
"Yahmen, aku ingin di pertempuran besar-besaran nanti, apa pun yang terjadi. Aku ingin kau dan Mano jangan sampai saling membunuh!" ucap Muti.
"Apa maksudmu, Kak?" tanya Yahmen bingung. Ia memandang Muti dengan segenap rasa penasarannya, Muti hanya tersenyum.
"Sayang rezeki, pertemuan, maut, dan jodoh semua sudah diatur oleh yang kuasa. Apa pun yang terjadi, berjanjilah! Maukan?" ucap Muti.
Ia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Yahmen, "Baiklah, aku berjanji!" balas Yahmen. Ia pun mengaitkan jemarinya keduanya saling peluk.
"Bagaimana jika kita menyusuri Pulau Beeluf?" ajak Muti.
"Ayo!" balas Yahmen bersemangat. Keduanya beranjak berdiri dan berlarian menuruni tebing dengan berlari dan begitu lihainya melompati terjal-terjal bebatuan tebing.
Mereka terus membelah stepa hatter dan berlari ke hutan bambu, melintasi kastil Alberto secepat kilat.
Memasuki gurun pasir dengan badai mereka yang menggulung, dan masuk ke hutan kegelapan yang paling dalam.
Muti mengajak Yahmen menyusuri setiap jengkal hutan dengan cahaya di tangan Muti.
Mereka berdiri di antara dua tonggak kayu yang berdiri kokoh di kanan-kiri mereka.
"Bila aku mati, aku ingin kuburkan aku di dalam sana, di tempat hutan yang tersembunyi di bagian dalam," ucap Muti,
"aku ingin tenang di sana bersama sepuh Rayan, kau tahu! Aku dan sepuh Rayan, berkeinginan di kubur di sana," ucap Muti.
Ia memandang lurus ke depannya di antara tonggak kayu yang menjulang tinggi. Yahmen terdiam, ia merasakan kakaknya sangat berbeda kali ini.
Akan tetapi ia tidak ingin menebak-nebak, ia takut untuk menebak-nebak semua itu.
"Kakak, bila aku yang mati. Aku ingin, kuburkan aku di tebing hatter. Aku ingin di sana, aku ingin orang mengenangku sebagai Elang Beeluf!" balas Yahmen.
Muti tersenyum ia tidak menimpalinya keduanya kembali berlarian melompati dahan-dahan dan berhenti di sebuah sungai dangkal mencari ikan dan membakarnya.
Keduanya makan dengan riang, "Lantunkanlah serulingmu, Adikku!" pinta Muti.
Yahmen melantunkan serulingnya keduanya menikmati cahaya bulan di hutan kegelapan.
Menikmati setiap pedih, dan kebahagiaan yang tercipta dan terlewati. Keduanya bersyukur mereka masih hidup dan penuh kebahagiaan, air mata mengalir dari kedua belah pipi Muti.
Rasanya, kesedihan dan rasa harunya. Ia telah membesarkan Yahmen dengan segala keterbatasannya, di sela pertempuran dan perjuangannya.
__ADS_1
Mempertahankan pulau dan mengumpulkan orang-orang yang terluka, menjadi sekutu dan kini beeluf semangkin besar.
Sebaliknya, Muti sudah merasakan tumpuan tanggung jawab itu akan berpindah tangan kepada adiknya yang cantik di sebelahnya.
Muti yakin Yahmen akan membawa beeluf menuju kejayaan, walaupun ia tidak dapat menikmatinya.
Akan tetapi, ia bersyukur semua perjuangannya di dalam mendidik dan membesarkan adiknya membuahkan hasil.
Sepadan dengan rasa perih dan bahagia yang telah terlewati. Ia bisa tidur dengan nyenyaknya kelak bila telah tiba waktunya, ia bersyukur akan semua keajaiban dan mukzijat yang Allah.
Dua gadis kecil berlarian di malam petaka yang mengerikan itu telah mengantarkan suatu kebahagiaan dan kepedihan bersama mereka.
Keduanya tumbuh dengan rasa tanggung jawab dan menjadi tegar dan kuat meniti kehidupan ini. Secepatnya Muti menghapus air matanya, ia tidak ingin adiknya bertanya banyak hal. Ia sendiri pun tidak tahu jawabnya apa.
Semalaman mereka bercerita berlatih tombak dan pedang, memanjat tebing dan banyak hal yang dari kecil pernah mereka lalui.
Kembali mereka kenang,
Muti ingin mengulang masa-masa pedih dan bahagia bersama adiknya. Ia ingin meninggalkan suatu kenangan untuk adiknya,
"Yahmen peganglah janjimu, apa pun yang terjadi. Jangan lukai Mano, dan maafkanlah dia!" ucap Muti.
