
Masih di masa kemarin.
Seketika Ramira tercekat saat melihat dari sisi pintu kaca uncle Karl dan beberapa orang tampak mulai mendekati posisi ramira dan valentine yang terbaring terbujur kaku.
Ramira bingung harus melakukan apa, kakinya tiba-tiba tidak bisa bergerak sama sekali, tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuh ramira ke dalam, membawa ramira untuk bersembunyi di balik sebuah di lemari besar.
"Pastikan semua nya bersih dan tidak meninggal kan jejak sama sekali"
Terdengar suara uncle Karl dari luar sana.
Bola mata Ramira masih bisa mengintip dari celah lubang kunci lemari kayu tersebut, Farhan mencoba menahan lemari itu dengan tangan nya agar tidak terbuka.
Tampak 2 orang dokter berdiri disisi kanan Karl, seorang laki-laki dan perempuan.
"Murat dan bahrat tengah berada di Dubai, kemungkinan 1 Minggu dari hari ini baru akan kembali, Selena pasti akan datang kemari, pastikan gadis kecil itu tidak curiga soal saudaranya"
Ucap Karl lagi pada 2 dokter di samping kanan nya.
"jika dia mulai menemukan kecurigaan dan bersikeras untuk menyelidiki, habisi juga seperti kalian menghabisi saudara nya"
Karl menoleh ke arah belakang nya, 2 laki-laki bertubuh kekar menundukkan kepalanya.
Ramira berusaha menutup mulutnya, cukup terkejut dengan ucapan Karl, dia berusaha menahan tangisan serta rasa panik nya.
"Selesaikan dalam 1 x 24 jam, pastikan mereka menyiapkan pemakaman nya dengan cepat"
Ucap Karl lagi lantas mulai bergerak keluar dari sana.
"Dan Pastikan juga tidak ada saksi lainnya"
__ADS_1
Lanjut Karl lagi kemudian terus berjalan kedepan.
Air mata Ramira jelas tumpah, dia memejamkan secara perlahan bola matanya, mencoba untuk tidak berbuat Ceroboh hingga bisa mengakhiri nyawa mereka juga saat ini.
*********
"Kita harus melaporkan semua ini kekantor polisi"
Ucap Ramira dengan tangan gemetaran, dia mencoba mencari kunci mobilnya didalam tas nya sambil mencoba menghapus air mata nya sesekali dengan punggung tangannya.
"Ramira"
Farhan berusaha untuk menenangkan Ramira.
"Mereka membunuh nya, mereka membunuh nya kak"
Pekik ramira panik Dengan nada tertahan.
Secepat kilat Farhan menarik tas ramira, mencari kunci mobilnya, begitu mendapatkan nya Farhan dengan cepat membuka pintu nya, mengajak Ramira masuk diikuti oleh nya lantas secepat kilat mereka beranjak pergi dari sana.
"Mari kekantor polisi, kita harus melaporkan nya"
Ramira terus berteriak panik didalam mobil tersebut, Farhan tampak diam, wajahnya jelas terlihat kaku, berusaha fokus untuk terus menyetir.
"Kakak tidak lihat? dia membunuh valentine, Karl membunuh valentine, gadis kecil yang tidak bersalah, yang ingin hidup normal seperti kita, yang rela menutup mulutnya bertahun-tahun dan dianggap sebagai ancaman"
Ramira terus berteriak histeris, otaknya jelas menjadi kacau balau, rasa panik dan takut menerjang dirinya secara bersamaan.
"Kakak dengar ucapan ku? dia membunuhnya"
__ADS_1
Pekik Ramira lagi.
"Lalu kita bisa apa? melaporkan seperti kata kamu? kita punya bukti nya? Mana? siapa yang akan percaya ucapan anak-anak seusia kita?"
Farhan balik berteriak ke arah Ramira.
"Yang ada kita juga akan di bunuhnya, keluarga kita, orang tua kita, perusahaan Daddy mu, usaha Daddy ku akan ikut hancur seperti Faith Yildiz karena tindakan serta rasa peduli dan empati kita"
Ucap Farhan lagi.
"Uang jelas lebih berkuasa dari semua nya, kita bisa melakukan apa memang nya?"
Seketika tangis Ramira kembali pecah.
"Mulai sekarang anggap kita tidak tahu apa-apa, tutup mata, mulut dan telinga, tunggu waktu nya setelah kita dewasa, setelah kita punya kekuatan untuk membongkar semua nya"
"Kak"
Seketika Farhan mengerem mendadak mobil nya, laki-laki itu menoleh ke arah Ramira, meraih wajah gadis itu lantas menatap dalam bola mata nya.
"Dengarkan aku baik-baik, bicara sekarang sama saja kita mencari mati, kita akan mencelakai banyak orang disekitar kita, aku berjanji akan mengumpulkan kembali Keluarga Faith Yildiz dan Al Jaber, tunggu waktu nya tiba maka saat itu mari kita membuat mereka menghancurkan Karl secara perlahan, kita cukup berdiri, menunggu dan menyaksikan kehancuran Karl saat itu juga"
Ramira tampak diam, dia menggigit bibir bawahnya, air matanya terus tumpah tanpa bisa dia bendung sejak tadi.
******
Catatan \= Disarankan baca season 3 putri perawan milik Daddy di Judul
OH YES MY HOT UNCLE untuk baca kisah akhir bahagia dari semua orang yh makkkk
__ADS_1