
"Darmanto dan Junaid berusaha mengalihkan perhatian para tentara agar Toto, Zai, dan Will berhasil menyelinap masuk ke kastil," sambung Kabir.
Ia memandang semua orang, semua sahabat pionnya dan hanya dua orang beeluf yang ia kenal yaitu, Rani dan Ayesha.
Kabir memandang Heru yang masih nyaman berbaring di pangkuan istrinya,
"Ceritakanlah semuanya, Kabir!" ucap Heru.
Kabir memandang Heru, Kabir menceritakan semua yang mereka lihat di kastil Alberto.
Ketua Mano jatuh dari berdirinya ia terduduk bersimpuh dengan deraian air mata, "Karena Alberto, aku dan Yahmen berpisah dan semua orang menganggapku musuh. Semua ini karena si Sialan Alberto!" teriaknya.
Ia begitu murkanya, ia sangat sedih karena kelicikan Albertolah ia dan Yahmen juga semua orang, begitu mudahnya dimanipulasi oleh Alberto sesuaka hatinya.
Rasanya ia ingin menghunuskan pedangnya sekarang juga, Ketua Balian dan Aoi mendekati Mano, keduanya meraih bahu Mano.
Keduanya memeluk Mano dengan semua tangisan di antara ketiga kakek dan nenek itu, rambut perak mereka sudah terlihat. Separuh hidup mereka hanya bersembunyi dan semua klan mereka menganggap mereka telah mati dan seorang pengkhianat.
Mereka membimbing Mano ke sebuah pohon beringin yang rindang, "Sabarlah, Mano! Sekarang semua kebenaran telah terungkap," ujar Ketua Balian.
"Mungkin, kehancuran Alberto sebentar lagi. Berdoalah," sambung Ketua Aoi. Mano masih menangis, ia ingin menemui Yahmen dan mengatakan yang sebenarnya.
Ia bersuit seekor burung elang putih hinggap di lengannya ia mengucapkan beberapa kata di dalam bahasa sansekerta, si burung langsung melesat tinggi terbang ke angkasa.
Ia menguik nyaring di angkasa berputar putar sebanyak 3 kali dan meninggalkan hutan kegelapan. Semua orang memandag ke angkasa, semua terdiam dengan penuh keheningan.
Hendro datang dengan menunggangi rusa jantan dengan tanduk mencuat tinggi dan bercabang banyak, kepalanya sudah berdarah-darah.
__ADS_1
Tetapi ia sudah menyemprotkan botol obatnya, Mona melihat ke arah Hendro ia berlari menggapai kekasih hatinya.
Hendro turun dengan cepat seakan ia menaiki seekor kuda poni, "Apa yang terjadi?" tanya Mona.
Ia begitu khawatirnya, menyeka darah yang sudah mengering di seluruh wajahnya, "Aku bertarung dengan rusa jantan ini, syukurnya aku berhasil menaikinya!" ucap Hendro.
Ia merasa puas bisa menaklukkan si rusa jantan, ia sendiri pun tidak tahu apa tujuan dari Ketua Mano menyuruhnya berlarian mengitari semua wilayah hutan kegelapan.
Berulang kali ia terjatuh, dan si rusa dengan pongahnya selalu saja mengejeknya dengan menggoyangkan bagian belakang tubuhnya.
Ia seperti seseorang yang sedang lomba lari dengan si rusa, mengelilingi setiap semak hutan kegelapan untung saja tidak ada satu pun ranjau milik Alberto.
Bila ada ialah yang akan pertama kali mati mengenaskan tak terkenali lagi, dengan tubuh menjadi serpihan. Ia harus bersyukur untuk itu, ia melihat ke arah rusa yang masih dengan malasnya meladeninya berlari.
Hendro pun sedikit heran, "Mengapa di sini tidak ada ranjau? Padahal biasanya, kami selalu saja menghindari ranjau darat!" batin Hendro.
Entah bagaimana caranya akhirnya larinya lebih kencang dari si rusa, kemungkinan sejak ia berada di tengah-tengah beeluf hingga setiap harinya mengejar si rusa.
secepat kilat ia menyemprotkan botol obat yang diberikan Nara.
