Pulau Kematian

Pulau Kematian
Perjalanan baru


__ADS_3

Rani memandang ke arah Kevin, "Ooo, jadi kau?!" teriak Rani. Ia sudah ingin menebaskan pedangnya kepada Kevin.


Kevin hanya tersenyum, "Akh, Rani. Kau hanya melihat permukaan saja," jawab Kevin.


Ia memandang ke arah Rani, kemudian ke arah para tentara. Ia hanya mendengus, "Ayolah, apa kalian selamanya ingin menjadi anjing peliharaan Alberto?" tanya Kevin.


Semua tentara hanya terkekeh geli, "Hahaha, kau tahu. Kami sangat menikmati semua peran kami di sini, kami sangat bersenang-senang di sini!" balas salah satu tentara.


Kevin memandang dengan penuh kebencian,


"Baiklah, mau tidak mau kita harus berkelahi. Aku tidak ingin kembali menjadi anjing peliharaan Alberto!"jawabnya.


Seorang tentara mencabut pedangnya dan menyerang Kevin, ia menangkis dengan pedangnya. Mereja saling berkelahi, Rani pun di sisi Kevin ikut berkelahi dengan beberapa tentara lainnya.


Kevin sangat lihai memainkan pedang dan bela dirinya, ia berhasil menebas dan menusukkan mata pedangnya ke arah musuhnya. Ia dan Rani saling melindungi,


Zai dan Sukuna yang melihat keduanya melawan tentara turut membantu mereka berusaha secepatnya untuk melumpuhkan tentara yang menyerang mereka.


Keempatnya berhasil membunuh 10 orang tentara yang bertubuh seperti Si Leher Beton, keempatnya mencoba berlari lagi. Mereka berpencar dengan yang lainnya, mereka hanya mengandalkan naluri untuk terus berlari.


Malam sudah mulai berganti fajar, semua pion berpencar. Mereka kehilangan semua teman mereka entah ke mana, Kevin, Rani, Sukuna, dan Zai. Mereka berjalan sedikit berlahan, "Rasanya sangat, lelah!" ujar Kevin.


Rani hanya memandangnya dengan tatapan mengejek, "Dasar bule, kampung! Baru jalan gitu saja, sudah lelah." Rani sedikit mengejeknya, Kevin hanya diam saja.


Ia tidak peduli apa pun perkataan Rani, ia hanya ingin sedikit air minum. Akan tetapi, mereka tidak menemukan sedikit mata air pun, Rani memotong pucuk sebatang pohon.


Air menyembul dari batang tersebut, mereka minum dengan tergesa-gesanya. Mereja memandang pepohonan dan sekitarnya yang sedikit lebih lebat dari hutan bambu dan stepa hatter.


Mereka hanya mendengar sekawanan burung kapodang bernyanyi, di dahan-dahan tinggi pohon yang mereka sendiri pun tidak tahu namanya.

__ADS_1


Mereka terus berjalan tetapi mereka seakan berputar-putar di tempat yang sama saja, "Apakah kalian tidak merasa kita berputar-putar di tempat saja?" tanya Zai.


Sukuna memandang sekelilingnya, "Iya, apa yang salah?" jawabnya.


Mereka membuat suatu tanda dengan mematahkan sebuah batang pohon kecil, mereka kembali berjalan dan kembali di tempat yang sama.


Keempatnya saling berpandangan, dan duduk seketika. Mereka berusaha untuk berpikir dengan sebaik-baiknya, suara klontangan besi membuat keempatnya beringsut bersembunyi.


Mereka melihat tiga orang tentara hatter robot berjalan menyusuri jalanan yang mereka lalui, keempatnya mengikuti dengan cara mengendap-endap.


Ketiga hatter memukul-mukul sebuah batang pohon, dan mereka berjalan terus keempatnya mengikuti mereka.


Mengendap-endap di belakang para hatter robot, mereka melihat banyaknya hatter robot yang sesang bekerja di sebuah lapangan yag sangat luas.


Seakan-akan mereka sedang melakukan sesuatu pertambangan, keempatnya saling melihat. Keempatnya berbicara menggunakan bahasa isyarat agar para hatter tidak mengetahui keberadaan mereka, "Pantas, saja! Alberto tidak tertarik membunuh kita dan melakukan pembantaian massal


Semua orang memahaminya dan menganggukakan kepalanya, mereka mengamati dan melihat. Para hatter bekerja dengan tekun tanpa makan dan minum, mereka melakukan penambangan.


