alberto yang menguasai dan mengatur pulau ini," ujar Yahmen.
"Bila kau ingin membalas dendam, bukan hanya kepada ninja. Tetapi dalang utamannya, yaitu Alberto.
"Dialah orang yang paling kejam di muka bumi ini," ucap Yahmen.
"Alberto?! Siapakah dia?" tanya Aoi.
Yahmen menceritakan kisah sejarah pulau dan kematian banyak orang, Aoi terdiam.
"Jadi, semua ini adalah perbuatan dari seorang Albarto?" balasnya.
Ia mencoba mencari wajah seorang Alberto, ia berusaha untuk mengingat setiap orang dan musuh yang ia ingat.
Ia hanya mengingat seorang pria berpenampilan kaya sedang memberikan perintah memasukkan semua mayat ke heli.
"Aku rasa aku pernah melihatnya, Yahmen. Saat aku kecil dulu," Aoi mengenang sepenggal kisah-kisah kelamnya.
Selama ini ia selalu bersama dengan srigalanya, sehingga ia tidak pernah berinteraksi dengan manusia lainnya.
__ADS_1