Kembali ia berlari mengejar si rusa, entah berapa lama ia melakukan adegan itu hingga ia merasa muak ia langsung melompat menaiki punggung si rusa,
pada akhirnya si rusa pun menyerah kalah membawa Hendro pulang. Hendro melihat Kabir dan Heru, "Sejak kapan mereka tiba, di sini?" teriak Hendro senang. Ia menggandeng tangan Mona dan megajaknya berlari mendekati kedua sahabatnya.
Mereka berangkulan, "Apa yang terjadi? Mana yang lain? Apakah kalian terluka?" tanya Hendro. Ia memberondong keduanya dengan berbagai pertanyaan.
Kabir menjelaskan satu per satu, Heru hanya diam saja tersenyum memandang ulah Hendro yang tidak berubah sedikit pun. Dengan darah mengering menempel hampir di seluruh wajahnya seperti zombi.
__ADS_1
Mereka terdiam ada sedikit kesal dan lega di benak mereka, karena kini mereka mengetahui sebuah rahasia yang tersembunyi yang mengikat mereka sehingga selama ini mereka begitu lemahnya.
Hendro menatap ke arah Kabir dan semua orang, "Lalu apa yang harus kita rencanakan sekarang?" tanya Hendro kembali.
Ia sudah ingin menghajar Alberto dan ingin segera pulang ke rumahnya yang damai, ia sudah lelah berada di sini dalam beberapa waktu yang ia sendiri pun sudah tidak tahu lagi.
Semua pion tidak ada yang pernah menghitung hari, mereka hanya sibuk berperang dan berlarian saja.
Semua menjadi keheningan, "Kita akan menanti Sesepuh Yahmen, kita akan bermusyawarah apa yang harus kita lakukan!" ucap Ketua Mano.
Kini ia dan kedua ketua lainnya sudah berada di sisi mereka, "Bersihkanlah, diri kalian. Agar makan, kita akan menanti Sesepuh Yahmen. Ia akan tiba sebentar, lagi!" sambung Ketua Mano.
Mereka semua kembali pergi melakukan aktivitas masing-masing, benar saja selepas senja. Rombongan badai pasir yang sangat besar dan angin out**g beliung menerjang semua pulau, semua pohon bergerak seakan ingin tercabut dari akarnya.
Ketua Mano, Aoi, dan Balian berdiri di depan pintu masuk batang pohon gerowong. Di belakang mereka semua orang dari berbagai klan berkumpul begitu juga dengan para pion.
Seorang wanita tua berbaju beeluf merah muncul dengan ketua Yura dan dua orang wanita yang sedikit lebih muda dari ketua Yura. Mereka berjalan ke arah mereka, ketiga tetua menyambut mereka berjalan ke arah mereka juga.
Yahmen dan Mano berdiri berhadapan, air mata sudah merebak di kedua belah mata. Keduanya berlari mendekat, "Maafkanlah, aku Mano!" ucap Sesepuh Yahmen, "Sudahlah, Yahmen. Aku pun meminta maaf kepadamu," balas Mano.
Keduanya berpelukan dan menangis, rambut perak keduanya tertiup angin terlepas dari balik kerudung mereka. Keduanya saling terisak menangis, Yahmen memandang ke arah Balian dan Aoi.
"Balian, Aoi .... " sapa Yahmen. Aoi maju mendekati Yahmen, "Apakah engkau masih marah kepadaku, sayangku?" tanya Aoi.
Semua orang terkesiap, Balian mendekati Mano, ia menggenggam erat bahu Mano.
Kepala mereka saling bersentuhan dengan derai air mata mereka, semburat merah mewarnai wajah Yahmen. Ia mengemang kisah cintanya kepada Aoi, hingga malapetaka memisahkan mereka.
__ADS_1
Ia melihat Aoi selingkuh dengan Mano, sedangkan Mano sedang pergi dengan kekasihnya Balian menyerang kastil Alberto. Aoi sendiri terluka menghadapi ninja di hutan bambu, hingga keduanya bertengkar hebat.
Yahmen kehilangan kakaknya Muti, Aoi, Balian, dan Mano. Sehingga semuanya terpecah, Aoi membuang samurainya, seakan ia mati di pertempuran dan Balian pun membuang golok hatternya, mengikuti Yahmen.