Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Gadis cantik oriental


__ADS_3

Malam sebelum


Saat Eden masuk ke ruang operasi


saat ailee masuk ke ruang rawat inap VVIP


Saat semua orang dilanda kepanikan, anggota DEMON ANGLE'S (BUKAN CHARLIE'S ANGLE'S) Telah kembali ke posisi mereka masing-masing.


"Kami akan mengirim pembagian milik Bern dalam buku merah, ada milik kalian juga disana"


Itu pesan terakhir yang Abigail dapat kan dari Winda, Hera, eve dan Vina sesaat sebelum mereka menghilang.


"Oh sial"


Abigail menggerutu pelan, mencoba memegangi tangan kirinya yang tanpa sadar terluka terkena salah satu pisau lawan.


"Kau terluka"


Ucap Bahrat cepat, lantas mencoba mencari perawat agar bisa membantu membersihkan dan membalut luka Abigail


Sejenak bola mata Abigail terpaku saat dokter Edo Tiba-tiba memanggil seseorang yang baru saja masuk melewati pintu kaca dari arah sisi kanan mereka.


Oh my God, gadis cantik oriental itu lagi.


Batin Abigail.


"Deliya"


yang dipanggil awalnya melengos, tiba-tiba kembali menonjolkan kepalanya.


"Bantu aku"


Ucap Edo cepat.


Abigail sejenak menatap sosok gadis yang semakin mendekati mereka itu, dia baru tahu gadis yang mendatangi Belle dimalam kejadian tempo hari ternyata seorang dokter di rumah sakit ini.


"Dia masih single, cukup populer di rumah sakit ini, jika beruntung kamu bisa mendapatkan nomor telepon nya"


Goda Edo sedikit berbisik sambil mengulum senyum.

__ADS_1


"Kenapa kak?"


"Tidak punya jadwal kan?"


Deliya menggeleng pelan.


"Bisa bantu sedikit?"


Edo bicara sambil menunjuk tangan Abigail yang terluka.


Deliya menatap ke arah tangannya, lantas menatap wajah Abigail.


"Aku fikir kitaa..."


Deliya seakan-akan mencoba untuk mengingat.


"Ah paman muda Belle?"


Abigail hanya mengulas senyum.


"Aku harus mengurus beberapa pasien gawat darurat, bantu aku untuk membalut luka teman ku"


Gadis itu mengangguk cepat lantas menuntun Abigail agar mengikuti langkahnya.


"Apakah sesuatu yang buruk terjadi?"


Tanya deliya sambil meminta Abigail duduk di sebuah kursi di dalam ruangan rawat yang ukurannya tidak begitu besar namun lengkap dengan semua peralatan medisnya.


"Sedikit buruk, tapi semua baik-baik saja"


Jawab Abigail sambil memperhatikan wajah deliya beberapa waktu.


Jika di telisik memang wajah deliya Begitu unik dengan aksen China bercampur Indonesia dan timur tengah.


Sambil membersihkan tangan Abigail, Deliya terus mengajak laki-laki itu mengobrol santai agar tidak menjadi tegang dengan keadaan luka nya.


"Dimana belle?"


Tanya deliya pelan.

__ADS_1


Dia jelas tidak tahu apa yang terjadi, karena baru saja tiba lalu Edo langsung meminta nya merawat luka di tangan Abigail.


"Ada diluar bersama Bern.


Ucap Abigail pelan.


"Apa?"


Sejenak deliya menghentikan kegiatan tangannya, dengan cepat menatap wajah Abigail.


"Maksud nya?"


"Kakak nya berada di ruang operasi"


Seketika deliya menelan salivanya.


"Ada apa sebenarnya?"


Deliya terus berusaha bertanya pada Abigail.


"Sedikit sulit dijelaskan, mungkin Asha bisa menjelaskan semuanya pada mu"


Deliya jelas menjadi sedikit bingung, dia fikir ada apa dengan Kevin Burja kakak Belle? seingatnya Kevin baik-baik beberapa hari yang lalu, masih sempat Datang mengunjungi mama nya lantas masih sempat juga bercanda bersama dirinya.


Deliya mencoba kembali mengobati luka Abigail, perlahan mulai menuangkan alkohol pada luka laki-laki itu dengan gerakan begitu telaten dan sabar.


"Awh.."


Ringis Abigail pelan.


"Sakit? maaf kan aku"


Ucap deliya sambil berusaha meniup tangan Abigail


Abigail terus mengulum senyum menatap wajah gadis itu, sesekali dia pura-pura meringis untuk mencari perhatian deliya.


Oh my God, boleh kah dia meminta sesekali pada Tuhan???


semoga besok-besok aku kembali terluka.

__ADS_1


Come Abigail, doa mu sungguh TERLALU kekanak-kanakan.


__ADS_2