Keempatnya beringsut menjauh, dan berjalan menyusuri sekitar pantai. Mereka menangkap ikan memanggangnya, mereka makan dengan cepat.


Sementara, Mona, Kabir, Kirana, dan Hendro mereka berada di tepian parit mereka mencoba untuk minum dan mencari ikan di sekitar parit.


Mereka melihat kesekeliling, "Sepertinya, sedikit tenang di pulau ini. Alberto tidak terlalu memburu kita," ucap Kabir.


"Entahlah, aku harap saja apa yang kau ucapkan benar adanya," ujar Hendro.


Mereka berusaha memanggang ikan dengan memanggang memalui senjata laser mereka, "Apakah kau merasa tidak ada yang aneh?" ucap Mona.


"Ya, hanya saja! Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan semua keanehan itu!" ucap Kirana.

__ADS_1


Mereka saling diam, "Aku harap yang lainnya selamat, agar kita kembali ke Pulau Kematian." Kabir memandang semua orang,


baru saja ia berkata demikian dan ingin beranjak tiba-tiba sebuah panah melesat hampir saja mengenai Kirana jika tidak tangan Kabir secepat kilat menangkap panah tersebut.


Keempatnya menggenggam erat senjata mereka, beberapa orang yang tidak dikenal berpakaian aneh mengepung mereka. Mereka langsung menyerang tanpa berkata apa pun, para pion kembali menarik pedang mereka dan berusaha untuk mempertahankan diri.


Dentingan pedang bergema di antara deru angin pepohonan, masing-masing sibuk untuk saling menjatuhkan lawan. Seseorang yang memakai tutup kepala dan wajah yang dilumuri cat warna hitam sedang menghunuskan pedangnya ke arah leher Kirana, ia langsung menangkisnya dengan pedangnya, menendang ke arah kedua belah paha si musuh.


Akan tetapi pria tersebut memiliki ilmu bela diri yang sangat mahir Kirana semangkin terdesak, ia sudah hampir menyerah pukulan dari si pria sudah berkali-kali mendarat di tubuhnya belum lagi goresan pedang musuhnya.


Kabir bergerak mendekati si musuh ia ingin menyelamatkan kekasih hatinya, "Mundurlah Kirana, aku akan nengalahkannya. Obatilah lukamu!" ucap Kabir.


Ia bertarung menggantikan Kirana, ia memukul mundur musuhnya hingga terjatuh di rerumputan dan Kabir menghunuskan mata pedangnya kepada si pria," Katakan, kau siapa? Mengapa menyerang kami?" tanya Kabir.


Si pria hanya diam saja, ia tidak berbicara apa pun. Tiba-tiba dari mulutnya keluar cairan buih dan pria tersebut mati seketika. Keempat pion saling pandang, mereka merasa heran, "Sepertinya ia rela membunuh dirinya, agar tidak ada yang tahu siapa yang menyuruhnya. Aneh," ujar Mona.


Sementara teman dari si pria aneh tadi sudah kabur entah ke mana, "Aku rasa mereka adalah penduduk pulau ini, sayang sekali. Kita tidak bisa menanyakan hal apa pun," ketus Kirana.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, mereka berjalan semangkin jauh masuk ke dalam hutan tidak bertuan. Mereka tidak merasakan ada hawa aneh maupun bekas pertempuran berbeda dengan Pulau Kematian,


Akan tetapi, walaupun terlihat lengang mereka tetap saja waspada. Mereka merasakan ada sesuatu di sana, di balik semua keheningan yang mengerikan itu.


Beberapa langkah berjalan mereka dikejutkan akan tentara hatter robot yang sedang bertempur dengan si orang aneh tadi.


Kabir dan ketiga pion melihat mereka melawan tentara Akberto dengan perlengkapan seadanya, seperti tombak, panah bambu, dan golok atau parang panjang.


Kabir melihat beberapa dari suku aneh tersebut sudah tergeletak di tanah meninggal atau terluka, Kabir dan ketiganya menerjang ke arah para hatter,


mereja menebas langsung lehernya atau menusuk lempengan di pelipisnya.

__ADS_1


__ADS_2