Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Terima kasih banyak atas jutaan kesabaran


__ADS_3

Asha langsung melesat masuk menuju ke ruangan yang mendominasi berwarna putih itu, Seketika air matanya tumpah saat melihat sang papa tampak berbicara dengan laki-laki yang beberapa waktu ini mampu membuat dirinya menangis tanpa henti.


Asha menghapus cepat air matanya yang tadi sempat tumpah, Kaki Asha mulai melangkah maju mendekati 2 sosok manusia yang paling penting dalam hidupnya itu.


"Nah si cengeng sudah tiba rupanya"


Papa nya tampak menoleh ke arah Asha, tersenyum geli melihat raut wajah putrinya itu.


"Kau tahu son? Dia benar-benar cengeng, meninggalkan ruangan operasi dan dengan tega meninggalkan semua tugas-tugas nya begitu saja"


Ledek papa nya sambil menoleh ke arah Eden.


Asha tampak malu, seketika wajahnya memerah dan dengan gerakan cepat sang Papa meraih tubuh Asha, memeluk hangat tubuh putri nya itu.


"Kau membuat dia ketakutan"


Ucap papa nya lagi sambil menoleh ke arah Eden.


"Maafkan aku, paman"


Ucap Eden pelan.


Papa Asha hanya mengembangkan senyuman nya, menepuk-nepuk punggung Asha lantas dengan cepat berkata.


"Tugas berikutnya papa serahkan pada mu"


Asha melepaskan pelukannya dari sang papa, dengan cepat dia langsung mengangguk ke arah papanya.


Lantas sang papa langsung beranjak dari sana, meninggalkan dua sosok itu tanpa banyak bicara.


Eden tampak mengembang kan senyuman nya, menatap dalam wajah Asha.


"Kemarilah"


Ucap Eden pelan, membentangkan tangannya secara perlahan.

__ADS_1


Seketika ekspresi Asha berubah, dia kembali menangis lantas masuk kedalam pelukan Eden, memeluk erat tubuh laki-laki itu tanpa berniat untuk melepaskan nya.


"Maafkan aku karena membuat mu khawatir"


Bisik eden sambil mengelus lembut rambut Asha.


"Aku fikir kau membohongi aku sekali lagi"


Isak Asha di dalam dada Eden.


"Bukankah aku sudah berjanji, akan pulang dan menemui orang tua mu, jadi bagaimana mungkin aku berani membohongi kamu"


Asha tertawa kecil, mencoba memejamkan bola matanya didalam dada bidang Eden.


"Terima kasih banyak karena mau menunggu ku, Asha"


Bisik Eden pelan sambil menyandarkan wajahnya ke kepala Asha, beberapa kali dia mencium puncak kepala Asha.


"Terima kasih banyak untuk sejuta batas kesabaran mu"


Asha hanya mengangguk pelan, dia tidak peduli seberapa lama dia telah menunggu, sebab sejak dulu dia tahu Eden pasti akan meraih tangannya, dia tahu Eden pasti tahu bagaimana perasaan nya, karena Asha mengerti laki-laki itu hanya butuh waktu untuk bisa menuntaskan semua urusannya terlebih dahulu.


Beberapa waktu kemudian kedua tangan Eden berusaha meraih wajah Asha, dengan gerakan lembut dia menghapus air mata Asha yang membasahi seluruh wajah gadis itu.


"Berjanjilah pada ku, Mulai hari ini tersenyum lah terus dan jangan pernah menangis lagi, aku selalu suka melihat mu tersenyum, terlihat begitu cantik dan indah"


Asha perlahan mengembangkan senyuman nya, menatap dalam bola mata laki-laki di hadapannya itu dengan penuh cinta.


Eden menyatukan kening nya dan kening Asha dengan lembut, laki-laki itu tersenyum sambil menatap dalam bola mata Asha, deru nafas mereka terdengar begitu beraturan saling menyahut, Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Eden dengan gerakan lembut mulai menautkan bibir mereka, tangan nya menahan tengkuk Asha dengan lembut, membuat ciuman hangat itu menjadi semakin dalam.


Asha perlahan memejamkan bola matanya, menikmati kebersamaan yang kemarin dia Fikir akan menghilang bersama angin.


Tapi tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


Klekkk

__ADS_1


"Kak"


"Upsss"


Terdengar suara saling bersahutan dari arah pintu, Asha dan Eden serentak melepaskan tautan bibir mereka, Secara bersamaan mereka menoleh.


Tampak Abigail dan deliyah berdiri di ambang pintu dengan perasaan serba salah.


"Kami akan kembali lagi nanti"


Ucap Abigail cepat.


"Seperti nya kami datang di waktu yang salah"


Deliya sang adik Asha bicara sambil menyentuh pelan tengkuknya, bukan dia yang berciuman tapi tidak tahu kenapa wajah nya yang memerah karena malu.


"Kami sudah selesai"


Eden terkekeh melihat ekspresi mereka berdua.


"Ishh"


Asha mencubit pelan perut Eden.


"Awwh sayang ini menyakitkan"


Ringis Eden cepat.


"Hah? maafkan aku"


Asha langsung mencoba melihat bagian mana yang dia Cubit barusan.


Oh shi.t


Abigail merasa gila dengan kemesraan dua sosok manusia itu.

__ADS_1


__ADS_2