
Murat dan bahrat tampak berjalan menuju ke satu ruangan gelap yang terdapat pada penjara bawah tanah yang pengap dan lembab, langkah sepatu mereka terus terdengar di sepanjang ruangan, 2 sipir berjalan mendahului mereka sambil menunjukkan arah.
1 sipir Beberapa kali menghantamkan tongkat yang ada di tangannya ke tiap tiang-tiang jeruji besi yang dia lewati.
klentanggggg
klentanggggg
klentanggggg
klentanggggg
Suara nya cukup memekakkan telinga.
Di satu sudut ruangan paling ujung yang gelap tampak seorang laki-laki bicara dan tertawa sendiri sejak tadi, kadang dia mondar-mandir Kesana-kemari tanpa tujuan, kadang pandangan mata nya Begitu nanar ke luar.
Sejenak Murat dan bahrat berhenti di ruangan itu, menatap laki-laki paruh baya yang ada di hadapan mereka itu.
"Hanya 10, tuan"
Bisik salah satu sipir,. kemudian ke dua Sipir tadi melesat pergi menjauhi mereka.
Kemarin pihak lapas (Lembaga pemasyarakatan) menghubungi mereka, berkata jika sang uncle mulai mengalami gangguan kejiwaan sejak bulan kemarin, bicara nya sudah tidak jelas kemana, tingkat laku nya mulai aneh dan gerak-gerik nya tampak meresahkan.
Pihak lapas (Lembaga pemasyarakatan) menyarankan mereka agar memindahkan laki-laki tersebut ke rumah sakit jiwa secepat nya.
Tapi Murat cukup meragukan keadaan, dia berusaha mewaspadai laki-laki itu saat ini.
__ADS_1
"Bukankah seorang penipu selalu punya cara untuk menipu seseorang? aku jelas meragukan diri nya, ada terlalu banyak korban yang terjebak tipuan nya di masa lalu, aku cukup meragukan Dirinya kali ini"
Ucap Murat pada bahrat semalam saat sang uncle datang berkunjung ke Mansion nya.
Sejenak Bahrat terdiam
Dia yang awalnya cukup percaya jika-jika sang kakak mungkin stress karena keadaan hingga mengalami gangguan kejiwaan tiba-tiba meragukan keadaan.
"Sejak dulu dia cukup pandai berakting dan bisa menipu semua orang, aku jelas cukup curiga dengan dia kali ini"
Bola mata Murat menatap tajam laki-laki yang ada dihadapannya itu, cukup iba dengan keadaan nya, tapi bukankah menjadi waspada akan lebih baik untuk dirinya.
"Aku fikir kamu cukup baik-baik saja, uncle"
Murat bicara sambil bola matanya tidak lepas sedikitpun menatap uncle Karl nya.
"Mereka bilang uncle mengalami gangguan kejiwaan,tapi aku tidak melihat sedikit pun keanehan, uncle terlihat baik-baik saja"
Karl menatap dalam bola mata Murat Sejenak, kemudian dia secara perlahan mulai berjalan mendekati laki-laki itu.
Saat mereka saling berhadapan wajah, Karl langsung menangis.
"Aries... aries.... kamu kemana saja?"
Karl berusaha mengeluarkan tangannya, mencoba menyentuh wajah Murat.
"Dimana Lea? katakan pada Daddy dimana Lea?"
__ADS_1
Karl mulai bicara melantur kemana-mana, dia menangis sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Bukankah sudah aku katakan, kita akan mendapatkan Al Jaber? kenapa kau menghancur kan semua rencana nya bajingan?"
Beberapa waktu kemudian ekspresi Karl berubah lagi, menjadi marah, memaki dan terlihat penuh kebencian.
Murat mencoba memundurkan tubuhnya, bahrat tampak menghela nafasnya panjang.
"Aku fikir sebaiknya memberikan fasilitas perawatan, tidak usah membawanya ke rumah sakit jiwa, tapi cukup tetap disini dan menambah fasilitas yang lebih layak"
Bisik Bahrat pelan.
"Bajingan....bajingan...aku memiliki 35% saham Al Jaber, tapi kau .. kau ali al Jaber, kau mengambil semua milik ku"
Traanggggggg
Traanggggggg
Karl Tampak memukul keras jeruji besi dengan piring makanan yang terbuat dari kaleng, Lalu dia bergerak dengan penuh kemarahan, mengusir Murat dan bahrat secara bersamaan.
"Pergi...pergi...dimana istri ku? dimana Malika?"
Suara nya menggema memenuhi ruangan penjara yang gelap dan pengap, lalu Karl langsung meringkus di sudut ruangan, menutup wajah dan kepalanya dengan kedua belah tangannya.
Seketika Murat menelan salivanya.
Dia fikir hukuman yang tuhan berikan pada laki-laki ini cukup sepadan dengan rasa luka yang diderita oleh semua orang.
__ADS_1