
Eden tampak menatap wajah anggota keluarga Al Jaber satu persatu beberapa waktu, permintaan semua orang adalah agar Eden yang mengurusi perusahaan mereka di Paris, melupakan perihal masa lalu dan tetap menjadi keluarga besar Al Jaber seperti kemarin, tidak ada Eden palsu atau asli, bagi mereka Bern maupun Eden tetap lah bagian dari keluarga mereka dan sama-sama penting di dalam keluarga besar Al Jaber.
"Kami bisa saja mempercayai orang lain untuk mengurus nya, tapi tentu hasilnya akan berbeda, sebab bagi kami orang yang paling tepat mengurus al Jaber company di Paris itu adalah kamu, Eden"
Ucap Bahrat pada Eden.
"Ini keputusan yang cukup besar"
Eden bicara sambil menatap semua orang secara bergantian.
"Karena itu kita membahas nya bersama-sama"
Sahut Murat cepat.
"Ailee sudah diberi pengertian, seperti kata ku kemarin kami bisa berkunjung saat bayi kami telah lahir, itu bukan permasalahan yang harus di persoalkan"
__ADS_1
Ucap Aland sambil meraih cemilan di atas meja.
"Selena sudah membicarakan nya pada Asha, calon istri mu lebih suka kalian pindah ke Paris, disana dia masih bisa meneruskan karir nya tanpa kamu harus mematikan impian nya, dan disana juga akan ada banyak anggota keluarga besar yang berkumpul, aku rasa untie Burja tidak akan merasa kesepian disana, sedikit berbanding terbalik di Indonesia, disini untie Burja tidak punya teman untuk bicara"
Sejenak Eden memejamkan bola matanya.
Benar juga, setelah sadar mama nya hanya mondar-mandir kekediaman Al Jaber, Faith Yildiz atau di apartemen nya, tidak punya keluarga lain atau teman-teman untuk di ajak mamanya bercengkrama atau mengobrol bersama, kadang Eden cukup bingung menempatkan diri mama nya, takut jik sang mama mulai stress dengan keadaan.
"Untie Malika tidak ingin lagi berurusan dengan perusahaan, dia hanya tetap menanamkan kan saham nya di Al Jaber, dia bilang kamu juga kandidat paling tepat mengganti kan Karl mengurus perusahaan di Prancis"
"Aku tahu kamu masih hidup dalam bayangan masa lalu, tapi ketahuilah tanpa masa lalu orang-orang tidak akan memiliki masa sekarang juga tidak mungkin memperbaiki diri"
Ucap Murat tiba-tiba, bola mata laki-laki itu menatap dalam Eden.
"Sejatinya hidup kita tidak pernah lepas dari kondisi masa lalu, masa lalu lah yang membangun kehidupan kita pada saat sekarang ini, berkat masa lalu juga kita belajar, karena sebaik-baik guru bagi seorang manusia adalah pengalamannya, dan pengalaman itu terjadi di masa lalu"
__ADS_1
"Dan semua orang pasti punya masa lalu"
"Kami sama sekali tidak berfikir perihal kemarin kamu lah yang menyebabkan nya, sebab realita nya kamu juga korban di antara kami semua, kita yang ada di sini adalah korban ambisi keserakahan Karl hingga membuat kita saling membenci antara satu dengan yang lainnya"
"Cukup kita saling melupakan hal yang kemarin, menganggap nya sebagai mimpi yang makin lama akan menghilang dengan sendirinya dan kita mulai belajar menata masa depan, merajut tali kekeluargaan kembali dan mulai saling berpegangan tangan"
Eden kembali diam, tapi Bern dengan cepat merangkul bahunya.
"Apa kamu tidak enak hati dengan ku? come Brother yang lalu biarlah berlalu, aku juga akan kembali ke Prancis dan Manhattan, Masih harus memutuskan kemana aku harus menempatkan diri setelah ini,sebab Daddy ku dan Daddy Belle sama-sama ingin aku masuk ke dalam perusahaan"
Eden tampak mengembangkan senyumannya, dia menatap wajah Bern sejenak, berusaha menimbang keputusannya.
"Diskusikan lebih dulu dengan Asha dan untie Burja setelah pernikahan kalian, Kami menunggu keputusan mu yang paling bijaksana"
Eden mengangguk pelan, lagi-lagi bola mata nya menelusuri semua wajah yang ada di sekeliling nya, wajah-wajah itu terlihat begitu biasa-biasa saja tanpa dendam, menatap dirinya seolah-olah memang merupakan salah satu dari anggota keluarga mereka.
__ADS_1