
Pesawat jet pribadi milik Bern terus memecah langit sejak pukul 10 pagi tadi, di sebuah ruangan kamar mendominasi berwarna putih dua sosok manusia tampak tertidur di atas kasur empuk yang telah didesain sempurnah didalam pesawat jet pribadi tersebut.
Bern sejenak beringsut membenahi posisinya, Seketika rasa kantuknya menghilang, secara perlahan dia menaikkan sedikit tubuhnya menghadap ke arah samping dengan tangan kiri menopang kepalanya, dia menatap dalam wajah Belle yang tertidur pulas di samping nya, perjalanan panjang lebih kurang 8 jam Indonesia-uni emirat Arab cukup membuat Bern berdebar-debar, dia hanya mampu mengulum senyum dengan perasaan nya sendiri, dia fikir mungkin dia sudah gila saat ini.
Semakin lama berada di sisi gadis kecil itu semakin membuat Bern menggila, realita nya dia bukan tidak menyukai gadis kecil itu tapi dia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan menggebu-gebu nya saat menatap bola mata indah milik Belle dan juga wajah polos itu.
Benar kata mommy nya tempo hari, pasangan yang lama-lama bersama pada akhirnya akan terbiasa, satu menghilang satu nya pasti akan merasa sesuatu yang lain telah hilang.
Secara perlahan Bern meraih telapak tangan Belle, dia menggenggam nya dengan erat lantas mencium punggung tangan Belle berkali-kali, kemudian dia meletakkan nya di pipi kanan nya dan mengelus nya dengan lembut sambil memejamkan pelan bola matanya.
Sejenak Bern menghela nafasnya panjang, ada rasa lega soal ingatan nya di masa kanak-kanak nya dulu, keluarga De Lucas Mayoritas penganut 2 agama, muslim dan Kristen, saat itu sang mommy menyakinkan dirinya untuk mengkhitan Bern bersama beberapa keluarga besar Uncle Ibra.
__ADS_1
"Mommy tidak memaksa mu untuk memeluk agama mana yang kamu mau, karena itulah berasal dari hati tapi mari pergi untuk melaksanakan khitan bersama putra uncle Ibra mu Seine"
"But mom"
"Kamu tahu, mommy punya firasat baik soal masa depan mu, kamu tidak akan menyesali nya"
Dan realita nya meskipun mommy nya bukan mommy kandung Bern, tapi seluruh firasat mommy nya selalu benar untuk dirinya sejak dulu. Bahkan apapun hal buruk dan baik akan terjadi pada nya, sang mommy selalu punya firasat soal dirinya.
Dan kali ini firasat mommy nya lagi-lagi benar, andai Bern tidak mendengar kan sang mommy nya dulu, tidak bisa bern bayangkan jika dia harus mengikuti acara khitan di usia nya yang sudah tua.
Seketika secara perlahan Bern menyentuh lembut wajah Belle, lantas dengan gerakan lembut pula dia mulai menyapu lembut bibir Belle yang masiy tertidur pulas, cukup lama hingga menenggelamkan dirinya dalam hasrat yang membara.
"Nggg"
__ADS_1
Belle tampak menggeliat, merasa sesuatu yang berat dan terus bergerak di bibir dan rongga mulutnya.
Bern melepaskan perlahan ciuman nya, menatap dalam wajah gadis itu dengan penuh cinta.
"Bee?"
Ucap Belle dengan suara seraknya.
"Tidurlah lagi, ini masih cukup panjang hingga tiba di uni emirat Arab"
Bisik bern pelan sambil terus mengelus lembut rambut Belle.
Gadis itu hanya tersenyum lantas kembali memejamkan bola matanya, memeluk erat tubuh Bern dan masuk ke dalam dekapan laki-laki itu.
__ADS_1
Bern kembali menarik dalam nafasnya, dia balik memeluk erat tubuh belle sambil berusaha ikut memejamkan bola matanya.