
"Wah, obat yang luar biasa manjur!" teriak Darmanto dan Kabir bersamaan. Mereka senang mereka menunggu Will sadar dari pingsannya, Nara sudah memasukkan cairan obat ke dalam mulut Will untuk mempercepat penyembuhan.
Kriiiukkkk!
Bunyi suara cacing di dalam perut mereka, Junaid, Hendro dan Mona pergi berburu binatang.
"Jangan terlalu jauh!" ucap Kabir.
"Jangan Khawatir!" balas ketiganya tersenyum. Mereka pergi secepat kilat membelah rerumputan.
Ketiganya berkeliling mereka hanya menemukan burung-burung dan kelinci, "Aku rasa, cukuplah!" jawab Mona menenteng hasil buruan mereka.
"Cukup tidak cukupnya hanya itu yang ada di hutan luas ini," balas Darmanto.
"Lagian, aku rasa Nona Artis paling sedikit makannya. Karena ia selalu berdiet untuk menjaga bentuk tubuhnya, agar tetap ideal bukan?" ucap Hendro menyindirnya.
Mona hanya memandang sekilas, "Iya, karena bila aku mendarat di batang pisangmu lagi. Kau tidak akan merasa terlindas drum!" ucap Mona dengan sarkasmenya.
"Hahaha .... " tawa nyaring Hendro membelah senja yang mulai datang.
Ia teringat, entah sudah berapa kali mereka saling tumpang-tindih tanpa sengaja.
"Wah, ga sangka kalian sudah mulai makan dan main pisang-pisangan ya? Hahaha," sindir Darmanto tersenyum dan tetap waspada.
Akhirnya mereka sampai ke tempat teman mereka, Will sudah siuman ia sudah sehat seperti sedia kala, semua orang benar-benar takjub, "Hebat juga obat ciptaan si Crabs!" Puji semua orang.
"Andaikan ia tidak jahat dan kejam, ia pasti sudah dapat Piala Nobel, dan masuk salah satu Guinness Book. Sayang sekali!" ucap Kirana.
Mereka memanggang burung di api unggun yang sudah menyala tinggi,
mereka membuat beberapa api unggun, untuk melihat dengan jelas andaikan para ninja datang mendekati mereka.
Mereka membagi rata hasil buruan, dan mereka sangat bahagia akan semua rasa persaudaraan dan sepenangungan.
"Malam ini, sebagian tidur dan beristirahat. Nanti tengah malam kita bergantian," Heru berkata dengan menatap semua orang di sekitarnya.
Mereka tetap menjaga jarak agar tidak mudah mati karam diserang oleh para ninja yang selalu datang seperti hantu.
Mereka membagi kelompok dengan 2 grup untuk tidur, dan berjaga. Kabir menatap gemeretak kayu dan kilatan api yang menjilat angkasa. Ia merasakan udara sedikit hangat, Kabir ditemani Junaid, Hendro dan Zai berjaga.
Mereka diam dan selalu waspada, "Terlalu hening!" ucap Zai.
__ADS_1
Ia menatap cahaya purnama yang mengintip di celah-celah pohom-pohon bambu yang tertanam rapi dan terawat.
Ketiga temannya juga memandang rembulan malam, "Andaikan ini bukan pulau kematian, mungkin akan indah bulan madu di sini .... " lirih Zai ia merindukan tunangannya.
Kabir melirik ke arahnya, "Kau merindukan kekasihmu?" tanyanya.
"Tunanganku, Riris! Padahal bulan delan kami akan menikah," ucapnya sedih.
Ia semangkin erat menggenggam senjata lasernya, dan pedang samurai di punggungnya, sangkur di pinggang dan banyak lagi senjata lain di seluruh tubuh Zai seperti yang lain.
Alberto Kuro benar-benar telah menciptakan monster baru, mereka semangkin larut memandang rembulan.
Berlahan tapi pasti, beberapa pria berpakaian hitam menatap mereka di balik dedaunan pohon bambu bergelantungan seperti seekor kera, mereka hanya melihat saja.
Mereka pun sepertinya enggan untuk menyerang, entah apa di dalam benak mereka.
Sementara di kastil Alberto Kuro yang porak-poranda, Alberto Kuro dengan murkanya mengetahui setengah anak buahnya mati sia-sia, dan ahli laboratoriumnya Tuan Crabs telah kehilangan kedua tangannya, dan seluruh laboratoriumnya hancur lebur tidak tersisa.
Ia sudah memanggil datang semua konstruksi bangunan yang ia percaya untuk membangun kembali
kastilnya, namun ia sangat marah. Ia ingin menghancurkan semua pionnya, "Aku akan membuat mereka lebih parah lagi, mereka akan menangis karena telah berurusan denganku!" batinnya.
Ia sudah merencanakan sedetil mungkin segalanya, ia menghadapi monitor virtual monogramnya.
