Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Barang sulit yang pantas di perjuangkan


__ADS_3

Begitu tiba di apartemen bahrat secepat kilat Selena menghempaskan tubuhnya ke atas kursi sofa, rasa lelah dan pegal karena mengurusi semua hal untuk pernikahan mereka membuat tubuhnya terasa remuk.


Bahkan beberapa hari ini mereka harus mengimbangi soal urusan perusahaan dan persiapan pernikahan.


Mereka jelas tidak mungkin menyerahkan full semua urusan pada sang asisten, takut nya ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan, meminta bantuan Aishe terlalu banyak jelas tidak mungkin sebab Aishe tengah hamil muda, meminta bantuan Abigail lebih tidak care, Abigail saja belum menikah pasti ada banyak hal yang tidak dipahami oleh laki-laki itu.


Bahrat tampak mengulum senyum melihat ekspresi Selena, gadis itu langsung memejamkan bola matanya, lebih memilih diam dan mencoba melepaskan rasa lelah.


Laki-laki Itu menuju ke dapur mencari air hangat serta madu, beberapa buah segar juga makanan manis yang bisa meningkatkan semangat dan mengurangi rasa lelah.


Secara perlahan bahrat duduk disamping selena, mengelus lembut rambutnya.


"Kamu bisa mencoba madu hangat"


Ucap Bahrat pelan sambil terus mengelus rambut Selena.


Selena membuka pelan bola matanya, dengan rasa enggan dia mencoba duduk.


"Rasanya begitu lelah"


Keluh Selena berusaha bersandar ke belakang.


Bahrat tampak mengulum senyuman, menunggu Selena menghabiskan air madu hangat yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Ini akan menghilang setelah minum air madu, makan makanan berserat lantas mandi"


Ucap Bahrat cepat.


"Bisakah aku tidur sebentar? setelah itu aku baru mandi"


Tanya Selena cepat.


Bahrat mengangguk.


"Baiklah"


Setelah berkata begitu, dengan cepat dia mengangkat tubuh Selena.


Selena jelas terkejut dengan gerakan bahrat yang tiba-tiba menggendong tubuh nya ala bridal style, tangannya dengan cepat mengalungkan leher bahrat, karena takut terjatuh tiba-tiba.


"Kata nya lelah? aku bantu pindah kan ke kamar"


Bahrat bicara sambil tertawa renyah.


Selena tampak mengulum senyum.


"Ini membuat ku cukup terbantu dalam bergerak kemana-mana"

__ADS_1


Bahrat ikut tersenyum, terus berjalan menuju ke kamar, meletakkan tubuh Selena ke atas kasur secara perlahan.


Membenahi bantal di kepala Selena dan membiarkan gadis itu terlelap.


"Tidurlah, akan aku bangunkan sebelum waktunya makan malam, kamu bisa membersihkan diri lalu baru makan mendapatkan makan malam bersama"


Bahrat bicara sambil mencium lembut kening Selena.


"Hmmm"


Selena hanya ber hmm ria dengan bola mata telah terpejam sempurna.


Bahrat secara perlahan mencoba memijat pelan kaki selena, dia fikir urusan pernikahan mungkin tidak akan merepotkan, rupanya mengurus ke kantor nya cukup ribet, belum lagi harus menyesuaikan jadwal dengan bagian desainer, mengecek langsung lokasi yang akan di gunakan untuk acara, belum lagi Selena agak sulit menemukan desain undangan yang dia sukai sejak kemarin, bahkan mereka harus menemui keluarga lainnya untuk membicarakan soal pernikahan mereka agar tidak membuat keluarga lain terkejut tanpa meminta restu terlebih dahulu.


Beberapa hari ini yang jelas benar-benar menyita banyak waktu dan tenaga mereka secara full.


Sejenak Bahrat mencoba berbaring di samping Selena, dia mengulum senyumannya beberapa waktu, ingatan nya kembali ke masa kemarin.


Dia fikir tidak mungkin berjalan sejauh ini bersama Selena, mengingat bagaimana sulit nya di menjangkau gadis ini dulu.


Tapi bukan kah barang sulit memang pantas terus di perjuangkan? tidak sia-sia bahrat berjalan hingga sejauh ini, pada akhirnya penantian nya membuahkan hasil yang jelas sepadan.


Secara perlahan bahrat memeluk tubuh Selena, mencium puncak kepalanya beberapa waktu lantas memilih untuk istirahat sejenak melepas rasa lelah.

__ADS_1


__ADS_2