Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Membuka lembaran baru "Melepaskan masa lalu''


__ADS_3

Disebuah ruangan sempit, pengap nan panas yang mendominasi berwarna putih, tampak susunan terali besi bersusun dan berjejer dari sudut ke sudut, Tiap ruangan sel itu di huni oleh 1 orang dengan berbagai macam kesalahan yang menimpa setiap orang karena kasus-kasus yang mereka bawa masing-masing.


Seorang laki-laki paruh baya tampak berguling diam dalam keheningan, kedua kakinya jelas telah menjadi lumpuh karena terjangan timah panas beberapa waktu yang lalu.


Beberapa kali laki-laki itu tampak berusaha menggeser posisi tidurnya, mencoba mencari kenyamanan ya g tidak pernah dia dapatkan lagi selama ini di dalam hidupnya.


Saat dua orang petugas penjaga sipir berjalan melangkah dengan gaya angkuhnya, salah satu dari mereka menggesek sebuah tongkat dalam gerakan kasar dari satu ujung menuju ke ujung satu nya, semua orang jelas menunggu dengan harap cemas, itu berarti ada dia kemungkinan.


Ada yang ingin mengunjungi tahanan atau ini waktunya mengikuti hukuman kematian atas segala dosa-dosa nya.


Trangggg


Traanggg


Traanggg


Traaangg



suara gesekan nya benar-benar Terdengar memekakkan telinga.


Lalu mereka berhenti di salah satu ruangan jeruji besi dimana laki-laki yang tengah terguling tidak nyaman itu tadi tertidur.


"Bangun brengsek"


Hanya kata itu yang terdengar dari balik bibir salah satu sipir, lantas satu sipir nya lagi membuka jeruji besi itu dengan gerakan cepat kemudian mereka berdua menyeret kasar sang penghuni nya yang sudah cukup tidak berdaya itu menuju ke arah luar.

__ADS_1


Meletakkan nya paksa dengan kursi roda yang awal nya dulu tidak ada, tapi di fasilitasa sang keluarga untuk mempermudah langkah kaki agar bisa pergi keluar ketika di kunjungi oleh salah satu keluarga.


Suara gesekan roda dari kursi roda terdengar ikut memekakkan telinga saat bergesek dengan lantai penjara, sang pemilik tubuh tampak diam dan pasrah dengan menopang tubuh itu yang rupanya makin lama makin ringkih.


Pada akhirnya mereka berhenti di sebuah ruangan kosong berbatas dengan terali besi dengan kaca penghalang kecil berlubang yang membatasi dunia lain di luaran sana.


Tampak seorang wanita telah duduk di sana menunggu kedatangan laki-laki itu sejak tadi.



Karl menaikkan ujung bibirnya saat menyadari jika Malika sang istri duduk disana menunggu kehadiran nya, membawa sebaris rantang yang entah isi nya apa saja.


Dengan perasaan enggan Karl meraih gagang telepon untuk penghubung mereka agar dapat berkomunikasi dengan lebih jelas, sedangkan di belakang Karl 2 sipir tadi tampak menunggu di ujung pintu, memastikan Waktu kunjungan di buat sesuai peraturan. Habis waktu maka mereka akan menyeret kembali laki-laki itu kembali ke dalam menuju ruangan jeruji besi milik laki-laki itu tadi.


"Bagaimana keadaan mu dalam beberapa waktu ini?"


"Apa aku terlihat baik-baik saja?"


Gaya angkuh dan pongah laki-laki itu tetap masih seperti dulu, meskipun kaki nya telah di hujani peluru, meskipun tubuh nya telah di siksa oleh para sipir, bahkan meskipun tuhan telah memberikan nya pelajaran yang sangat berarti, nyata nya tidak membuat pribadi laki-laki itu berubah menjadi lebih baik.


"Kau tetap tidak berubah, Karl"


Sang istri berkata dengan perasaan cukup sedih, namun Malika jelas enggan menampakkan kesedihannya.


Karl mendengus.


"Rupanya ucapan kakak ku dulu memang benar, aku telah salah melihat mu dari sudut pandang ku, bahkan meskipun tuhan telah memberikan ganjaran dan hukuman atas kejahatan mu, nyata nya sama sekali tidak mengubah pribadi mu, Karl"

__ADS_1


"Aku tidak perlu berubah untuk hal bodoh bukan? jika saja kau tidak mengacaukan semuanya, maka dapat aku pastikan aku telah memiliki Al Jaber saat ini, hidup bahagia tanpa mesti menanggung derita Seperti hari ini bukan?"


Karl bicara dengan nada yang begitu sombong.


Malika tampak tertawa terkekeh, lantas tiba-tiba dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam dompet nya.


"Sejak dulu kamu selalu beranggapan jika aku adalah satu-satunya penghalang mu untuk kamu mendapatkan Al Jaber"


Ucap Malika sambil menggeser sebuah kertas berbentuk undangan kepada Karl, laki-laki itu hanya melihat tanpa berniat mengambil nya.


"Aku akan menikah besok, maka di mulai dari besok aku bukan lagi istri mu Karl, tidak ada kunjungan lagi dari wanita pembawa sial ini, tidak ada lagi hubungan berarti di antar kita dab tidak ada lagi alasan ku untuk mengunjungi kamu setelah ini"


Ucap Malika sambil berusaha berdiri dari duduknya.


"Apa?"


Karl tampak terkejut, menatapi wajah Malika dengan perasaan tidak percaya.


"Kauuuuu"


Karl tampak begitu marah.


"Lea ada bersama ku, dan laki-laki itu merupakan laki-laki pilihan putri mu, kami akan membuka lembaran baru setelah hari ini, Karl"


Setelah berkata begitu, Malika dengan cepat memutar tubuhnya, meninggalkan Karl dengan sejuta kemarahan nya.


"Malika...kau tidak bisa melakukan semua ini pada ku"

__ADS_1


Teriak Karl penuh kemarahan, mencoba untuk berdiri namun sia-sia, 2 sipir tadi dengan gerakan cepat meraih kursi roda Karl, menahan tubuh laki-laki itu agar tidak bergerak kemana-mana.


__ADS_2