Ia harus memberikan klarifikasi untuk semua hal yang telah terjadi, ia tidak ingin semua penjudinya akan kabur. Bila itu terjadi ia akan merasakan rugi yang luar biasa.
"Apakah benar kastil hancur, Tuan Alberto?" tanya seorang wanita berpakaian seksi, dan sangat modis dengan cerutu di tangan kanannya.
"Tentu tidak! Semua ini hanyalah sebagian dari rencanaku, bagaimana menurut kalian suguhan yang aku berikan?" Alberto balik bertanya.
"Wah, kau benar-benar luar biasa Tuan Alberto?" ucap salah satu pria.
"Lalu suguhan apa lagi yang akan kau berikan kepasa kami, Tuan Alberto? Kami sudah sangat menantikannya," tanya seorang wanita lain di sudut ruangan.
"Tunggu saja! Tetaplah pasang taruhan kalian sebanyak-banyaknya, maka akan aku berikan apa pun yang kalian inginkan," Alberto berusaha setenang mungkin.
Alberto tidak ingin semua orang mengetahui bila masalah sedang memenimpa kerajaannya. Ia harus memberikan alibi yang masuk akal untuk beberapa hari ke depan.
Hingga pembangunan laboratoriumnya selesai dengan baik, agar ia dengan mudah melakukan segalanya dari awal lagi.
Ia memangil joe melalui interkomnya, "Joe, bagaimana dengan Crab? Sudahkah dia bisa beroperasi lagi?" tanyanya.
__ADS_1
"Tuan Crabs sudah bisa menggunakan tangan palsunya sebaik mungkin, Nona Drass benar-benar jenius!" balas Joe.
"Baiklah! Bagaimana pembangunan laboratorium? Sementara ini, gunakan kastil bagian barat untuk pengoperasian segala kebutuhan Drass dan Crabs," perintahnya.
"Baik Tuan!" jawab Joe.
"Hubungi Palka untuk segera kemari? Juga si leher besi, aku ingin mereka ada di sini secepatnya," perintah Alberto Kuro.
Alberto berdiri berjalan ke arah jendela, ia melihat sayap kastil sebelah kirinya jancur lebur, para konstruksi bangunan sibuk melakukan perbaikan.
"Sialan! Mereka benar-benar orang-orang luar biasa, akan aku tunjukan siapa aku yang sebenarnya!" Alberto memandang kastilnya yang hampir saja hancur lebur, belum lagi 10 dari helinya hancur.
Kali ini, ia benar-benar harus mengeluarkan uang yang banyak untuk memperbaiki segalanya.
Malam semangkin pekat, para pekerja bangunan masih terus melakukan pekerjaannya. Mereka benar-benar dikejar target untuk secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan mereka.
*****
Jauh di dalam hutan bambu di bawah siraman cahaya rembulan yang bersinar terang, Kabir dan para pion berusaha untuk melepaskan ketegangan mereka, mencoba untuk tidur.
Mereka saling menjaga, dan melindungi dengan segenap kemampuan mereka umtuk bertahan.
Malam semangkin dingin suara jangkrik membelah suasana seram malam.
Duar! Duar! Duar!
Petir menyambar di angkasa raya, hujan deras mengguyur tubuh mereka. Bagi pion yang sedang tertidur langsung terbangung dari mimpi panjangnya, mereka hanya mampu saling pandang.
Sedikit pun mereka tidak bergeming, karena mereka tahu percuma mencari perlindungan semua hanyalah penuh dengan semak dan hutan bambu.
Mereka semangkin erat memegang senjata mereka, berharap dan berdo'a tidak ada bahaya yang mendekat. Api unggun telah lama padam, rembulan pun sudah masuk ke peraduannya.
Yang ada hanyalah kegelapan yang semangkin pekat, tanpa mereka sadari di dalam pekatnya malam. Sekelompak bayangan hitam bergerak secepat angin melompati setiap pohon bambu, dan mereka telah berada di atas kepala mereka tanpa mereka sadari.
Bayangan para ninja menyerang dengan menghunuskan pedang mereka ke arah kepala para pion, kilatan cahaya pedang di antara petir membuat para pion sadar akan bahaya yang sedang mengintai mereka.
Mereka bergulingan menghindari hunusan pedang dengan melemparkam tubuh mereka ke kanan-kiri tubuh mereka.
Secepat kilat menarik pedang mereka masing-masing, dan mengadakan perlawanan untuk memepertahankan nyawa.
Masing-masing menangkis dan saling serang dengan para ninja yang memiliki kegesitan yang luar biasa.
__ADS_1
Pekatnya malam dan derasnya hujan ditambah dengan pakaian para ninja yang serba hitam, membuat mereka sulit untuk mengenali musuh. Hingga sebuah sabetan mengenai lengan Kabir, ia berusaha keras untuk tidak memperdulikannya.
Rasa perih dari lukanya benar-benar, membuat sebuah keryitan di dahinya ia merasakan panas yang berbeda, "Apakah pedangnya dilumuri dengan racun?" batin Kabir.