
Saat Bern memeluk tubuh Belle, sekelebat ingatan soal Eden memenuhi kepala nya.
"Kau harus menjadi gadis yang kuat, jangan pernah menampakkan kelemahan mu pada siapapun bahkan jangan pernah menangis meskipun kamu menginginkan nya"
"Tegakkan kepala mu, urus luka ku sekarang juga"
"Kau tahu, diluaran sana ada banyak Sekali orang-orang yang tidak memiliki hati, jadi jangan sesekali kamu gunakan hati mu untuk melakukan segala hal"
Lalu satu ketika dia pernah bertanya pada Eden.
"Apa kita tidak bisa hidup normal seperti orang-orang lainnya kak? sebaiknya kita pindah ke Itali bersama kak Asha"
"Pergilah, kamu bisa pergi meninggalkan kakak kapanpun kamu mau, sebab sejak dulu hingga sekarang kakak sudah terbiasa hidup sendirian"'
Satu kali pernah dia mendengar pemilik punggung Kokoh itu menangis seorang diri di dapur, berpegangan pada wastafel cucian piring, mendongakkan kepalanya sambil berusaha menahan suara nya.
"Kau tahu kenapa laki-laki tidak pernah menangis? karena pria memiliki lebih sedikit hormon yang memungkinkan manusia menangis, dan ketika mereka melakukannya, lingkungan sosial akan menghakimi.
"Kau tahu kapan laki-laki menangis? sejati nya itu terjadi ketika mereka kehilangan seseorang yang begitu penting didalam hidupnya"
Kapan Eden sang kakak pernah menangis?
__ADS_1
Saat dia melihat mama nya pernah kehilangan nafasnya satu kali, dan kemarin saat dia tahu dia memiliki seorang putri.
"Dia (Ailee) tidak ingin memeluk ku"
Bola mata eden menyiratkan rasa sedih yang mendalam, menatap bola mata Belle untuk waktu yang lama.
Belle memeluk erat sang kakak.
"Dia hanya sedang butuh waktu untuk bisa menerima semuanya"
Seketika air mata Belle kembali tumpah.
Meskipun acapkali meminta ku menjadi dewasa belum waktunya, tapi kamu selalu berusaha memperhatikan seluruh kebutuhan, kesehatan dan apa yang terbaik untuk hidup ku"
Saat tubuh Eden di angkat ke sebuah mobil, Seketika Bern menuntut Belle untuk masuk ke dalam sana, duduk di samping Eden yang tampak memejamkan bola matanya seperti tertidur pulas di hadapannya.
Wajah tampan itu memang mendominasi, meskipun ada banyak darah yang memenuhi tubuh dan wajahnya, senyuman di bibir Eden tampak terlihat begitu manis.
Belle menyentuh Secara perlahan wajah Eden.
"Jangan pergi, bukankah kakak sudah berjanji untuk pulang dalam keadaan baik-baik saja? "
__ADS_1
ucap Belle sambil menahan Isak tangis nya, menyentuh wajah tampan itu dengan kedua belah telapak tangan nya.
"Kak Asha sedang menunggu kakak di apartemen nya, Bukankah Minggu depan adalah hari ulang tahun kakak? kak Asha sudah menyiapkan banyak kejutan bersama ku untuk memberikan kakak suprise yang begitu luar biasa"
Belle bicara masih terus Menyentuh wajah kakak nya, terasa begitu dingin dan terlihat sangat pucat.
"Kak Asha bilang, mama baru saja bangun dari tidur panjang nya kemarin"
Seketika air mata Belle kembali tumpah.
"Kakak bilang sudah lama tidak melihat senyuman mama"
isakan tangis belle kembali pecah.
"Kak Asha bilang mama menunggu kakak untuk kembali pulang"
Belle bicara sambil memukul dadanya sendiri, dia menangis meraung dalam keheningan, Bern dan Alan tampak di kursi paling belakang.
Murat hanya bisa diam didalam keheningan.
Seketika semua orang menelan salivanya.
__ADS_1