Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Akan selalu membuat nya bahagia


__ADS_3

Bern tertawa geli saat melihat Belle tampak kesusahan mengancing koper miliknya, gadis itu berdiri sambil terus berusaha menekan isi koper nya yang berada di atas meja, besok pagi mereka akan berangkat ke uni emirat Arab jadi malam ini waktunya mereka bersiap-siap.


Sejak 3 hari kemarin mereka sibuk meminta izin dengan banyak pihak untuk melakukan perjalanan ke uni emirat Arab, membawa niat baik Bern untuk menghalalkan Belle.


Yang agak sulit meminta izin dari mama eden, wanita paruh baya itu agak meragukan Bern, takut jika-jika Bern tidak berbuat baik pada Belle, bahkan bagi untie Burja Belle sebenarnya masih begitu sangat muda untuk siap menikah.


"Apa tida terlalu dini? Belle baru menyelesaikan masa SMA nya, harus nya dia menikmati masa muda, kuliah, berkumpul bersama teman-teman nya, mengejar cita-cita nya"


Ucap wanita itu pada Eden saat itu.


Bern tampak duduk di atas kursi sofa tepat di hadapan untie Burja, laki-laki itu hanya bisa diam mendengar nada berat dari wanita itu.


"Ma semua akan baik-baik saja, banyak anak kuliah setelah menikah, bahkan mereka kuliah meskipun memiliki anak, asal pintar membagi waktu semua akan berjalan lancar ma"


Ucap Eden cepat sambil mendekati sang mama, lantas duduk di samping wanita paruh baya lebih itu kemudian mengelus lembut punggung sang mama.


Mama nya menarik pelan nafasnya.


"Belle masih terlalu kecil, bahkan Bern sudah begitu dewasa"


Ucap mama nya sambil menghela berat nafasnya.


"Ma..., Bern pilihan Daddy Belle, pilihan tuan Al Fattah"


"Tapi nak..."

__ADS_1


"Orang tua selalu tahu mana yang terbaik untuk anak-anaknya, seperti mama selalu tahu mana yang terbaik untuk diri ku, tuan Al Fattah jelas sudah tahu bagaimana bibit, bebet dan bobot laki-laki pilihan nya untuk Belle"


Ucap Eden lagi.


"Keluarga De Lucas tidak pernah punya kasus buruk soal perempuan, bahkan keluarga Al Jaber begitu menghargai perempuan hmm"


Eden bicara sambil mengelus lembut tangan sang mama nya, mencoba menyakini mama nya jika Bern laki-laki yang tepat untuk Belle.


"Bahkan aku pun menikahi gadis yang usianya jauh lebih muda dari ku bukan?"


Ucap Eden lagi.


"Aku juga cukup menyukai Bern, dia cocok untuk Belle, bahkan laki-laki itu mampu menggantikan posisi ku untuk menjaga Belle di kala mama masih koma dan aku juga koma tempo hari"


Sang mama tampak berfikir sejenak, lantas secara perlahan dia menatap dalam bola mata Eden.


Tanya sang mama tiba-tiba.


Sejenak Bern dan Eden terdiam, mereka sama-sama menelan salivanya, meski pun posisi mereka cukup jauh, tapi Bern bisa melihat dengan jelas ketakutan yang tersirat dari balik wajah tua itu.


Ingin sekali Bern menyakinkan wanita paruh baya lebih itu soal keseriusan nya, betapa matang pemikiran nya beberapa waktu ini dalam mengambil keputusan, tapi Eden seolah memberikan kode untuk tidak bicara sekarang, seolah-olah Eden berkata biarkan dia yang menyakinkan mama nya, dan dia ingin Bern cukup membuktikan keseriusan nya dengan tindakan tanpa harus ber koak-koak.Sebab realita nya laki-laki sejati yang benar-benar mencintai pasangan nya tidak harus banyak bicara tapi harus lebih banyak membuktikan rasa cintanya dengan cara bertindak dalam perbuatan nya.


Pada akhirnya mama Eden mengizinkan mereka, namun tetap dengan jutaan pesan yang keluar tanpa jeda.


Bern berjanji di dalam hati nya,akan selalu membuat gadis itu bahagia, sekalipun tidak akan membuat gadis kecil itu menangis Apalagi kecewa, dia tahu Belle Melewati masa anak-anak nya tanpa kasih sayang dan cinta, bahkan dia tumbuh dengan pemikiran dewasa belum waktunya, tidak di izinkan menangis atau pun mengeluh dalam seumur hidupnya, dan jika Bern menyakiti dirinya artinya betapa rendah dan bejad nya diri Bern terhadap Belle.

__ADS_1


Secara perlahan Bern memeluk lembut tubuh Belle, sejenak Belle tersentak kaget, menghentikan gerakan tangannya yang tengah sibuk memadatkan koper nya dane mencoba menarik resleting nya dari tadi.


"My bee?"


Belle berusaha untuk menoleh kebelakang, dengan gerakan lembut Bern membalikkan tubuh Belle, kemudian kembali memeluk erat tubuh tersebut.


"Ada apa?"


Belle tampak menaikkan sebelah alisnya, dia mendongak menatap dalam bola mata Bern


"Apa kamu bahagia selama bersama ku, Belle?"


Tanya Bern lembut,dia balik menatap bola mata Belle lantas kedua tangannya mengelus lembut wajah gadis itu.


"Tentu saja, aku mendapatkan banyak kebahagiaan yang belum pernah aku dapat kan sebelum nya"


Ucap Belle sambil tersenyum senang.


"Ingatkan aku jika seandainya nanti pernah menyakiti kamu, hmm?"


Ucap Bern cepat.


Sejenak Belle diam, lantas mengangguk kan kepalanya dengan gerakan cepat.


Sepersekian detik kemudian Bern menyatukan bibir mereka, terus saling bertaut sempurna dan bergerak begitu hangat dan dalam.

__ADS_1


Belle perlahan mengencangkan pegangan nya, dia ikut terbuai gelombang yang di berikan Bern, semua perlakuan Bern bagaikan candu untuk nya, dan dia tentu saja bahagia. Bukan karena ciuman hangat dan dalam yang selalu di suguhkan Bern untuk dirinya, tapi karena baginya Bern terlalu baik, tidak sekalipun berlaku kasar padanya, bahkan selalu bisa menjadi sosok luar biasa yang menggenggam erat tangan nya.


__ADS_2