Pulau Kematian

Pulau Kematian
Kematian Crabs dan kekasihnya


__ADS_3

Kirana merasakan kengerian melihat Mona yang sudah mengambang dari lantai ia menyerang Crabs dengan membabi buta.


Namun, Crabs dengan lihainya dan tubuh yang sudah dia modifikasi sendiri berusaha megimbangi kekuatan iblis pedang.


Tubuh Crabs sendiri mengeluarkan sulur pisau-pisau dari tubuh mereka, berusaha untuk menyerang Mona.


Kirana terkesima, kekuatan sains dan iblis saling serang dan mengahancurkan sekeliling mereka.


Kirana sulit untuk menembus kekuatan keduanya, Seorang wanita berkaca mata teman setia Crabs. Ingin membantunya ia ingin melukai Mona.


Berusaha untuk menyerang Mona, dengan kekuatan sains miliknya. Kirana tidak membiarkan hal itu terjadi.


Kirana menerjangnya dan beradu pedang dengan wanita berkaca mata, sekuat tenaga Kirana.


Kirana berusaha agar menghentikan tingkah laku si wanita yang ia sendiri pun tidak tahu namanya.


Si wanita menyumpahinya dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Kirana.


Ia tidak peduli, ia terus membabat ke arah tubuh wanita di depannya. Ia tidak ingin si wanita membantu Crabs.


Kirana dengan kelihaiannya berusaha untuk menebas tubuh wanita tersebut. Akan tetapi, wanita di depannya tidak jauh berbeda dengan Crabs.


Ia juga telah memofifikasi tubuh mereka dengan sains dan teknologi. Kirana tidak peduli, ia ingin semuanya berakhir degan cepat.


Kirana mengambil pedang samurainya dengan tangan kiri dan pedang laser di tangan kanannya.


"Ayo, maju wanita gila!" tantang Kirana. Si wanita menyerangnya dengan kapitan kepiting dari besi dari balik punggungnya.


Sementara tangannya memegang pedang laser lain menebas segala sudut di tubuh Kirana.


Kirana berusaha untuk menghindari tebasan dan jepitan tangan besi dari tangan si wanita yang mirip tentakel cumi-cumi, dan di ujung tentakelnya mirip dengan jepitan kepiting.


Kirana melompat ke belakang tubuh si wanita ia menebas tangan tentakel si wanita.


Tebasan Kirana membuat tentakel itu meleleh dan hancur.


Si wanita menjerit karena logam besi yang meleleh membasahi punggungnya. Jeritannya menyadarkan Crabs.


Crabs melontarkan sulur-sulur pisaunya ke arah Kirana.


Kirana terkesiap, ia yang tidak menyangka akan mendapatkan serangan Crabs.


Secepat kilat meluncur bersembunyi di balik tubuh bagian bawah si wanita teman Crabs.

__ADS_1


Sulur-sulur Crabs menghujam tepat di punggung wanita pujaan hatinya. Membuat si wanita meregang nyawanya seketika.


Crabs menangis dan berlari ke arah si wanita. Memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Sayangku, jangan tinggalkan aku! Aku akan membunuh mereka!" teriak Crabs berayun-ayun memeluk tubuh kekasihnya.


Mona masih di awang-awang mulai di ambang normal. Ia semangkin dikuasai kekuatan pedang. Ia melihat Crabs yang mulai meninggalkan kekasihnya.


Mona melihat di antara sadar dan tidaknya jika Crabs ingin menyerang Kirana.


Kirana yang terluka akibat lelehan logam di punggung si wanita berusaha untuk menyemprotkan obat ke lelehan yang sudah berasap di tangan dan kakinya.


Crabs menjulurkan sulurnya dari seluruh tubuhnya ingin merobek tubuh Kirana. Mona kangsung menghujamkan pedangnya ke arah punggung Crabs.


Hingga sebuah ledakan menghancurkan Crabs dan wanita yang berada di lantai tepat di bawah tubuhnya.


Pegangan tangan Mona pada pedangnya terlepas, ia langsung terjatuh dari ketinggian dan hampir saja mendarat di lantai. Jika tidak si rusa nakal menangkap tubuhnya.


Kirana berlari menyongsong Mona, membacakan do'a-do'a kepadanya. Kirana berusaha agar Mona sadar, dan tidak dikuasai oleh iblis pedang.


Mona memandang Kirana dengan senyuman menutup mata.


"Mona! Jangan-jangan, pergi!" teriak Kirana.


