
Seketika dalam 2 x 24 jam seluruh harga saham Al Jaber meroket drastis,Dua berita besar pecah tidak dapat terkendalikan lagi.
Putri Al Fattah yang hilang di rawat oleh salah satu anggota keluarga Al Jaber dan
Pertunangan putri Al Fattah bersama putra Al Jaber.
Bern cukup panik dengan berita yang langsung memenuhi seluruh awak media, bahkan Belle jelas mulai Singkuh harus pergi kesana kemari sejak kemerin.
"Dad aku fikir ini terlalu cepat, bisakah daddy menetralisir berita nya? aku takut ini membuat Belle tidak nyaman dengan keadaan"
Ucap bern cepat melalui handphone nya, dia berusaha mencari gadis itu yang menghilang kemana sejak pagi.
Tidak ada di rumah sakit, tidak ada di kediaman Al Jaber, tidak ada di mansion Faith Yildiz bahkan tidak ada di apartemen Kevin Burja.
"Belle bahkan menghilang sejak pagi tadi, ini membuat ku khawatir"
Keluh Bern dengan perasaan gelisah.
Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadis kecil itu, bahkan Bern mencoba menghubungi handphone nya tapi tidak juga kunjung gadis itu angkat-angkat.
Jawaban sang Daddy jelas tidak memuaskan bagi Bern.
__ADS_1
"Jika kita turunkan berita nya sekarang, itu akan mempengaruhi saham Al Jaber, bukankah kita sejak awal ingin saham Al Jaber kembali normal? jangan berbuat hal egois, ada banyak perut yang harus Al Jaber isi Bern, para karyawan Al Jaber butuh penghidupan setelah kekacauan yang mendera kemarin"
Bern tidak bilang ingin membuat saham Al Jaber kembali anjlok, tapi Bern ingin berita nya sedikit di dingin kan sejenak, jika Bern saja terkejut apalagi Belle yang jiwa nya masih labil, dua takut pandangan Belle terhadap dirinya akan berubah 180°, Bern hanya takut gadis itu malah membencinya karena perjodohan konyol yang terkesan terlalu tergesa-gesa.
Bern saja butuh waktu untuk berfikir di usianya yang sudah tidak muda lagi, apalagi Belle yang jiwa nya masih terlalu labil, bagi bern gadis itu jelas punya masa depan yang cerah jika tidak menikah dengan nya, menikah di usia se muda itu jelas bukan pilihan bijak, sebab Bern ingin Belle menyelesaikan kuliahnya, melakukan aktifitas layak nya remaja seusia Belle, menikmati hari-hari Seperti anak seusia nya, bahkan mungkin berkencan dengan laki-laki pilihan nya sendiri.
Anak-anak seusia Belle jelas masih terlalu ingin menikmati kebahagiaan mereka, tanpa ikatan, tanpa komitmen, tanpa kebijakan soal bagaimana memenuhi seluruh kebutuhan suami seperti suami yang juga memenuhi kebutuhan istri nya.
Belle masih terlalu muda untuk berjuang bersama diri nya baik dikala suka maupun duka, mengimbangi semua keinginan nya bahkan memenuhi kebutuhan sek..sua.. lisme nya.
Dia tidak ingin gadis itu hidup dibawah tekanan yang belum seharusnya menjadi beban didalam hidupnya di umur yang masih begitu muda.
Sejenak Bern mengusap kasar wajahnya,dia berdiri di depan apartemen Kevin, mencoba berfikir kemana gadis itu pergi, tapi langkah kakinya jelas kehilangan arah, dia marah, yah sangat marah karena pada akhirnya dia belum mengenal baik gadis kecil itu, bahkan dia tidak tahu kemana gadis itu pergi di kala dirinya tertekan.
Dengan langkah gontai Bern memasukkan kode intercom kamar apartemen milik nya.
Titttt
Tiittt
Tiittt
__ADS_1
Kletekkk
Bern melangkah masuk, hendak menukar sepatu ke sandal rumah nya, tapi tiba-tiba bola matanya di kejutkan oleh sesuatu, belum lagi aroma masakan yang membuat diri nya tiba-tiba merasa lapar.
Dengan gerakan cepat tangan Bern menutup pintu apartemen nya lantas dia dengan cepat melangkah menuju ke dapur nya.
Seketika dia menyentuh pelan kedua pelupuk matanya dengan jemari-jemari nya, Bern harus berkata apa? marah kah? senang kah? atau bagaimana?
Gadis itu tampak sibuk berkutat didapur, menggunakan headset nya tanpa peduli apakah ada orang di belakang nya.
Secepat kilat Bern menyentuh tubuh Belle, membalikkan nya ke arah dirinya.
Belle jelas tersentak kaget, bola matanya membulat.
"Om?"
Bern dengan cepat melepaskan headset milik Belle, kedua tangannya menyentuh wajah imut itu.
"Kau membuat ku khawatir"
Ucap bern pelan.
__ADS_1
"Ya?"
Belle bertanya bingung ke arah Bern.