
Setelah membereskan semua koper-koper mereka, pada akhirnya Belle tampak sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka ditambah makan malam untuk untie Selena dan uncle bahrat.
Pasangan calon pengantin baru itu akan berkunjung ke apartemen Bern, melewati makan malam bersama sambil memberikan undangan pernikahan dan membicarakan soal jadwal pernikahan mereka agar tidak bentrok waktu dengan kepulangan Bern dan Belle ke uni emirat Arab.
Mereka ingin Bern dan Belle harus sudah kembali lagi ke Indonesia sebelum acara pernikahan mereka.
Tiba-tiba Belle langsung menoleh ke arah Bern yang tengah duduk di belakang nya, sibuk menyesap teh sambil membaca berita di tablet nya.
"My bee"
"Hmm?"
Bern langsung menoleh ke arah Belle.
"Seharusnya aku memanggil grandma dan grandpa untuk untie Selena dan uncle bahrat? bukan kah kamu memanggilnya uncle untuk uncle bahrat? kakak untuk uncle Murat? aku memanggil kakak nya bee dengan sebutan uncle Murat, artinya harusnya aku memanggil uncle bahrat grandpa?"
Pertanyaan Belle tampak berputar-putar, terdengar membingungkan tapi terlihat begitu imut saat Belle mengutarakan nya dengan ekspresi nya yang lucu.
Bern tampak tertawa geli.
"Ngg ...Aku serius"
Rengek Belle sambil memunyungkan bibirnya.
Ber masih tertawa geli.
"Bee.."
Belle akhirnya langsung membalikkan cepat tubuhnya, Secepat kilat Bern berdiri, mendekati Belle lantas memeluknya lembut.
"Itu benar sayang, grandma dan grandpa"
Ucap Bern pelan.
Belle tampak mengembang kan senyuman nya, lantas menoleh ke arah kanan Bern.
__ADS_1
"Terdengar cukup tua?"
Tanya Belle cepat sambil terkekeh pelan.
"Hmmm tidak juga, banyak orang yang sudah dipanggil seperti itu Di usia uncle bahrat"
Belle tampak berfikir.
"Usia grandpa bahrat sebenarnya berapa?"
Bern tampak berfikir,mencoba mengingat kenangan masa kecil yang bisa dia ingat.
"Saat aku masuk TK, uncle bahrat saat itu masih berada di bangku SD entah kelas berapa, saat itu grandpa masih ada, dia sering menggoda daddy kami dan berkata Adik mu hampir seusia putra mu, apa tidak malu?"
Kenang Bern.
"Daddy selalu menjawab dengan enteng.
"Bukan masalah, Saat dewasa dia bisa memimpin dengan baik para keponakan nya"
Ucap Bern masih terus memeluk Belle, sedangkan gadis itu tampak sibuk mengaduk sup daging nya.
Bern tampak mulai bercerita.
"Tapi rupanya tuhan berkehendak lain, grandma mengandung uncle bahrat di tahun berikutnya, lalu beberapa tahun kemudian Daddy bertemu mommy dan memutuskan untuk menikah lalu lahirlah Murat, disusul beberapa tahun kemudian kelahiran ku"
"Hingga akhirnya.."
Bern tampak menghentikan kalimat nya.
Belle dengan cepat berbalik, lantas menutup mulut Bern degan kedua tangannya.
"Tidak boleh mengingat kenangan lama yang buruk, bukankah itu hanya mimpi? tidak harus di kenang kembali"
Ucap Belle sambil menyentuh lembut wajah Bern.
__ADS_1
Seolah-olah tahu, masa lalu adalah kenangan pahit untuk Bern, Belle berusaha untuk membuat laki-laki itu melupakan nya.
Laki-laki itu mengembangkan senyuman nya, lantas mengelus lembut telapak tangan Belle ke wajah nya.
"Maafkan aku"
Ucap Bern pelan.
"Tidak ada yang perlu di maafkan"
Ucap Belle cepat.
"Itu hanya kenangan pahit yang akan kita anggap sebagai angin lalu, dan sekarang akan menjadi kenangan indah untuk kita ukir di hati kita"
Belle bicara sambil menatap dalam wajah Bern.
Bern sejenak menatap balik bola mata Belle, menyentuh lembut wajah gadis itu lantas berkata.
"Sayang kenapa pernikahan kita rasanya Lama sekali? oh tuhan ini membuat ku gila"
Celoteh Bern tiba-tiba sambil mencium bibir Belle cepat.
"Menghadapi kamu membuat aku begitu grrr"
ucap Bern dengan perasaan geram lantas lagi-lagi dia mencium bibir Belle sekali lagi.
"Sayang"
Rengek Belle karena terus di cium oleh Bern.
"Dan kamu membuat ku menjadi gila seketika"
Ucap Bern lagi lantas kembali mencium bibirnya.
"Bee...."
__ADS_1
Bern Terkekeh geli lantas dengan gerakan cepat dia memeluk erat tubuh Belle.
"Oh sayang"