
Setelah selesai acara makan siang, seluruh keluarga kembali berkumpul bercengkrama, tapi Seketika kekakuan terjadi antara Bern dan Belle.
Kata pernikahan jelas membuat mereka berdua menjadi terdiam dan begitu kaku.
Dari sudut pandang Bern jelas melihat Belle dari sisi ke kanak-kanakan, bagi nya dia hanya ingin melindungi gadis kecil itu, dia merasa nyaman di samping nya, suka dengan seluruh masakannya.
Dari sudut pandang Belle jelas melihat Bern sebagai pahlawan nya, orang yang mampu melindungi dirinya, yang dada nya bisa dijadikan tempat untuk bersandar dan tertidur pulas dikala sedih maupun lelah.
untie Ayana Belle yang melihat itu mengembangkan senyuman nya, lantas dengan cepat berkata.
"Aku fikir membahas soal pernikahan terlalu dini"
Ucap nya cepat, tangannya berusaha menggenggam erat tangan Belle yang duduk disampingnya.
"Membangun biduk rumah tangga idealnya dilandasi dengan perasaan saling mencintai di antara dua insan. Namun ketika rasa cinta belum juga berpihak, mungkinkah kisah tersebut bisa berakhir dengan bahagia? aku rasa tidak"
Tambah Ayana cepat, menatap semua orang secara bergantian.
"Kita membuat kecanggungan di antara dua orang yang tadi nya akrab bukan?"
Seketika semua mata tertuju pada Belle dan Bern.
"Pernikahan yang dilandasi cinta bisa berkembang, begitu juga dengan pernikahan hasil perjodohan. Perbedaannya terletak pada besarnya peranan keluarga. Dalam pernikahan yang dilandasi cinta, keluarga tidak banyak ikut campur dan membiarkan keputusan ditentukan oleh pasangan tersebut. Hal seperti ini tidak terjadi pada pernikahan hasil perjodohan bukan?,"
"pernikahan hasil perjodohan memiliki tekanan sosial yang tinggi ketimbang berdasarkan cinta, saat dipaksa menikah mungkin mereka bisa bertahan tapi yang jelas mereka akan menjalani biduk rumah tangga tanpa kebahagiaan"
"Aku fikir, sebaiknya biarkan mereka saling memahami keinginan hati masing-masing lebih dulu"
Ayana menatap mommy Bern lantas mencoba menggenggam erat tangan mommy Bern beberapa waktu.
"Tidak lama, tapi pada akhirnya mereka akan tahu mau di bawa kemana perasaan mereka"
__ADS_1
pada akhirnya semua orang setuju memberikan waktu 2 bulan masa pemahaman.
********
"Ini sedikit membuat ku terkejut"
Bern bicara sambil menatap langkah kaki Belle, mereka berjalan perlahan menyusuri jalanan, pergi ke Indomaret untuk membeli beberapa titipan mommy Bern.
Awalnya Bern ingin berangkat sendiri, tapi semua orang tampak begitu licik menjebak agar mereka pergi bersama.
"Aku harap kamu tidak menjadi tertekan dengan keadaan"
Lanjut Bern lagi dengan tidak enak hati.
Belle sejenak diam, kemudian mengembangkan senyuman nya ke arah bern.
"Kita bisa bersikap biasa saja seperti kemarin, om"
"Aku cukup sadar diri, tidak mungkin mengencani anak kecil yang baru lulus SMA"
Mendengar ucapan Bern Belle ikut terkekeh.
"Tapi aku tidak berfikiran sempit dan kekanak-kanakan"
Belle berusaha membela diri.
"Aku tidak bilang begitu"
Bern bicara sambil mengacak pelan rambut Belle.
Seketika wajah Belle memerah, dia fikir setiap kali laki-laki itu bersikap lembut pada nya ada gelanyar aneh yang memenuhi hatinya.
__ADS_1
Tinnnnn
Tinnnnn
Terdengar suara klakson mobil yang mengejutkan mereka, Secepat kilat Bern menyambar tubuh Belle hingga masuk ke dalam pelukannya, sebuah mobil dengan kecepatan penuh melewati mereka.
"Apa mereka tidak gila? ini jalanan padat dan ramai?"
Bern tampak begitu marah, menatap kesal ke arah mobil yang baru saja melintas, tangan kanan nya memeluk erat tubuh belle.
"Itu bukan masalah"
Ucap Belle sambil berusaha mendongak, menatap dalam bola mat Bern, seketika senyuman manis mengambang di bibirnya.
"Aku baru kali ini melihat om marah"
Ucap Belle lagi.
"Mereka begitu tidak sopan, bagaimana jika sesuatu hal yang buruk terjadi?"
Bern jelas mengerutkan dahinya.
Belle terkekeh, perlahan keluar dari dalam pelukan Bern.
Tapi sepersekian detik kemudian Bern dengan cepat menukar posisi mereka.
"aku yang salah, seharusnya aku meletakkan Mu di posisi yang lebih aman sejak awal"
Setelah berkata begitu Bern menatap ke arah depan, menggenggam erat tangan kiri Belle dan mulai berbelok ke arah Indomaret yang ada di depan mereka.
Belle menatap secara perlahan tangan nya yang terus digenggam erat oleh laki-laki itu, sejenak dia mengulum senyum nya, kemudian dia melangkah pelan mengikuti langkah Bern tanpa banyak bicara.
__ADS_1