"Apa yang terlihat belum tentu itu yang tersurat!" ujar Muti. Ia membelai rambut adiknya dengan penuh kasih,
***
Beberapa hari kemudian ....
Semua beeluf berpakaian merah telah berbaris dengan tombak dan pedang mereka, di sebelah mereka Aoi dan para pasukan samurainya yang masih tersisa.
Dan di kanan mereka pasukan hatter lama bersama Balian.
Yahmen dan Mano berjalan menghampiri kelompok beeluf yang dibagi dua atas saran Muti.
Kelompok beeluf di pimpin Yahmen memasuki kastil di sisi timur, Mano di sisi barat, Aoi di sisi selatan dan Balian di sisi utara.
Rayan yang sudah terlalu tua tidak diizinkan Muti untuk ikut bertempur, ia ingin Rayan melindungi anak-anak dan para lansia.
"Sepuh, aku mohon! Lindungilah anak-anak dan lansia, aku juga tidak ingin Alberto menyerang kemari. Kau harus mengunci pintunya, aku tidak ingin pengkhianat itu menghancurkan klan kita."
__ADS_1
Muti menatap Rayan di pinggir hutan kegelapan pada saat subuh menjelang sebelum berperang.
Rayan menantap Muti, menarik napasnya. "Berjuanglah, sampai titik darah penghabisanmu. Allah selalu bersama orag-orang yang sabar dan beriman," balas Rayan.
"Apa pun yang terjadi kelak, bimbinglah Yahmen dan Mano. Agar keduanya di jalan yang benar, walaupun mereka berseberangan.
"Usahakan keduanya jangan pernah menjadi musuh dan saling membunuh," ucap Muti.
Rayan terdiam dengan janggut putihnya yang panjang, tubuhnya sudah sedikit bongkok. Ia sudah terlalu uzur umurnya pun sudah memasuki hampir 70 tahun, ia terlalu banyak menderita dan berjuang.
Akan tetapi, jiwa kasihnya selalu terpancar dari wajahnya yang teduh, "Muti, aku pasti melakukan keinginanmu untuk masa depan klan kita sampai ajalku tiba." Rayan menatap gurun di depan mereka.
"Aku telah membagi wilayah beeluf, aku ingin Mano menempati Tanah Tak Kasatmata. Dan Yahmen tetap di Menara Pasir," ucap Muti.
***
Semua orang sudah berbaris, semua sudah mulai bergerak meninggalkan menara pasir. Muti dan beberapa orang memasuki gerbang utama kastil,
"Ambah, kau bersamaku!" kata Muti. Ia memandang Ambah dengan sebuah tatapan yang berbeda, Ambah begitu tercekatnya.
Ia merasa telah dihakimi oleh Muti. Semua orang telah berada di bagian posisi masing-masing, pertempuran pun tidak bisa dielakkan lagi.
Yahmen dan kelompoknya menyerang Alberto mereka bergerak secepat kilat, membantai ninja dan para tentara.
Aoi, Balian, dan Mano pun bergerak secepatnya. Muti bergerak menyerang dari gerbang utama.
Semua orang yang dipimpin ke-5 orang hebat itu mulai bergerak memasuki kastil dan melumpuhkan semua tentara.
Yamada terdesak di tangan Aoi,
Jendral Balian sewaktu muda belum berpangkat Jendral masih seorang letnan bertempur dengan Balian si ketua hatter. Mereka memiliki nama yang sama dan sifat yang berbeda.
Alberto ingin melarikan diri sampai ke hutan bambu, Yahmen mengejarnya dengan pedangnya menyudutkanya di Hutan Bambu.
"Kau tidak akan bisa lari ke mana pun Alberto?" teriak Yahmen ia terus menyerang Alberto dengan pedangnya.
Alberto menangkis pedang Yahmen dan terus menyerangnya, hingga pedang di tangan Alberto terlepas.
Yahmen berhasil melukai bahu dan pinggang Alberto, Yahmen menebaskan pedangnya ke tubuh Alberto.
__ADS_1
Alberto tersungkur dengan luka di sekujur tubuhnya ia sudah tidak berdaya, Yahmen mendekatinya. Ambah datang berlari ke arah Yahmen.
"Tunggu, jangan bunuh dia dulu. ia akan kita bawa ke Menara pasir!" teriak Ambah. Yahmen terdiam, ia berpikir ada baiknya jika semua ikut menghukum Alberto.