Si rusa yang membaringkan tubuh Mona mengendus-endus di tubuh Mona. Seberkas cahaya dari rusa masuk ke tubuh Mona bersamaan lenyapnya rusa.


Kirana berusaha memeluk Mona dengan tangisan. Ia tidak menyangka jika ia akan berpisah dengan sahabat keduanya setelah Kabir saat mereka menginjakkan kaki di Pulau Kematian.


"Mon, please! Bangun, Mon. Aku ingin kita terus menjadi sahabat," teriak Kirana. Ia tidak peduli lagi dengan banyak hal.


Tubuh Crabs dan si wanita sudah hancur lebur terbakar. Pedang samurai masih berdiri di antara lelehan logam dan debu mayat keduanya.


Pedang iblis masih sempurna tanpa cacat sedikit pun.


Berlahan Mona membuka matanya, ia memandang Kirana yang masih memeluknya dengan tangisan.


"Kirana ... A-aku masih, normal! Bagaimana jika Kabir dan Hendro melihat kita? Mereka akan salah sangka. Hehehe!" lirih Mona dengan lemah.


Kirana melihat ke pelukannya, "Mona! Oh Mona, sayang! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu sayangku," teriak Kirana memeluk dan mengecup kening Mona.


Mona terbengong mendengar penuturan Kirana sambil menangis, "Heh, maksudku bukan cinta seperti, itu! Aku mencintaimu seperti keluargaku, dodol!" balas Kirana diisak tangisnya.


Mona terkekeh geli dan memeluk Kirana, "Apalah pasangan gila itu sudah mati?" tanya Mona.

__ADS_1


"Sudah! Ayo, kita ke luar. Aku takut bangunan ini akan hancur lebur. Trio mekanik dan semua orang di luar sepertinya membobol gedung ini," ucap Kirana.


Keduanya saling papah berusaha untuk ke luar gedung.


Mona melihat pedangnya masih berdiri, "Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku takut, diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab!" ucap Mona.


Ia mencabut pedangnya dan menyarungkan di punggungnya.


Keduanya berusaha berjalan secepatnya, "Bagimana dengan lukamu?" tanya Mona.


"Sudah lumayan membaik," jawab Kirana.


***


Sementara Junaid berlari mengejar atasannya Karjo yang sedang berusaha mebunuh Meang, Rani, Sukuna.


Junaid menghampiri pertempuran, "Dia, bagianku!" geram Junaid.


Karjo terkesima, ia tidak menyangka jika salah satu anak buah yang sengaja ia campakkan ke Pulau Kematian masih bertahan hidup.


Ia membenci Junaid karena menggagalkan sindikat penculikan anak yang merupakan salah satu usaha hitam miliknya.


Karjo adalah polisi korup dengan berbagai kerja sama melindungi mafia bawah tanahnya. Ia tidak menyangka seorang Junaid mampu mengendus dan membongkar semua sindikatnya.


Bukan itu saja, Junaid menembak mati beberapa koleganya di dalam kejahatan. Membuat Karjo semangkin was-was jika Junaid berhasil membongkar semuanya.


Maka Karjolah yang pertama akan dihukum mati oleh negara, ia meminta Alberto untuk menjadikan Junaid sebagai kandidat pion darinya.


Karjo menyesali segala perbuatannya, ia tidak menyangka jika di peradaban ia akan dihancurkan oleh Junaid.


Maka di sini pun di pulau yang tak beradap ia pun semangkin dihancurkan oleh Junaid dengan tanpa nama.


"Kau!" pekik Junaid. Ia tidak tahu harus berkata apalagi, ia hanya berusaha untuk mengeratkan pegangannya menggenggam pedangnya.


Junaid benar-benar ingin menebus segala penderitaannya dan semua orang dengan kematian Karjo.


Serangan demi serangan yang dilancarkan Junaid menyerang Karjo ke segala tubuh miliknya. Junaid tidak peduli lagi, jika yang ia bunuh adalah atasannya sendiri.


Junaid berkali-kali menebaskan pedangnya. Namun, Karjo mampu menangkisnya.


"Hahaha kau kira kau akan mudah membunuhku? Kau salah, aku yang telah lama melimtang di dunia hitam ini!" teriaknya sombong.


Karjo berusaha untuk mengimbangi setiap serangan yang diberikan oleh Junaid. Ia tidak menyangka jika Junaid benar-benar piawai untuk menghancurkannya.

__ADS_1


__ADS_2