
Seketika Abigail mengumpat saat melihat apa yang ada dihadapannya bersama Hera, eve sudah tiba di samping Mereka menatap pemandangan yang ada di hadapan mereka.
Berlian yang mereka cari di ujung ruangan itu, dan mereka mesti melewati sinar inframerah terlebih dahulu.
"Kau tahu sayang? uang besar selalu punya cara untuk Di aman kan, dan kami selalu punya cara untuk melewati nya"
Bisik Hera di telinga Abigail.
"Jika kita menyentuh nya?"
Bisik Abigail cepat.
"Dia akan membakar kulit mu kemudian bisa jadi memotong seluruh bagian tubuh mu"
Bisik eve sambil mengedipkan sebelah matanya lantas eve mencoba melepaskan jepit rambut nya kemudian berusaha melewati garis inframerah itu.
Plassshhh
ssrrtttt
Cssshhhhh
Seketika jepit rambut itu terbakar habis menjadi debu.
"Oh my God"
Abigail menelan salivanya.
Hera terkekeh mendengar keterkejutan Abigail.
Untuk mereka Anggota DEMON GIRLS hal seperti ini bukan permasalahan besar, hidup mereka bahkan selalu di ambang kematian setiap kali mendapat misi dari ketua Black demon, mereka selalu harus bersiap dalam.
keadaan terburuk sekalipun.
"Matikan sistem bawahnya.
Hera bicara cepat kearah eve.
Eve secepat kilat membuka laptop yang di bawanya, dia tampak berusaha menyambung kan nya pada sesuatu.
"Vina, kau mendengar kan ku?"
Eve bertanya dari balik earphone nya.
"Aku sedang menghubungkan nya sayang"
Suara seorang perempuan terdengar dari seberang sana.
"Berikan waktu pastinya"
Tanya eve cepat sambil sibuk mengutak-atik laptop nya.
__ADS_1
"60 detik di mulai dari sekarang"
Seketika gambar waktu mundur tampil dari layar laptop eve.
"Garis inframerah harus tetap dilewati dengan apik, sayang"
Ucap Vina dari balik earphone.
Saat waktu masuk ke angka 0000:00.00
Secepat kilat Hera masuk melewati garis inframerah, menuju ke arah ujung untuk mendapatkan berlian yang mereka cari.
"Oh my God"
Abigail jelas tidak percaya dia harus mengikuti gerakan Hera dan eve untuk melewati haris semacam itu.
Aku harap ini hanya mimpi belaka, sial seharusnya aku mengikuti Murat dan bahrat.
Umpat Abigail dalam hati.
Dia fikir mengikuti perempuan akan menyenang kan, rupanya dia bahkan lebih tersiksa karena mengikuti sang perempuan seksi ber da..da montok itu ketimbang mengikuti para saudara dan uncle tercinta nya.
Pantas saja Bern lebih baik menghindari mereka saat pembagian tugas, seolah-olah laki-laki itu tahu mengikuti para perempuan cantik akan menyusahkan dirinya sendiri karena meregang dalam bahaya yang tidak pasti.
"Abigail, hello?"
Abigail menarik kasar nafasnya.
"Ok baby"
Ucap nya sambil berusaha menghilangkan rasa gengsi yang mendalam karena ngeri-ngeri sedap melihat garis inframerah dihadapannya itu.
Abigail berusaha mati-matian melewati garis-garis inframerah itu dengan cara cantik seperti eve dan Hera.
Jika ada yang bertanya bagaimana detak jantung nya saat ini, jawabannya adalah jauh lebih kencang dari pada saat dia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Dasar Sialan
umpat Abigail dalam hati.
Lalu pada akhirnya mereka melewati garis inframerah itu dengan selamat,hingga akhirnya mereka tiba di sebuah brankas besi berukuran raksasa yang harus dibuka dengan kode kunci sesuai angka nya.
Seolah-olah para perempuan itu telah terlatih bagi Abigail, eve dengan gerakan cepat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggung yang dibawanya sejak tadi. Sebuah alat untuk memeriksa detak jantung yang biasa digunakan dokter,dan entahlah seperi kotak wireless yang langsung eve letakkan.
Eve mencoba memejamkan bola matanya, dia tampak begitu konsentrasi mencoba mendengarkan suara dari dalam sana.
Secara perlahan eve memutar tombol yang ada
__ADS_1
Kreeetttt.
1 kali.
eve masih terus memejamkan bola matanya, mendekati telinga ke brankas besi tersebut.
Kreeetttt.
2 kali.
Abigail jelas berusaha menahan nafasnya.
Eve terus berusaha memutar kenop nya.
Kreeetttt.
3 kali.
Entah hingga berapa kali Abigail tidak paham.
Hingga akhirnya dalam sekali putaran lagi.
Kreeetttt.
Cletakkkkkk.
Brankas raksasa itu seketika terbuka sempurnah.
"Oh my God"
Abigail jelas tercekat.
Tumpukan emas, uang dan berlian, seketika kaki Abigail melemas.
"Oh baby you see? kita mendapatkan nya"
Eve jelas menampilkan kegembiraan mendalam, mengambil sebutir berlian di tangannya.
"Kita akan berlibur setelah ini"
Pekik Hera lantas dengan gerakan cepat 2 perempuan itu memasukkan semua nya kedalam tas yang telah mereka siapkan di dalam tas punggung eve tadi.
Ya Tuhan ku.
Abigail baru tahu betapa profesional nya 2 perempuan cantik di hadapannya itu.
__ADS_1
*******
catatan \= season Winda/eve/Hera di novel BUKAN CHARLIE'S ANGLE'S di akun outhor cari di profil yaaa, dan untuk siapa saja pemain-pemain yang nyangkut di winda dkk nggak usah terlalu di hiraukan di novel ini sbb hanya sekali lewat aja, di novel BUKAN CHARLIE'S ANGLE'S baru di jelaskan dengan rinci.